PALI, Sumselupdate.com – Herman Yanto (38) warga Karang Anyar, Kelurahan Pasar Bhayangkara, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI kini hanya bisa terbaring lantaran mengalami kelumpuhan akibat jatuh dari pohon petai yang terjadi tiga tahun lalu.
Bahkan kondisi Herman Yanto sekarang semakin parah lantaran pada bagian pinggangnya mengalami koreng yang dalam dunia kedokteran disebut decubitus atau bedsore.
Decubitus adalah mati jaringan karena jaringan darah pada suatu bagian kulit dirintangi tekanan terus-menerus sebagai akibat duduk yang terlalu lama, kondisi koma atau imobilitas. Decubitus dikenal juga dengan istilah.
Untuk kondisi Herman Yanto sendiri disebabkan oleh tekanan dimana dirinya hanya bisa terbaring selama tiga tahun akibat kelumpuhan dari bagian pinggang sampai kaki. Akibatnya, dirinya kini mengalami koreng di tengah pinggangnya.
Herman Yanto, saat dijumpai di kediamannya mengaku bahwa kondisinya seperti ini akibat dirinya jatuh dari pohon petai dengan ketinggian lebih kurang 15 meter yang terjadi tiga tahun lalu.
“Kondisi saya saat itu kedua kaki berbalik ke depan. Naas, setelah kejadian tidak ada satu orang pun yang mengetahui. Akibatnya saya bermalam di bawah pohon. Sampai keesokan harinya, istri saya bersama warga menemukan saya sudah tak berdaya,” cerita bapak tiga orang anak ini.
Lebih lanjut, pria yang kesehariannya ini menjadi petani karet mengatakan bahwa setelah kejadian itu, dirinya sudah tidak bisa berjalan lagi dan hanya bisa terbaring lemas.
“Menuju rumah sakit memang tidak begitu jauh, tetapi karena kondisi lumpuh dan akses rumah kami hanya bisa dilalui sepeda motor, jadi aku hanya diam di rumah karena tidak mau merepotkan orang lain apabila harus berobat jalan,” tukasnya.
Selama Herman Yanto sakit, tulang punggung keluarganya diambil alih sang istri Ema (33). Untuk mebiayayai kebutuhan keluarganya, dia kini menjadi buruh nyadap karet dan terkadang mengambil upah cucian untuk menghidupi keluarga dan tiga orang anaknya.
“Tidak ada pilihan lain pak, aku harus menghidupi keluarga dengan menyadap karet. Sepulang menyadap aku rawat suami aku dan memberikan obat seadanya, sebab kalau dirawat lama di rumah sakit, selain harus ditunggu yang tentunya butuh biaya juga aku tidak bisa mencarikan nafkah,” ungkap Ema (33) istri Hermanyanto saat ditanyai media ini.
Sementara itu, dr H Muzakir, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten PALI yang ikut melihat kondisi Herman menjelaskan bahwa apabila pasien dan keluarga pasien mau dirawat di rumah sakit, seluruh biaya pengobatan ditanggung pemerintah.
Hanya saja, kendala yang membuat keluarga keberatan adalah saat menunggu pasien. Tetapi saat ini diakui dr Muzakir, pihaknya telah menyiapkan rumah singgah bagi keluarga pasien, baik itu di Kabupaten PALI sendiri maupun di kota Palembang, Prabumulih dan Muaraenim yang lokasinya dekat dengan rumah sakit.
“Ini sudah kedua kali saya menjenguk. Namun, karena kondisinya seperti ini Pak Herman sulit kontrol. Kami pastikan, pemerintah membiayai pengobatan pasien ini. Tapi dari hasil diagnosa, untuk luka di pinggang dan kaki bisa disembuhkan namun perlu perawatan intensif. Serta untuk lumpuh nya, tipis harapan untuk sembuh,” terang dr Muzakir. (adj)











