Harga Biji Kopi di OKU Merangkak Naik

Rabu, 8 Juni 2016
para wisatawan lokal berada dikawasan kebun kopi di desa Bunga Tanjung Kecamatan Lengkiti

Baturaja, Sumselupdate.com – Para petani kopi di kawasan Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu, mengaku bersyukur seiring harga kopi kering mengalami kenaikan berkisar Rp1.000 sampai Rp2.000,- per kilogramyakni dari Rp18.000 per kilogram menjadi Rp19.000 sampai Rp20.000 per kilogram.

Tanaman bahan baku minuman tersebut, tetap menjadi komoditi unggulan bagi warga yang bertempat tinggal di kawasan berbukit tersebut.

Kusnan (30) petani kopi warga Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Lengkiti, OKU, ini mengatakan, nilai jual biji kopi kering sangat membantu perekonomian petani.

Warga hanya mengandalkan hasil bumi kopi, karena kawasan tersebut tidaklah cocok bercocok tanam pagi. Sementara, harga karet masih belum bisa diandalkan dengan harga yang rendah.

“Hasil panen kopi inilah menjadi tumpuan ekonomi kami di sini. Sekarang harganya lumayan tinggi. Kami juga terbantu, dengan hasil panen lumayan baik di musim tahun ini,” ceritanya, saat ditemui di kebun kopi miliknya di Talang Langgah, Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Lengkiti.

Ia pun mengakui, tidak sedikit warga tempat tinggalnya yang berusia produktif, usai musim panen kopi “berlayar” ke pulau Jawa, untuk bekerja pada pabrik atau perusahaan air mineral atau lainnya. Diakuinya, hasil kopi tidak sepenuhnya bisa diandalkan, mengingat musim panen hanya terjadi setahun sekali.

“Inilah kendala kami (petani) selama ini. Kami hanya mengandalkan varian lokal sesuai dengan kemampuan. Memang informasi ada varian yang bernilai jual tinggi, (saya lupa namanya). Per kilogram, dihargai mencapai Rp100.000 per kilogram. Untuk di sini belum ada,” ucapnya.

Mengenai bercocok tanam kopi, bahkan terdapat petani yang berasal dari Jawa Tengah, yang hanya datang untuk mengadu nasib sebagai petani kopi di kawasan ini.

Wati (48) yang hanya ditemani putranya Misbakhun (27). merantau dari Kabupaten Sala Tiga, Jawa Tengah. Berdua anaknya, dan dibantu warga sekitar memanen kopi yang sudah memerah (tua) di kebun yang luasnya mencapai 5 hektar.

Untuk berkebun di sini, mereka mengakui pulang setahun kadang sekali atau dua kali dalam setahun.

“Di sinilah tumpuan hidup kami sekeluarga. Di Jawa, sangat sulit mencari duit. Alhamdulillah, di sini kami bisa bergantung,” ceritanya. (yan)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts