Puluhan Pelajar Ini Masih Gunakan Rakit Bambu untuk Pergi Sekolah

Kamis, 26 Oktober 2017
Beginilah kondisi anak-anak sekolah yang harus menggunakan rakit untuk datang ke sekolahnya.

Muratara, Sumselupdate.com – Pelajar SDN Dusun Napal Maling, Desa Embacang Lama, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Muratara setiap hari terpaksa menaiki rakit rambu menyeberang sungai untuk berangkat ke sekolah.

Apa yang dilakukan siswa ini sudah puluhan tahun berlangsung, lantaran jembatan penyeberangan dari Dusun Tebing Tinggi ke Dusun Napal Maling tidak ada.

Read More

Informasi di lapangan menyebutkan, siswa tersebut setiap hari memakai rakit untuk menyeberang sungai dengan luas 10 meter. Rupanya untuk menyeberang sungai bukan dilakukan siswa saja tetapi dilakukan masyarakat.

Penyeberangan ini bukan tanpa resiko. Setiap hari mereka harus bertaruh nyawa, karena sewaktu-waktu air bisa naik. Namun karena tidak ada lagi jalan, mereka terpaksa melakukan aksi nekat tersebut. Ironisnya, aksi nekat itu sudah dilakoni mereka puluhan tahun.

Salah seoarang Siswa kelas 4 SDN Napal Maling bernama Siska mengatakan, setiap hari dia bersama dengan pelajar lainnya terpaksa menyebrangi sungai dengan menggunakan rakit bambu untuk pergi dan pulang ke sekolah.

Terkadang jika tidak ada rakit, maka ia terpaksa harus berenang ketika air sedang dangkal.

“Kami terpaksa menyeberang sungai karena tidak ada pilihan lain. Terkadang basah-basahan kena semburan air ketika menyatang (mendorong-red) rakit,” katanya, Kamis (26/10/2017).

Diakuinya, setiap kali menyeberang aliran sungai itu para siswa selalu dilanda dengan dengan kekhawatiran. Bahkan akibatnya mereka sering tidak konsentrasi dalam menerima pelajaran.

“Saya bersama teman-teman takut ketika di atas air untuk menyeberang. Saya sering tidak mengerti apa yang diajarkan oleh guru karena masih cemas saat menyeberang,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, (Disdik) Muratara, Abd Rahman Wahid melalui Kepala Bagian (Kabid) GTK, Barbara Derby Shinta, mengakui bahwa pihaknya sudah melakukan peninjauan. Memang di sana belum ada akses jembatan untuk penyemberangan.

Kondisi ini membuat belasan murid kelas jauh SD Negeri Embacang harus mengunakan rakit untuk dapat menuju ke sekolah.

“Memang betul, setiap hari mereka gunakan rakit yang terbuat dari bambu untuk dapat menuju ke sekolah. Karena belum adanya jembatan penyebrangan,” katanya lagi.

Perlu diketahui bahwa, di Embacang Lama ini terdapat dua kelas jauh yakni kelas jauh Tebing Tinggi dan kelas jauh Napal Maling. Keduanya harus ditempuh melalui jalur air.

Kalaupun harus ditempuh menggunakan jalur darat kondisinya cukup jauh selain jalannya curam.

“Kita tidak bisa menggunakan kendaraan roda dua selain jalan kaki. Setiap hari guru yang ada di SD tersebut harus jalan kaki selama satu jam menuju ke sekolah,” jelasnya.

Masih katanya, untuk mempermudah akses murid dan guru, Kepala SD Negeri Embacang telah mengajukan proposal pengajuan untuk pembangunan jembatan gantung.

“Mudah-mudahan apa yang menjadi harapan pihak sekolah dapat dikabulkan. Baru-baru ini pihak sekolah mendapatkan bantuan satu unit ketek dari donatur Insan Bumi Mandiri sebagai sarana transportasi,” pungkasnya. (Ain)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts