Pemukim Israel Serang Petani Palestina dan Diplomat Eropa di Tepi Barat, 40 Insiden Dilaporkan

Writer: - Minggu, 18 Oktober 2026
Para petani Palestina terlihat di sebuah pos pemeriksaan militer Israel setelah pasukan tersebut mencegah mereka memanen zaitun di lahan mereka, di Desa Salem, sebelah timur Nablus, di Tepi Barat, pada 17 Oktober 2026. (Xinhua/Nidal Eshtayeh)

Ramallah, Sumselupdate.com – Sejumlah pemukim Israel dilaporkan menyerang petani Palestina dan diplomat dari negara-negara Eropa di Tepi Barat pada Sabtu (17/10/2026). Insiden tersebut memicu kecaman dari pejabat Israel dan Palestina serta mendorong kepolisian Israel membuka penyelidikan.

Media pemerintah Israel, Kan News, melaporkan tujuh pemukim bertopeng yang membawa tongkat menyerang diplomat asal Prancis, Belgia, dan Polandia serta pemetik zaitun Palestina di Desa Taybeh, dekat Ramallah.

Read More

Menurut sumber-sumber lokal dan keamanan Palestina kepada Xinhua, para penyerang memecahkan kaca kendaraan milik Konsulat Belgia. Mereka juga meminta para diplomat dan penumpang menunjukkan dokumen identitas.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan kunjungan para diplomat tersebut tidak dikoordinasikan dengan pihak militer. IDF juga menyebut tidak ada tentara mereka di lokasi ketika serangan terjadi.

Menurut IDF, panggilan terkait insiden itu dialihkan ke pusat operasi divisi yang menangani laporan dari personel keamanan, bukan laporan warga sipil.

Kepolisian Israel menyatakan telah membuka penyelidikan dan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Israel untuk membantu menemukan para diplomat yang diserang, mengumpulkan keterangan, serta mengidentifikasi para pelaku.

“Kepolisian Israel mengecam segala bentuk kekerasan dan akan melanjutkan penyelidikan ini hingga tuntas, membawa semua pihak yang terlibat dalam insiden semacam itu ke pengadilan,” demikian pernyataan kepolisian.

IDF turut mengecam serangan tersebut sebagai tindakan kekerasan serius terhadap perwakilan diplomatik. Polisi dan penyelidik forensik dilaporkan memasuki kawasan itu dengan perlindungan militer untuk mengumpulkan bukti dan meminta keterangan saksi.

Menteri Luar Negeri Israel Kecam Serangan

Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di kawasan Taybeh.

Ia mengatakan kementeriannya berkomunikasi dengan para duta besar negara-negara terkait untuk membantu aparat penegak hukum mengidentifikasi pelaku dan membawa mereka ke pengadilan.

Namun, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mempertanyakan pemberitaan mengenai insiden tersebut. Kantor Netanyahu menuding adanya kampanye untuk mencemarkan nama baik Israel dan warga Yahudi di Tepi Barat, khususnya selama musim panen zaitun tahunan.

“Laporan-laporan ini muncul di tengah kekhawatiran mengenai kampanye terkoordinasi untuk mencemarkan nama baik Israel dan warga Yahudi di Yudea dan Samaria saat musim panen zaitun tahunan, dengan mengandalkan judul berita sensasional sebelum fakta lengkap terungkap,” demikian pernyataan kantor perdana menteri.

Yudea dan Samaria merupakan istilah yang digunakan Israel untuk menyebut wilayah Tepi Barat.

Puluhan Serangan Dilaporkan Selama Panen Zaitun

Di tengah insiden yang melibatkan para diplomat, sumber-sumber setempat juga melaporkan serangan pemukim di sejumlah wilayah Tepi Barat terhadap petani dan pemanen zaitun Palestina.

Serangan tersebut dilaporkan meliputi pemukulan, penembakan terhadap sejumlah orang, pencurian peralatan pertanian, serta pemaksaan terhadap petani agar meninggalkan lahan mereka.

Pasukan Israel juga dilaporkan menembakkan gas air mata. Dalam insiden lain, seorang penjaga permukiman disebut menembakkan peluru tajam hingga memicu kebakaran. Para pemukim juga dilaporkan mendirikan pos permukiman baru di kawasan yang menjadi lokasi kegiatan panen zaitun.

Komisi Perlawanan terhadap Tembok dan Permukiman di bawah Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) melaporkan terdapat 40 serangan yang melibatkan pemukim dan pasukan Israel terhadap petani, lahan pertanian, serta tanaman mereka.

Wakil Presiden Otoritas Palestina Hussein al-Sheikh mengecam serangan terhadap para diplomat asing dan menyebut para pelaku sebagai “geng teroris kolonial”.

Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina juga menyatakan pemerintah Israel harus bertanggung jawab atas insiden tersebut dan memastikan adanya akuntabilitas.

Ketegangan Berlanjut di Tepi Barat dan Gaza

Lebih dari 500.000 pemukim Israel tinggal di Tepi Barat, wilayah yang diduduki Israel sejak 1967, bersama sekitar 3,4 juta warga Palestina.

Pada Sabtu (17/10/2026), seorang anggota kepolisian Palestina bernama Abdul Jawad Joudah juga dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel terhadap sebuah pos polisi di Rafah, Gaza selatan, menurut sumber Palestina.

Otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza menyatakan serangan Israel telah menewaskan 1.511 orang sejak gencatan senjata antara Hamas dan Israel mulai berlaku pada Oktober 2025. Dengan demikian, jumlah korban tewas sejak 7 Oktober 2023 mencapai 74.469 orang, berdasarkan data yang disampaikan otoritas tersebut pada Sabtu.

Data korban tersebut bersumber dari otoritas kesehatan Gaza. Sementara itu, penyelidikan atas serangan terhadap diplomat Eropa di Tepi Barat masih berlangsung untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts