MAJELIS Permusyaratan Rakyat (MPR) memiliki peran mensosialisasikan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika atau populer disebut Empat Pilar MPR.
Lembaga tinggi negara tersebut sejak lama dipercaya mensosialisasikan Empat Pilar kepada seluruh elemen masyarakat mulai dari organisasi kemasyarakatan, kepemudaan, pelajar terutama kalangan mahasiswa atau Gen Z.
Empat Pilar dianggap penting disosialisasikan agar Gen Z tidak goyah dan lupa sejarah serta budaya bangsa Indonesia.
Agar generasi muda benar benar memiliki rasa cinta terhadap budaya, cinta tanah air, memiliki etika, sopan santun serta bangga sebagai orang Indonesia.
Itu sebab pimpinan MPR sebut saja di era kepemimpinan Zulkifli Hasan, Bambang Soesatyo, Ahmad Muzani serta anggota MPR gencar melakukan sosialisasi Empat Pilar ke seluruh wilayah Indonesia, melalui diskusi, seminar dan menerbitkan buku sosialisasi empat pilar.
Mereka mengajak masyarakat untuk memahami serta melaksanakan isi dari kelima Pancasila tersebut.
Masyarakat diberi pencerahan mengenai Bhineka Tunggal Ika agar memiliki pemahaman yang sama bahwa kita bersaudara walaupun berbeda latar belakang, suku, budaya, adat dan agama. Kita cinta Indonesia dan tetap satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
MPR berharap rakyat Indonesia menjaga keutuhan bangsa, menjaga persatuan, gotong royong, saling menghargai dan memiliki nasionalisme yang tinggi.
Ini sesuai dengan ajaran dari pendiri bangsa Indonesia dahulu kala serta sesuai dengan isi dari butir butir Pancasila.
MPR menyadari tugas mensosialisasikan Empat Pilar agar bisa diimplementasikan di tengah masyarakat tidak mudah.
Tanpa dukungan semua pihak terutama kalangan orang tua, pengimplementasian sosialisasi empat pilar agak sulit diwujudkan.
Pihak orangtua diharapkan dapat mendidik anak anak mereka tentang perilaku yang baik, persatuan dan kesatuan, saling menghormati dan menghargai maupun memegang teguh adat dan budaya bangsa Indonesia.
Gen Z diharapkan tidak terpengaruh dengan budaya asing yang banyak kurang sesuai dengan adat budaya Indonesia.
Apalagi saat ini zaman super canggih era digital sangat mudah mengakses informasi apa saja dari berbagai penjuru dunia.
Jika kalangan Z tidak hati hati menyikapi pesatnya perkembangan zaman bisa merugikan diri sendiri sekaligus memupus harapan menuju Indonesia Emas 2045.
Yang pasti, pemerintah menaruh harapan kepada Gen Z sebagai generasi penerus bangsa, generasi yang tangguh, kuat fisik dan mental, cerdas serta memiliki kepribadian Indonesia.
Gen Z harus siap mengambil alih estafet kepemimpinan, pemerintahan dan bidang lain. Bahkan Gen Z diharapkan menjadi pelopor demokrasi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Menyikapi hal tersebut, anggota MPR Irma Suryani Chaniago mengatakan, pemerintah mesti membuat regulasi atau kebijakan dalam kurikulum pendidikan, soal bidang studi Sejarah Bangsa dan Moral Pancasila. Kedua pelajaran tersebut harus dihidupkan kembali di SD hingga Perguruan Tinggi. Sejarah dan Moral Pancasila mesti diajarkan sejak dini kepada anak – anak Indonesia.
Pelajar harus paham bagaimana pejuang dan pendiri bangsa ini berdarah – darah merebut Kemerdekaan dari tangan penjajah.
“Saya kira pemerintah perlu menghidupkan kembali Pendidikan Sejarah dan Pendidikan Moral Pancasila di sekolah mulai dari SD hingga perguruan tinggi,” ujar Irma kepada Sumselupdate.com, Kamis (7/8/2025).
Menurut Irma, setiap minggu atau tiap bulan para guru atau siapa saja yang berkompeten boleh menjelaskan tentang sejarah bangsa serta moral pancasila.
Tiap kali upacara bendera, pemimpin upacara wajib menyampaikan pentingnya kemerdekaan dan bagaimana mengisinya.
Pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa melalui Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.
“Harus dijelaskan makna persatuan dan kesatuan, toleransi beragama, suku dan budaya. Soalnya ini menjadi pondasi bagi anak-anak bangsa menjaga ke Indonesiaan,” kata Politisi Partai NasDem tersebut.
Irma mengakui hal ini yang terasa hilang saat ini. Kemeriahan HUT 17 Agustus hendaknya tidak hanya diisi acara seremonial seperti perlombaan macam- macam yang kurang mengedukasi.
Mestinya dibuat acara baris berbaris yang bisa melatih kekuatan phisik kedisiplinan dan patriotisme.
Dihidupkan lagi pawai keliling kota dengan berbagai ragam budaya. Selain dapat menarik wisatawan dapat membangkitkan rasa nasionalisme dan memberikan informasi keaneragaman budaya.
“Yang jelas modernisasi tidak harus menghilangkan identitas budaya tiap suku dan agama,” papar Irma.
Dengan bekal rasa nasionalisme yang kuat, lanjut Irma, anak- anak bangsa akan memiliki rasa hormat dan toleransi sesama anak bangsa.
Kerukunan beragama akan lahir dari rasa memiliki pada keutuhan bangsa dan negara. Maju Terus MPR….Jangan lelah mensosialisasikan Empat Pilar….80 Tahun MPR tetap menjadi garda terdepan mengawal dan menjaga Pancasila,UUD45,NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.
(**)











