Negosiasi AS–Greenland Masih Buntu, Denmark Tegaskan Prinsip Tidak Bisa Ditawar

Writer: - Senin, 9 Februari 2026
Foto yang diambil pada 6 Februari 2026 ini menunjukkan pemandangan di Nuuk, Greenland, sebuah wilayah otonom Denmark. (Xinhua/Li Ying)

Nuuk, Sumselupdate.com – Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt dan Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen menyatakan bahwa proses negosiasi yang tengah berlangsung dengan Amerika Serikat belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Nuuk, Sabtu (7/2/2026), yang menandai pembukaan konsulat pertama Kanada di Greenland.

Read More

Motzfeldt mengakui bahwa komunikasi diplomatik dengan Washington mengalami perkembangan dibandingkan sebulan sebelumnya. Menurutnya, dialog langsung telah terbentuk dan jalur diplomasi kini berjalan lebih terbuka.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa posisi Greenland dalam perundingan tersebut masih belum sesuai dengan harapan.

Motzfeldt menyebut proses menuju kesepakatan akhir masih panjang dan belum saatnya menarik kesimpulan mengenai arah akhir negosiasi.

“Situasinya memang lebih baik, tetapi jalan yang harus ditempuh masih panjang. Masih terlalu dini untuk berbicara tentang posisi akhir,” ujarnya.

Sementara itu, Menlu Denmark Lars Lokke Rasmussen menegaskan bahwa sejak awal pihaknya telah menyampaikan batasan-batasan yang tidak dapat dilanggar dalam setiap pembahasan dengan Amerika Serikat. Ia menyebut setiap solusi yang dihasilkan harus menghormati prinsip dan kepentingan mendasar Denmark.

“Kami telah sangat jelas sejak awal bahwa ada garis merah yang harus dihormati. Saya yakin solusi yang menghormati garis tersebut bisa dicapai,” kata Rasmussen.

Namun demikian, Rasmussen menolak mengungkapkan detail isi negosiasi. Ia menegaskan bahwa proses perundingan tidak dilakukan secara terbuka kepada publik, melainkan melalui pertemuan tertutup agar para pihak dapat berdiskusi secara langsung dan konstruktif.

Greenland, yang merupakan pulau terbesar di dunia, berstatus sebagai wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark.

Meski memiliki pemerintahan sendiri, urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri tetap berada di bawah kendali Kopenhagen.

Sejak kembali menjabat pada 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan keinginannya untuk ‘menguasai’ Greenland.

Pernyataan tersebut memicu kritik dan penolakan luas, khususnya dari negara-negara Eropa.

Sebagai bentuk dukungan politik dan diplomatik, Kanada dan Prancis secara resmi membuka konsulat baru di Nuuk pada Jumat (6/2).

Langkah ini dipandang sebagai sinyal solidaritas terhadap Greenland serta masyarakat Inuit yang mendiami wilayah tersebut.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts