Pontianak, Sumselupdate.com – Rencana pembangunan tugu kuntilanak setinggi 100 meter yang berlokasi di tepian Sungai Kapuas dekat Jembatan Kapuas I, Kalimantan Barat, menuai polemik. Selain kalangan guru sejarah, pihak legislatif provinsi setempat juga menolak wacana yang digulirkan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Kalbar itu.
Para guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah tingkat SMA se-Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu (21/1) pun berdiskusi terkait wacana itu.
“Dari diskusi ini kami para guru semua sepakat menolak wacana Pemprov Kalbar, karena kota kami ini bukan kota hantu,” kata Sekretaris MGMP Sejarah Kota Pontianak, Solihin SPd, seperti dilansir jppn.com, Senin (22/1).
Solihin menjelaskan, secara historis Kota Pontianak dibangun atas dasar doa dan kerja keras. Dimulai dari perambahan hutan belantara yang dilakukan Sultan Abdurrahman, hingga akhirnya berkembang seperti sekarang ini.
“Kuntilanak hanya terdengar suaranya saja, kemudian disimpulkan lah itu hantu, wujudnya tidak nyata. Dari sisi pendidikan pun menurut kami tidak ada yang bisa dipelajari,” jelasnya.
Dia menambahkan, sejarah pada umumnya harus mengandung dua hal, yakni tokoh dan peristiwa. Ketika dua unsur tersebut ada, maka sejarah dapat mengandung makna. Baik ditinjau dari sisi peradaban dan sosial masyarakat.
“Kami meminta agar Pemprov mengedepankan logika. Jika alasannya (dengan dibangunnya tugu kuntilanak) bisa menyerap PAD dari sektor pariwisata, menariknya di mana? Karena abstrak, sesuatu yang abstrak tidak menarik, berkurang iman iya,” katanya.
MGMP Sejarah Kota Pontianak, lanjutnya, juga “menantang” dialog terbuka Kepala Disporapar Kalbar, Kartius, untuk mencari titik terang, baik dari sisi sejarah, sosial maupun kemanfaatannya.
Jika ditemukan jalan buntu terkait dialog itu, tegasnya, para guru sejarah se-Kota Pontianak ini pun siap menggelar aksi penolakan.
Sementara itu, anggota DPRD Provinsi Kalbar, Zulkarnaen Siregar, SH juga angkat bicara soal wacana pembangunan tugu kuntilanak itu,
“Mungkin pernyataan yang diucapkan Pak Kartius itu hanya sekadar guyonan, tidak serius. Kalau pun diseriuskan Pak Kartius, tidak mungkin Walikota mau. Karena tidak wajarlah kalau dibikin tugu kuntilanak. Kalau memang ada kuntilanak, ngape ndak bikin antu bangket,” ujar Zulkarnaen.
Menurutnya, semestinya pemerintah membangun tugu yang sesuai dengan sejarah Kota Pontianak. Misalnya Tugu Khatulistiwa.
“Kalau kita bikin tugu yang aneh-aneh nanti seolah-olah Kota Pontianak ini berhantu serta menimbulkan kesan angker sehingga menakutkan anak-anak sekolah yang masih belum tahu apa itu kuntilanak,” ucapnya.
Karena itu, dia menyarankan, daripada membangun tugu kuntilanak lebih baik membangun tugu meriam karbit yang sudah terkenal hingga ke penjuru Nusantara. Apalagi setiap menyambut bulan puasa Ramadan hingga malam Lebaran Idul Fitri digelar Festival Meriam Karbit di sepanjang Sungai Kapuas. (shn)











