134 Siswa SMPN 6 Ladur Tetap Belajar di Tenda Darurat Pascagempa Manggarai

Writer: - Minggu, 4 Oktober 2026
Para siswa SMPN 6 Ladur mengikuti kegiatan pendampingan psikososial dan promosi kesehatan di tenda darurat setelah bangunan sekolah rusak akibat gempa di Kabupaten Manggarai, NTT, Sabtu (3/10/2026). (Foto; Sumselupdate.com/Nadia Soraya)

Manggarai, Sumselupdate.com — Semangat belajar 134 siswa SMPN 6 Ladur, Desa Ladur, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak surut meski mereka harus mengikuti kegiatan belajar mengajar di tengah keterbatasan pascagempa.

Pada Sabtu (3/10/2026), suasana sekolah berlangsung di tenda darurat setelah bangunan SMPN 6 Ladur mengalami kerusakan berat akibat gempa dan tidak lagi dapat digunakan.

Read More

Di tengah kondisi tersebut, para siswa mendapat pendampingan dari tim Psychosocial Support System (PSS) dan Promosi Kesehatan (Promkes) Palang Merah Indonesia (PMI).

Kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan menghibur para siswa, tetapi juga membantu mereka menghadapi dampak psikologis setelah mengalami bencana.

Kepala SMPN 6 Ladur, Marcelinus Dahus, mengatakan kondisi pascagempa menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah. Terlebih, para siswa dalam waktu dekat akan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM).

Keterbatasan tenda sebagai ruang belajar membuat sekolah harus menerapkan penjadwalan masuk. Ruang yang tersedia belum mampu menampung seluruh siswa sekaligus. Selain itu, kondisi di dalam tenda juga cukup panas sehingga kurang nyaman untuk kegiatan belajar.

Untuk siswa kelas 9, kehadiran setiap hari menjadi perhatian karena mereka membutuhkan persiapan menghadapi TKA dan AKM.

Karena itu, pihak sekolah mengundang tim PSS PMI untuk memberikan pendampingan psikososial kepada para siswa. Pendampingan diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan akibat bencana sekaligus menghadirkan kembali suasana belajar yang menyenangkan.

Sebanyak 134 siswa dibagi menjadi dua kelompok. Siswa kelas 8 dan 9 mengikuti kegiatan PSS, sedangkan siswa kelas 7 mendapatkan layanan Promkes.

Dalam kegiatan PSS, para siswa diajak bernyanyi dan menari bersama relawan. Mereka juga mengikuti permainan ular tangga yang dikemas dengan materi psikoedukasi tentang kebencanaan.

Melalui permainan tersebut, siswa diajak mengenali berbagai reaksi emosi yang mungkin muncul setelah mengalami situasi traumatis akibat bencana.

Sementara itu, siswa kelas 7 mendapatkan edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Salah satu materi yang diberikan adalah praktik mencuci tangan dengan benar.

Keceriaan perlahan memenuhi tenda tempat kegiatan berlangsung. Senyum dan gelak tawa siswa terdengar ketika mereka bergantian mengikuti permainan ular tangga bersama para relawan.

Untuk sementara waktu, tenda darurat yang biasanya menjadi ruang belajar di tengah keterbatasan berubah menjadi tempat bermain sekaligus belajar yang menyenangkan.

Salah seorang siswa, Juanita Wela, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Menurut dia, pendampingan PSS membuat para siswa merasa terhibur sekaligus memperoleh pengetahuan baru tentang cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa.

Ia juga memahami bahwa rasa takut, sedih, hingga menangis merupakan reaksi yang wajar ketika seseorang menghadapi bencana.

Bagi para siswa, kesempatan untuk bermain dan tertawa bersama menjadi momen penting di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.

Semangat mereka untuk bersekolah juga terlihat dari perjuangan sebagian siswa yang harus menempuh perjalanan cukup jauh menuju sekolah. Bahkan, ada siswa yang harus melewati hutan dan kebun.

Meski kondisi perjalanan tidak mudah, hal tersebut tidak menyurutkan keinginan mereka untuk tetap datang dan mengikuti pembelajaran.

Marcelinus mengatakan, penyediaan ruang belajar yang aman dan layak bagi para siswa saat ini menjadi salah satu prioritas sekolah.

Kabupaten Manggarai kini memasuki fase pemulihan pascagempa. Namun, proses untuk kembali ke kondisi normal masih membutuhkan waktu. Sejumlah infrastruktur masih harus diperbaiki dan dampak bencana masih dirasakan masyarakat.

Di tengah proses tersebut, aktivitas masyarakat perlahan kembali berjalan. Anak-anak pun mulai kembali ke sekolah, meski sebagian masih harus belajar dalam kondisi darurat.

Bagi siswa SMPN 6 Ladur, kembali belajar bukan sekadar menjalankan rutinitas pendidikan. Di tengah tenda darurat dan berbagai keterbatasan, sekolah menjadi ruang untuk membangun kembali rasa aman, menumbuhkan harapan, dan mengembalikan keceriaan yang sempat terganggu akibat bencana.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts