PALI, Sumselupdate.com – Sebagai daerah yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) berupa minyak dan gas Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Provinsi Sumatera Selatan terkenal sejak zaman penjajahan dahulu.
Ibukota PALI, yakni Kota Pendopo atau populer disebut Pendopo Talang Akar, begitu ‘ngetop’ di dunia, karena migasnya yang berlimpah.
Setelah perusahaan tambang yang mengeksploitasi migas di PALI kala itu, PT Stanvac Indonesia ‘bermetamorfosa’ menjadi PT Pertamina EP.
Cadangan migas di negeri berjuluk Bumi Serepat Serasan ini, masih terus diisap oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu, hingga saat ini.
Meski begitu, diduga akibat kesenjangan sosial antara perusahaan plat merah yang identik dengan kemewahan, kerap mencetus kecemburuan sosial masyarakat di sekitar, yang merasa mengalami diskriminasi dalam mengakses fasilitas yang dimiliki perusahaan negara itu.
Sebut saja, pembatasan masuk area Komplek Pertamina (Komperta) Pendopo Field. Selain telah menugaskan security yang nampak berjejer menjaga pintu gerbang.
Beberapa jalan masuk kini juga telah diblokir dan dipasang portal untuk menghambat keluar masuk masyarakat ke dalam Komperta secara bebas.
Sontak hal ini pun dikomentari miring warga sekitar yang biasa beraktivitas melalui jalan-jalan tersebut. Mereka menuding Pertamina EP Pendopo Field terlalu intropert (tertutup).
“Dengan ditutup jalan itu, atau hanya dibuka pada waktu tertentu saja, pastinya menghambat aktivitas masyarakat. Meski tidak tinggal di sana, kami yang di luar ini juga perlu masuk atau melintas,” ujar salah seorang pria yang mengaku bernama Ujang, Kamis (3/6/2021).
Menurut pria yang berjualan Siomay keliling itu, dengan ditutupnya akses ke dalam Komperta, secara tak langsung Pertamina EP Pendopo Field seakan menegaskan bahwa masyarakat luar tak boleh masuk ke sana dengan bebas tanpa izin.
“Ya, ini kan milik negara, kami juga warga negara kok dibedakan. Tidak selalu yang masuk punya niat jahat, mau maling atau apa!” imbuhnya.
Sementara itu, Andi, Njo/Officer Comrel & CID PT Pertamina EP Asset 2 Zona 4 mengatakan penutupan akses di beberapa titik di lingkungan perusahaan dilakukan dalam rangka pengamanan asset dan mengantisipasi potensi kejadian kriminalitas di lingkungan perusahaan.
“Hal ini sejalan dengan TKO Sistem Management pengamanan yang berlaku di perusahaan,” singkatnya, yang disampaikan melalui pesan Whatsapp (WA) secara estafet, oleh Keri, seorang pekarya yang bertugas di kantor Pendopo Field, Jumat (4/6/2021).
Sikap PT Pertamina EP yang terkesan tertutup itu, seakan kembali mengingatkan masyarakat dengan perlakuan PT Stanvac Indonesia dahulu.
Entah adakah kaitannya dengan top manajemen yang saat itu diisi oleh banyak orang asing atau tidak, yang pasti, masyarakat ‘luar’ selalu mendapat perlakuan berbeda dari pegawai perusahaan dan keluarganya.
“Dahulu, yang bisa bersekolah di sekolah milik Stanvac hanya anak-anak atau keluarga pegawainya saja. Begitu juga dalam hal memanfaatkan fasilitas milik perusahaan. Oleh karenanya, Komperta sampai sekarang disebut ‘Gedongan’. Orang di dalam sana, disebut Orang Gedongan,” ungkap Tijan, warga Pendopo yang pernah jadi buruh harian pada Stanvac dahulu. (adj)











