Muarabeliti, Sumselupdate.com – Bupati Mura, Ir H Hendra Gunawan mengajak masyarakat untuk meningkatkan potensi usaha lokal yang berada di masing-masing desanya.
Ajakan itu guna menunjang perekonomian masyarakat yang saat ini bisa dikatakan sedang turun, akibat anjloknya harga karet.
Menurutnya, dengan anjloknya harga karet yang sudah sekian lamanya terjadi, sehingga warga harus bisa selektif dengan melihat semua kondisi dan setiap peluang usaha yang ada, dengan begitu maka dipastikan perekonomian masyarakat akan lebih maju dan berkembang.
“Jadi artinya jangan sampai masyarakat ini bergantung pada satu penghasilan. Lihat sekecil apapun peluang usaha yang mumpuni untuk dijalankan. Silahkan jalani, selagi itu bermanfaat,” tuturnya saat meninjau usaha jamur tiram yang digeluti oleh salah satu warga Desa Tegal Sari, Kecamatan Megang Sakti, belum lama ini.
Salah satunya lanjut dia, seperti yang ditekuni oleh Aris Prima yakni dengan memanfaatkan limbah gesekan kayu, dengan cara membuat tempat-tempat untuk budidaya jamur tiram.
Dengan begitu, masyarakat tidak hanya bergantung pada penghasilan karet saja, sehingga ketika harga karet anjlok masih ada penghasilan di sektor lainnya, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Harus jeli melihat peluang, apalagi di desa-desa itu banyak sekali bahan-bahan yang biasanya hanya dibuang saja, bisa dimanfaatkan untuk diolah dan dikelola menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan nilai ekonomis,” ucapnya.
Sementara itu, Aris Prima salah seorang pembudi daya jamur tiram di Desa Tegal Sari, Kecamatan Megang Sakti mengaku sudah hampir dua tahun ini mengeluti usaha jamur tiram tersebut, dan untuk penghasilannya cukup lumayan dan bisa membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Alhamdulillah dan hasilnya juga lumayan. Pertama kalinya usaha ini suami saya belajar di Lampung. Untuk bisa dipanen jamurnya itu berumur 40 hari mulai pembibitan, dan satu tempat bisa sampai 10 kali buah, tergantung penyiraman,” ungkapnya.
Diakuinya, dalam sehari dirinya bisa menjual hingga 40 kilogram, dimana untuk wilayah penjualan lebih banyak di luar kecamatan yakni di kawasan Merasi dan bahkan ke Kota Lubuklinggau. Hal tersebut dikarenakan untuk masyarakat setempat hal itu kurang dimunati.
“Sedangkan untuk harganya kita jual per kilogramnya dengan harga Rp20 ribu dan kalau kepada penjual kita jual dengan harga Rp17 ribu per kilogramnya. Ya lumayanlah untuk menutupi kebutuhan sekeluarga, apalagi harga karet sedang najlok seperti ini,” tutupnya. (ain)











