Ditulis oleh: Solehun, Pimpinan Umum Sumselupdate.com
Sekitar satu pekan lagi Hari Raya Idul Fitri 2020 M/1441 H bakal tiba. Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, tujuh hari ke depan ini biasanya menjadi momentum terjadinya puncak mudik. Semua jenis moda transportasi darat, laut dan udara pun ramai dipenuhi pemudik. Semua jenis media pun tak henti memberitakan kehebohan mudik ini.
Apa lacur, pandemi Corona (Covid-19) yang sedang mewabah di negeri ini membuat tradisi mudik tahun ini tinggal mimpi. Sebab, pemerintah telah mengeluarkan aturan larangan mudik. Kebijakan ini diberlakukan dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19 dari kota ke desa.
Tradisi mudik memang tidak bisa dipisahkan dari kultur masyarakat Indonesia. Ini terutama melekat pada masyarakat perkotaan yang berasal dari desa. Dengan memanfaatkan momen spesial dan libur panjang seperti Idul Fitri, mereka berbondong-bondong kembali ke kampung halaman, tempat diri dan leluhur mereka dilahirkan.
Spesialnya mudik lebaran setidaknya dipengaruhi oleh beragamnya tujuan yang menyertainya. Dengan mudik mereka bukan sekedar hendak merayakan idul fitri bersama sanak famili di desa. Tetapi lebih dari itu, “masyarakat urban” ini sejatinya juga hendak mengekspresikan cintanya pada kampung halaman, bernostalgia tentang masa kecilnya di desa, melakukan ritual ziarah kubur, bersilaturahmi dengan handai taulan, hingga melakukan relaksasi untuk melepas sejenak kepenatan sosial.
Indahnya cerita di balik ritual sosial pemerkuat identitas kultural desa dan pengalir “kuah ekonomi” dari kota ke desa tersebut, kali ini nampaknya tak utuh lagi. Soalnya, kita mesti menunda dulu mudik tahun ini. Kita harus mengikuti imbauan pemerintah di tengah pandemi corona, juga demi menjaga keselamatan diri dan anggota keluarga tercinta.
Beruntungnya, di tengah adanya larangan mudik ini kita sedang hidup di era kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Untuk itu, masih ada jalan yang bisa kita tempuh untuk mengganti hilangnya mudik fisik ini dengan “mudik online”. Atau ada juga istilah lain, mudik lokal diganti dengan mudik virtual.
Soal mudik dibuat online tersebut sepertinya sangat mungkin bisa dilakukan. Selain telah ada sarana komunikasi tatap muka online, hari ini masyarakat juga sudah demikian akrab dengan kegiatan serba online.
Agar mudik online yang kita rencanakan berjalan lancar, setidaknya beberapa hal berikut mesti diperhatikan.
Pertama, kita harus memastikan internet aman. Di kegiatan online, keberadaan internet yang lancar atau no lelet adalah kunci. Untuk itu, semua anggota keluarga mesti diingatkan agar tidak lupa mengisi kuota dan memastikan jaringan wifinya lancar.
Kedua, kita harus menyepakati aplikasi dan waktu mudik online. Sejauh ini ada banyak aplikasi yang bisa kita manfaatkan untuk mudik online atau bertemu online. Kita bisa gunakan whatsapp, skype, zoom, atau aplikasi sejenis lainnya. Terpenting, kita mesti menyepakati dulu aplikasi mana yang akan digunakan sebagai ruang pertemuan. Setelah itu, kita tinggal mengatur waktu pertemuan online-nya.
Ketiga, siapkan pokok pembicaraan. Mudik online memang bukan pertemuan formal yang terikat dengan agenda pembicaraan. Namun, penentuan dari awal pokok pembicaraan apa yang akan disampaikan juga tidak salah. Sebab, ini akan membantu efektivitas berlangsungnya pertemuan online, termasuk juga dalam penggunaan kuota internet.
Keempat, jangan lupa abadikan serunya mudik online. Kita tentu tidak ingin momentum indahnya mudik online berlalu begitu saja tanpa kenangan. Ada baiknya, abadikan momentum tersebut dengan cara merekam videonya, menangkap layar (screenshot), atau virtual photoshoot. Lakukan dan ambil momen yang terbaik. Sebab, apa yang kita abadikan ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengisi content media sosial kita.
Begitulah, saat mudik fisik dilarang maka mudik online jadi penenang. Saat rindu tak bisa lagi tertahan, mudik online pun jadi pilihan. Saatnya pula kita buktikan bahwa mudik online pun tak kalah berkesan. **











