Optimasi Investasi, PTBA Rambah Proyek Pembangkit Listrik

Sabtu, 29 Juli 2017
Gedung kantor PT Bukit Asam (Persero) Tbk .

Muaraenim, Sumselupdate.com – PT Bukit Asam (Persero) Tbk terus melakukan efisiensi baik dari sisi operasi atau produksi maupun optimasi investasi.

Optimasi produksi yang dilakukan melalui operasional tahunan maupun perencanaan jangka panjang untuk memenuhi produk batubara yang mempunyai spesifikasi sesuai kebutuhan pasar.

Read More

Sedangkan optimasi investasi diprioritaskan kepada aktivitas yang menunjang operasional tambang.

Sejak tahun 2013, PTBA telah mengoperasikan secara penuh PLTU 3x10MW milik sendiri dalam memenuhi kebutuhan listrik untuk pengoperasian tambang di Tanjung Enim.

Berlanjut ke tahun 2014, PTBA juga mengoperasikan PLTU 2x8MW secara penuh untuk pengoperasian pelabuhan Tarahan di Lampung.

Direktur PTBA, Arvyan Arifin dalam siaran persnya, Jumat (28/7/2017) mengatakan, pengoperasian kedua PLTU milik sendiri ini, sebagai upaya untuk menekan biaya produksi dan optimalisasi peralatan penambangan yang menggunakan listrik, agar mampu beroperasi penuh tanpa ketergantungan sumber tenaga listrik dari pihak ketiga.

“Di sisi lain, dengan telah selesainya proyek peningkatan kapasitas sandar pelabuhan Tarahan yang baru dengan kapasitas sampai 210.000 DWT, akan memberikan daya saing yang kompetitif dari muatan kargo yang lebih besar dengan ongkos angkut yang lebih kompetitif,” ujarnya.

Selain itu, perusahaan jasa pertambangan PT Satria Bahana Sarana (SBS) yang telah diakuisisi pada 21 Januari 2015 melalui anak perusahaan PT Bukit Multi Investama (BMI) ditargetkan pada tahun 2017 dapat berproduksi sebesar 36 Juta BCM.

“Hal ini merupakan bagian dari strategi terkonsolidasi PTBA dalam rangka efisiensi dengan tujuan menurunkan biaya produksi penambangan. Sinergi antar anak usaha dengan perseroan adalah dalam rangka terjaminnya dukungan operasional kegiatan bisnis utama dan pengembangan usaha grup perseroan secara berkelanjutan,” tegas Arvyan.

Pada tahun 2017, PTBA menganggarkan Rp2,02 triliun, terdiri dari Rp1,48 triliun untuk investasi rutin dan non rutin, dan sisanya Rp0,52 triliun untuk investasi pengembangan.

Untuk investasi pengembangan, di antaranya Proyek PLTU Sumsel 8 (Banko Tengah 2×620 MW) yang berada di Muaraenim, Sumatera Selatan akan segera dibangun  PTBA bersama China Huadian.

Di mana pada Maret 2015 lalau, PTBA melalui anak perusahaannya, PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) telah menandatangani Loan Agreement senilai USD.1,2 miliar bersama The Export-Import Bank Of China (CEXIM).

Progress saat ini adalah amandemen PPA dengan PLN mengenai perubahan transmisi High Voltage Direct Current (HVDC), konstruksi akan dimulai tahun 2018 serta Commercial Operation Date (COD) tahun 2021. Hal tersebut sejalan dengan pembangunan transmisi dari New Aurduri, Jambi ke Muaraenim, Sumatera Selatan dan PLN telah menunjuk PT Waskita Karya sebagai pelaksananya,” papar Arvyan.

PTBA juga akan membangun PLTU dengan kapasitas 2×300 MW di Kabupaten Indragiri Hulu Riau yang memanfaatkan lebih dari 4 juta ton batubara per tahunnya dari tambang PTBA di Peranap.

PLTU menggunakan teknologi proven yang akan dapat membangkitkan tenaga listrik dengan harga kompetitif sesuai aturan Pemerintah.

PTBA juga akan mengandeng PLN untuk membangun PLTU dengan kapasitas 2×300 MW di Tanjung Enim yang memanfaatkan lebih dari 3 juta ton batubara per tahunnya dari tambang PTBA di Tanjung Enim.

Proyek PLTU Halmahera Timur kapasitas 2×40 MW merupakan salah satu proyek sinergi BUMN, dalam hal ini PTBA sebagai perusahaan energi akan bekerjasama menyediakan pasokan kebutuhan listrik pabrik baru Feronikel Smelter milik ANTAM yang berlokasi di Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara.

“Proyek sinergi BUMN lainnya adalah PLTU Kuala Tanjung kapasitas 2x350MW yang merupakan proyek strategis oleh PTBA bersama INALUM untuk menyediakan pasokan kebutuhan listrik pabrik ekspansi Aluminium Smelter milik INALUM yang ditargetkan dapat mulai beroperasi pada tahun 2021,” kata Arvyan.

Perusahaan batubara terbesar di Indonesia ini juga akan mengembangkan Proyek CBM di dalam wilayah pertambangan batubara Tanjung Enim, yang saat ini sedang dilakukan kegiatan Dewatering (Production Test) pada 5 sumur bor untuk persiapan produksi gas metana batubara. Proyek ini akan berproduksi dengan kapasitas 25 MMSCF (Million Standard Cubic Feet per Day) atau setara untuk membangkitkan tenaga listrik 100 MW dengan cadangan potensial sebesar 0,8 TCF (Trillion Cubic Feet).

Untuk optimasi pengangkutan batubara, PTBA bekerja sama dengan PT KAI mengembangkan proyek angkutan batubara jalur kereta api baru yakni Tanjung Enim ke Perajin dengan kapasitas 10 juta ton/tahun, pengembangan fasilitas muat tongkang Dermaga Kramasan dengan kapasitas 5 juta ton/tahun serta Tanjung Enim ke Srengsem/Lampung (shortcut) dengan kapasitas 20 juta ton/tahun (BATR atau bekerjasama dengan KA Logistik).

Selanjutnya kerja sama juga dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas jalur kereta yang sudah ada (existing) meliputi: jalur kereta api Tanjung Enim ke Pelabuhan Tarahan dengan kapasitas 25 juta ton/tahun, serta Tanjung Enim ke Kertapati dengan kapasitas 5 juta ton/tahun.

PTBA juga bekerja sama dengan PT Pusri melakukan proyek Coal Gasification dalam upaya memanfaatkan batubara lignite sebesar 1,5 juta ton / tahun. Pabrik berkapasitas 2600 ton/day urea yang berlokasi di Banko Tengah blok A. (azw/*)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts