Chiemong: Telinga Saya Gatal Tidak Dengar Suara Mesin Potong Batu

Rabu, 11 Januari 2017
Pengrajin sedang mengasah batu akik.
Lubuklinggau, Sumselupdate.com – Fenomena batu akik memang tak se-booming beberapa tahun lalu. Namun, hingga kini masih banyak pengrajin dan peminat batu akik di Indonesia. Mungkin seleksi alam yang menjadi pembeda antara pecinta sejati batu akik dengan sekadar penikmat trend.
“Sejak tahun 2013 sampai sekarang saya masih tetap ngasah batu akik. Tak tahu mengapa, kuping saya rasanya gatal sekali kalau tidak mendengar mesin potong dan asah berbunyi meski sehari saja,” ujar Ari Wijaya (35), salah satu pengrajin batu akik di Lubuklinggau.
Sekitar tahun 2014 dulu, saat trend batu akik naik hampir diseluruh Indonesia, pria akrab disapa Cimong ini mampu mengasah hampir 10 batu setiap harinya. Omzet pemasukan perhari pun mencapai jutaan rupiah. “Minimal satu hari masuk uang Rp 1 juta. Saya tidak hanya jual batu akik sudah jadi, tapi jual bahannya juga,” bebernya.
Kini setelah pamor batu akik mulai redup, Chiemong mengaku hanya mampu mengasah sekitar 3 batu akik. Kondisi ini diperparah sulitnya mendapat bahan batu akik yang bagus. “Kalau sekarang paling satu minggu uang maksimal masuk sekitar Rp 1 juta, tapi itu tidak tentu juga. Saya hanya berharap geliat batu akik kembali naik,” pintanya.
Penggiat batu akik lainnya, Yopi (26) mengakui hal yang sama. Akan tetapi, dia lebih fokus menjual bahan-bahan batu akik. “Dari dulu sampai sekarang saya masih sering ke wilayah Muratara untuk mencari bahan batu akik. Tapi bedanya kalau sekarang sesuai permintaan orang saja,” tandasnya. (and)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts