Larangan Karhutlah Mengakibatkan Padi Tak Tertanam

Jumat, 6 Oktober 2017
Ilustrasi

Baturaja, Sumselupdate.com – Beberapa wilayah di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) mulai diguyur hujan. Salah satunya adalah wilayah Kecamatan Ulu Ogan. Namun, musim hujan ini tak begitu disambut gembira oleh masyarakat.

Lantaran masyarakat belum bisa menanam padi. Penyebabnya, kayu-kayuan besar bekas membuka lahan sebelumnya, masih berserakan. Keterlambatan musim tanam padi gunung itu disebut-sebut sebagai dampak dari larangan pembakaran hutan dan lahan (Karhutla) oleh pemerintah.

Read More

Sehingga, pada musim kemarau lalu masyarakat tidak dapat membersihkan lahan yang mereka buka dengan cepat. “Harusnya musim kemarau kemarin lahan sudah dibakar hingga bersih. Dan humus tanah bertambah. Lalu masuk musim hujan ini harusnya kami bisa nugal (menanam padi-red),” kata Bambang, salah satu warga di Ulu Ogan.

Warga di sana menurutnya, merasa takut untuk membakar lahan karena harus berhadapan dengan hukum. Oleh karena itu mereka terpaksa mengorbankan lahan mereka tidak bisa digarap setelah dibuka pada awal musim penghujan ini.

“Jangan kan menanam padi, menanam sayuran saja tidak bisa, karena tanah tidak terlalu subur. Hanya beberapa jenis sayuran bisa tumbuh. Padahal musim hujan ini harusnya sayuran sudah bisa ditanam. Bahkan ada yang sudah bisa dipanen,” imbuh Bambang.

Warga pun mengaku mengalami kerugian akibat terlambat atau bahkan tidak bisa menanam padi. Ya, biasanya dari satu hektar lahan, warga bisa memperoleh 5 – 6 kuintal gabah kering saat panen. “Lumayan membantu kalau bisa ditanami padi. Minimal selama menunggu panen kopi kami tidak perlu membeli beras lagi,” katanya.

Sementara, sebagian masyarakat yang sudah terlanjur membuka lahan, kini tetap berupaya meskipun tidak bisa menanam padi. Diantara mereka banyak yang langsung menanam kopi yang merupakan komoditi utama masyarakat di kecamatan ini.

“Kami tidak bisa tanam padi karena kami perkirakan tidak akan tumbuh subur lantaran tanahnya tidak dibakar terlebih dahulu. Tapi kita tetap tanam kopi. Mudah-mudahan bisa tumbuh meskipun tiga tahun kemudian baru bisa panen,” timpal Indra, warga lainnya. (wid)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts