Wali Murid Ramai-ramai ‘Tarik’ Anak dari Ponpes, Takut Jadi Korban Rudapaksa

Laporan: Henny Primasari

Inderalaya, Sumselupdate.com – Kasus penangkapan Junaidi (22), warga Jalan Adam, Dusun Trimulyo, Kelurahan Marta Jaya, Kecamatan Lubuk Raja, Kabupaten Ogan Ilir oleh Subdit IV Remaja Anak Anak dan Wanita (Renakta) Ditreskrimum Polda Sumsel, menyita perhatian publik.

Read More

Bagaimana tidak, separuh dari 12 santri yang merupakan anak didiknya disodomi pelaku selama kurun waktu satu tahun terakhir.

Tak heran, jika peristiwa ini  membuat resah dan trauma wali santri di Ponpes yang terletak di Desa Talang Pangeran Ulu, Kecamatan Pemulutan Barat, Kabupaten Ogan Ilir.

Keresahan ini terlihat para wali santri ini beramai-ramai akan menarik anaknya dari ponpes, karena khawatir buah hatinya jadi korban rudapaksa.

Seperti yang diutarakan wali murid bernama Dessy kepada wartawan, Kamis (16/9/2021). Menurutnya anaknya sudah bersekolah di Ponpes tersebut lebih dari tiga tahun.

Meski sang predator bernama Junaidi sudah ditangkap pihak kepolisian, namun ia tetap khawatir jika anaknya tetap melanjutkan pendidikan di ponpes tersebut.

“Saya takut saja, saya mau ambil anak saya dari ponpes itu. Mau saya pindahkan ke sekolah biasa saja, tidak usah belajar di sini. Kalau soal mengaji mau saya suruh ke ustazah saja,” jelasnya.

Menurutnya, pihak Ponpes harusnya lebih terbuka kepada wali murid, kepada wartawan, harusnya secara jelas memberikan keterangan, jangan terkesan menutupi.

“Ini bukan aib, ini sudah ada tersangka, artinya sudah ada pelaku yang berbuat. Korbannya banyak anak-anak lagi, otaknya di mana?. Coba kalau anak dia yang disodomi, apa reaksinya?. Bagaimana masa depannya?. Harusnya bilang saja kalau memang Junaidi itu pernah mengajar di sini, dan kami tidak tahu kalau pelaku adalah predator dan sudah dipecat, persoalan sudah diserahkan kepada pihak berwajib. Jangan jawabnya ini aib sebagai umat Islam harus menutupi aib sesama muslim. Jangan mengatasnamakan sesama muslim. Kalau salah ya katakan salah saja, jangan terkesan menutupi. Takut sekali kalau hilang murid, padahal pastilah orangtua was-was menyekolahkan anaknya di situ, otomatis menarik anaknya,” tegasnya.

Senada dengan Dessy, wali murid lainnya Agung mengatakan hal yang sama.

“Pokoknya saya mau ambil anak saya, mau saya pindahkan saja lah. Padahal banyak harapan saya menyekolahkan anak di situ, tapi kok malah begini. Ya saya pindahkan ke Ponpes lainnya sajalah, yang lebih terakreditasi dan terjamin mutunya,” jelasnya

Sebelumnya, Jubir Ponpes, Masrowi menyatakan, ketidaksedianya untuk menerangkan dan menjelaskan berkaitan dengan oknum guru dan peristiwa tersebut.

“Saya di sini tidak diperkenankan untuk menyampaikan apapun terkait perihal ini. Terkait hal itu biarlah itu menjadi urusan kami, urusan internal kami, biarlah pertanggung jawapan kami tidak hanya sampai di sini juga di akhirat nanti. Intinya apa yang menjadi tanggung jawab kami itu yang akan kami kerjakan. Ini aib tolong jangan diumbar,” jelasnya.

Bahkan, dirinya cenderung melindungi dan menjaga nama baik pelaku. Dirinyapun menyampaikan sebagai sesama muslim seharusnya harus sama-sama menjaga nama baik.

“Etika kita sebagai sesama umat muslim harus saling menjaga nama baik. Berkaitan peristiwa ini silahkan saudara gali di tempat lain, seperti sumbernya di Polda Sumsel. Kami di sini lembaga dakwah bukan lembaga bisnis,” katanya.

Ia pun keberatan, dikarenakan jangan sampai para santri di terpa isu yang tidak terkait dengan mereka dan agar dapat fokus dalam mengenyam ilmu.

“Jadi harapan kami, mari kita jaga anak kita sebaik mungkin dan kami juga akan bertanggung jawab untuk anak-anak yang di titipkan di sini,” jelasnya. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.