Pangkalpinang, Sumselupdate.com – Warung kopi bukan sekadar tempat menikmati minuman, tetapi juga ruang pertemuan bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, tradisi itu masih terasa di Warung Kopi (Warkop) Akew yang menyimpan perjalanan sejarah sejak era 1930-an.
Berada di Jalan Sudirman, tepatnya di pertigaan Jalan Balai atau kawasan Kampung Katak, Warkop Akew dikenal sebagai tempat berkumpulnya berbagai kalangan. Pejabat, pengusaha, pekerja, hingga masyarakat umum duduk bersama menikmati kopi dan berbincang tentang beragam hal.
Di warung sederhana ini, percakapan dapat mengalir dari urusan pekerjaan, bisnis, dan politik hingga cerita kehidupan sehari-hari. Jabatan maupun profesi tidak menjadi penghalang untuk berbaur di meja kopi.
Salah satu pengunjung yang menyempatkan diri singgah adalah Direktur Perumda Tirta Batu Mentas (PDAM) Kabupaten Belitung, Munandar Motong. Sebelum kembali ke Belitung, ia menyempatkan diri menikmati kopi di Warkop Akew.
Kepada Sumselupdate.com, Jumat (23/10/2026), Munandar mengatakan cita rasa kopi di warung tersebut mengingatkannya pada kopi Kong Djie yang dikenal di Belitung.

“Kalau ditanya soal rasa, sama seperti kopi Kong Djie Belitung. Kalau di Bangka, di sini Akew tempatnya,” kata Munandar.
Menurutnya, daya tarik Warkop Akew bukan hanya terletak pada cita rasa kopi, melainkan juga suasana pergaulan yang terbuka bagi siapa saja.
“Ya, lebih familiar. Semua kalangan, mulai dari gubernur sampai tukang parkir, semuanya berbaur di warung kopi ini,” ujarnya.
Berawal dari Usaha Keluarga pada 1930-an
Di balik kesederhanaannya, Warkop Akew memiliki sejarah panjang. Pemiliknya, In In, menuturkan usaha tersebut bermula dari neneknya sekitar era 1930-an.
Pada masa itu, warung tersebut belum menggunakan nama Akew. Usaha keluarga itu kemudian sempat berhenti beroperasi sebelum dibuka kembali pada era 1980-an oleh orangtua In In. Setelah itu, pengelolaannya diteruskan oleh In In hingga sekarang.
“Dulu awalnya pemiliknya nenek kita, kurang lebih tahun 1930-an. Kami sempat tutup, kemudian buka kembali pada tahun 1980-an oleh orangtua kami. Sampai sekarang diteruskan oleh anaknya, yaitu saya,” ungkap In In.

Ia menjelaskan, nama Akew mulai digunakan ketika usaha keluarga tersebut kembali beroperasi. Sejak saat itu, warung kopi ini terus menjadi tempat persinggahan pelanggan yang ingin menikmati kopi sekaligus berbincang dengan teman maupun rekan kerja.
Menu Sederhana, Pelanggan Tetap Berdatangan
Warkop Akew mempertahankan pilihan menu yang sederhana. Pengunjung dapat memesan kopi hitam, kopi susu, hingga soda susu. Untuk makanan pendamping, tersedia mi instan, aneka kue basah, serta telur ayam kampung setengah matang.
Meski tidak menawarkan banyak pilihan, warung ini disebut ramai dikunjungi setiap hari. Sebagian pelanggan bahkan telah datang sejak lama dan menjadikan Warkop Akew sebagai tempat rutin untuk berkumpul.
In In menilai kecocokan rasa menjadi salah satu alasan pelanggan terus kembali.
“Setiap hari selalu ramai. Pelanggan kita sejak lama sering berkumpul dan ngopi di sini, mungkin karena rasa kopinya cocok di lidah,” tuturnya.
Untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan, pihaknya berupaya menjaga konsistensi cita rasa sekaligus memberikan pelayanan yang baik agar pengunjung tetap merasa nyaman.
Bertahan di Tengah Perkembangan Tempat Kuliner
Di tengah berkembangnya berbagai tempat kuliner modern, Warkop Akew tetap mempertahankan kesederhanaannya. Warung ini bukan hanya menjadi tempat menikmati kopi, tetapi juga ruang interaksi sosial bagi masyarakat dengan latar belakang berbeda.
Aroma kopi, obrolan antarpengunjung, dan kebiasaan berkumpul menjadi bagian dari keseharian yang terus dipertahankan di warung tersebut.
Perjalanan Warkop Akew sejak era 1930-an juga menjadi cerita tentang usaha keluarga yang bertahan lintas generasi. Di meja-meja sederhana itu, kopi menjadi penghubung bagi orang-orang untuk bertukar pikiran, menjalin pertemanan, dan berbagi cerita kehidupan.
Bagi para pelanggannya, pengalaman di Warkop Akew bukan semata-mata tentang rasa kopi, melainkan juga suasana akrab yang membuat berbagai kalangan merasa diterima.
(**)







