PALI, Sumselupdate.com – Penyebab naiknya harga garam beryodium di pasar-pasar tradisional di Kabupaten PALI ternyata disebabkan oleh adanya keterlambatan pengiriman bahan dapur yang memiliki rasa asin tersebut. Sehingga membuat stok garam di PALI menipis dan harga menjadi naik.
“Diketahui ternyata ada keterlambatan pengiriman dari Pulau Jawa ke Sumatera. Yakni di Pelabuhan Merak yang kami dapat kabar mengalami hambatan sekitar tiga hari dan menyebabkan suply menjadi terhambat,” ujar Lihan Umar, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagprin) PALI ditemui usai rapat paripurna DPRD PALI.
Ditambahkannya, tidak hanya PALI yang mengalami hal itu, hampir seluruh kabupaten kota yang ada di Sumatera Selatan juga mengalaminya.
“Kalau garam, kita dapat kiriman atau stok dari Jakarta, sehingga, kalau dari pengiriman pusatnya terhambat maka harga jadi meningkat. Hampir seluruh kabupaten kota mengalamai hal yang sama. Akan tetapi, kami tidak tinggal diam, kami juga mengajukan untuk penambahan stok dan sudah koordinasi dengan bulog Indonesia,” katanya.
Sebelumnya diberitakan bahwa sejumlah ibu rumah tangga (IRT) di Kabupaten PALI merasa terkejut saat hendak membeli garam kasar beryodium di Pasar Inpres Pendopo, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI.
Pasalnya, tanpa pemberitahuan dan sebab yang pasti tiba-tiba harga garam meloncak drastis. Dari harga yang sebelumnya satu bungkus garam yang beratnya 250 gram hanya Rp 1.500,00 per bungkus tapi kini harganya menjadi Rp 2.500,00 per bungkus.
Sontak, naiknya harga bahan dapur yang rasanya asin itu membuat ibu-ibu di pasar Tradisional kaget. (adj)











