Oknum Penyidik Satreskrim Polres Banyuasin Dilaporkan Warga dan Kelompok Tani ke Propam Polda Sumsel

Kuasa hukum Lisa Merida, SH, MH, bersama belasan warga dan kelompok tani Desa Muara Telang, Kecamatan Sumber Marga Telang Kabupaten Banyuasin usai membuat laporan.

Laporan: Haris Widodo

Palembang, Sumselupdate.com – Kuasa hukum Lisa Merida, SH, MH, bersama belasan warga dan kelompok tani Desa Muara Telang, Kecamatan Sumber Marga Telang Kabupaten Banyuasin Kamis (29/4/2021) sore melaporkan oknum penyidik Satreskrim Polres Banyuasin ke Pelayanan Pengaduan Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Sumsel.

Bacaan Lainnya

Laporan tersebut sudah diterima dengan Nomor : STPL / 53 / YAN 2.5 /IV/2021/YANDUAN. Oknum penyidik Satreskrim Polres Banyuasin dilaporkan warga diduga melanggar etika saat melakukan penyidikan kasus pemalsuan surat tanah.

Memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik dan penggelapan hak atas harta tidak bergerak milik orang lain dengan terlapor Imron Cs pada tahun 2016 lalu.

Ditemui usai membuat laporan, kuasa hukum warga desa Muara Telang Lisa Merida, SH, MH, menuturkan oknum penyidik Polres Banyuasin dilaporkan diduga melanggar etika lantaran tidak profesional dalam melakukan penyidikan kasus 263, 266 dan 385 yang telah dilaporkan kliennya di Polres Banyuasin pada tahun 2016 lalu dengan terlapor Imron Cs.

“Dalam laporan tersebut, terlapor kami laporkan telah membuat surat palsu dan surat itu dipergunakan terlapor dan perkaranya sudah naik ke tingkat sidik dan penetapan tersangka Imron cs sebagai tersangka. Tersangka keberatan karena ditetapkan tersangka lalu minta perlindungan hukum ke Mabes Polri.

“Dan perkara Mabes Polri kembali melakukan gelar perkara pada 16 Januari 2020. Hasil gelar memutuskan bahwa  ini unsur pidana pasal 263, 266 dan pasal 385 KUHP terpenuhi dan perkara ini harus dilanjutkan,” bebernya.

Lebih lanjut, dijelaskan Lisa, di sisi lain saat berkas dilimpahkan Kejaksaan, pihak Kejaksaan menyimpulkan perkara tersebut adalah perkara perdata. Padahal yang dilaporkan kliennya bukan terkait kepemilikan tanah akan tetapi laporan pemalsuan surat yang digunakan terlapor untuk menguasai lahan milik kliennya.

Ternyata tanpa sepengetahuan kliennya, penyidik mengeluarkan SP2HP pada 12 Mei 2020 yang isinya menyatakan kasus ini perdata dan lebih parahnya lagi klien selaku pelapor tidak mengetahui adanya SP2HP.

“Klien kami baru mengetahui keluarnya surat SP2HP setelah terlapor menggugat pelapor secara perdata. Artinya kasus yang telah dilaporkan klien kami yang sudah terang benderang, kembali mundur ke belakang,” bebernya.

Dengan laporan yang telah dibuat kliennya, dirinya berharap melalui kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo salah satu programnya memberantas komplotan mafia tanah di Sumsel  karena mafia tanah di Sumsel masih ada dan belum diberantas.

Sementara itu, Edi perwakilan warga desa Muara Telang, Kecamatan Sumber Marga Telang Kabupaten Banyuasin berharap pihak Propam Polda Sumsel segera menindak lanjuti laporan mereka. Karena dengan keluarnya surat SP2HP oleh oknumb  penyidik Satreskrim Polres Banyuasin warga mengalami kerugian 33 miliar.

“Di lahan milik kami itu ada tanam tumbuh berupa pohon kelapa yang menghasilkan buah kelapa setiap hari bisa kami ambil buahnya,” katanya. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.