PALI, Sumselupdate.com – Suasana duka masih menyelimuti keluarga pelajar asal Kabupaten PALI yang tewas terkena sambaran petir ketika berkemah di Bukit Besar, Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Merapi Selatan, Kabupaten Lahat.
Isak tangispun masih tampak di lingkungan keluarga, tetangga, dan kerabat meski jenazah ketiga korban sudah dikebumikan di masing-masing desa asalnya.
Tak terelakkan pula di wajah Wardiah, ibu dari Sangkut, salah satu pelajar tewas tersambar petir yang tinggal di Desa Gunung Ayu, Kecamatan Penukal Kabupaten PALI.
Wajah perempuan paruh baya itu tampak masih kosong, lantaran masih tidak menyangka anaknya yang memiliki sejumlah prestasi itu meninggalkan ia secepat itu.
Bahkan, saat Wardiah menceritakan ketika sang anak hendak meminta izin dengan dirinya, air matanya pun tak terbendung lagi menetes. Karena, kata Wardiah, prilaku Sangkut tidak seperti biasanya.
“Biasanya kalau mau pergi hanya permisi dan izin pergi saja, sedangkan kemarin sebelum berangkat ke Lahat Sangkut mengatakan ‘Ibu aku pamit mau berangkat ke Lahat’ sembari sujud dan minta izin,” ucap Wardiah menirukan anaknya saat meminta izin.
Terpisah, Rozali, orangtua Muhamad Ramadhan Pratama yang juga salah satu korban juga tampak merasakan duka yang sangat mendalam.
Kepada Sumselupdate.com, Rozali menuturkan bahwa anaknya berpamitan mengisi libur sekolah dengan pergi ke Lahat bersama enam temannya yang sama-sama satu sekolah.
“Mereka menyatar mobil untuk diantar ke Lahat, berangkat dari rumah sekitar pukul 7.00 pagi. Dia (M.Ramadhan-red) berpamitan untuk mengisi liburan dengan mendaki gunung telunjuk di Lahat. Tapi sekitar pukul 23.00, kami mendapat kabar bahwa rombongan anak kami terkena musibah,” paparnya, Minggu (12/3).
Dikatakannya, bahwa malam itu juga ia sudah mengetahui bahwa anaknya telah meninggal dunia akibat tersambar petir. “Begitu kami mendapat kabar, langsung menuju Lahat, untuk membawa pulang jenazah anak kami,” tuturnya. (adj)











