Menjahit Kain, Menyulam Kehidupan

Senin, 11 Januari 2016

Palembang, Sumselupdate.com — Dua kali mengalami kegagalan dalam membangun bisnis, Sugilir (39) tak pantang menyerah. Dia mencoba bangkit dan memutuskan merantau dari kampung halamannya di Perkalongan, Jawa Tengah ke Kota Palembang. Lewat usaha menjahit kain keliling, Sugilir mencoba menyulam kehidupan yang terkoyak.

Wajah Sugilir sudah tak asing lagi buat warga Jalan Macan Lindungan, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat (IB) I Palembang. Sudah satu tahun terakhir Sugilir menjadi penjahit keliling.

Bermodalkan sepeda temannya dan mesin jahit yang sudah sangat usang, Sugilir setiap hari keliling wilayah Kelurahan Bukit Baru, Palembang mulai dari Komplek BSI, Griya Mitra, dan rumah penduduk lainnya.

Dari usaha jahit keliling itu, Sugilir bisa meraup pendapatan dalam satu hari berkisar Rp70 ribu hingga Rp120 ribu.

Penghasilan yang diperolehnya itu didapat dari menawarkan jasa menjahit pakaian yang sobek, mengganti resleting celana panjang, hingga membuat pesanan baju.

Sugilir mengaku usaha menjahit keliling yang sudah digelutinya satu tahun terakhir, tidak direncanakan sebelumnya.

Sejak merantau dari kota kelahirannya di Pekalongan, Jawa Tengah tahun 2007 silam, Sugilir dalam kesehariannya bekerja sebagai buruh harian lepas di industri rumahan pembuatan tempe di dekat kontrakannya di Jalan Macan Lindungan.

Mulai pukul 06.00 hingga pukul 11.00, Sugilir menjadi buruh harian lepas di industri rumahan pembuatan tempe dengan upah per minggu Rp300 ribu.

Nah, sekian tahun bekerja, suatu ketika dia melihat di rumah majikannya ada mesin jahit yang rusak dan tidak terpakai lagi.

Timbul idenya untuk memanfaatkan mesin jahit tersebut untuk mencari uang. Apalagi selama ini dia melihat peluang bisnis ini masih menjanjikan di sekitar wilayah kontrakannya.

Menurutnya, warga yang hendak memperbaiki pakaiannya yang rusak atau mengganti resleting celana, harus menempuh perjalanan cukup jauh dari kediamannya dan harga jasa menjahit cukup tinggi.

Ide Sugilir kian klop ketika dia melihat ada sepeda milik temannya yang tidak digunakan lagi karena rusak. Dalam hitungan hari, Sugilir mampu memperbaiki sendiri mesin jahit dan sepeda tersebut.

Kemudian sepeda dan mesin jahit itu dimodifikasi hingga bisa dipakai untuk menawarkan jasa menjahit pakaian dengan cara keliling ke rumah-rumah warga.

Dua Kali Bangkrut

Warga dan pemakai jasa Sugilir tak banyak tahu mengenai kisah kehidupannya. Delapan tahun sebelum sampai di Kota Palembang, Sugilir dulunya pernah membuka usaha konveksi cukup besar di Perkalongan, Jawa Tengah.

Keahliannya mengolah bahan dasar menjadi pakaian jadi dengan kualitas tinggi, membuat pesanan yang diterima Sugilir semakin hari kian banyak.

Namun memasuki tahun ketiga, petaka itu datang. Sugilir tertipu rekan kerjanya yang selama ini dipercaya menjualkankan pakaian jadinya.

Sugilir menerima tiga bilyet giro kosong yang jika diuangkan senilai Rp17 juta. Kasus penipuan tersebut bukan hanya dialami Sugilir saja.

Ada belasan pengusaha konveksi yang tertipu oleh pelaku. Meski uang yang dilarikan pelaku lebih kecil jika dibandingkan dengan uang pengusaha konveksi lainnya, akan tetapi buat Sugilir sudah cukup untuk membuat usahanya bangkrut alias gulung tikar.

Gagal di bidang konveksi, Sugilir ikut kakaknya berbisnis ternak bebek. Usaha kakaknya cukup maju, sehingga Sugilir memutuskan untuk membuka sendiri usaha ternak bebek.

Dengan modal yang dikumpulkannya selama dua tahun ikut kakaknya itu, Sugilir memberanikan diri membuat kandang sendiri dan bisnis ternak bebek pun dilakoninya.

Namun usaha ternak bebeknya tak berlangsung lama. Dua kali panen bebek, usaha mulai goyang lantaran harga pakan ternak bebek melonjak.

Sedangkan untuk menjual seribu bebek yang ada di kandangnya, masih terlalu kecil. Tak pelak, usaha ternak bebeknya pun terhenti total.

Dua kali gagal menggeluti bisnis, membuat Sugilir patah arang. Pada tahun 2007 dia pun memutuskan untuk ikut temannya merantau ke Kota Palembang.

Di Kota Palembang Sugilir bekerja sebagai buruh harian lepas di industri rumahan pembuatan tempe.

Sebulan sekali Sugilir mengirimkan uang untuk istrinya Lutfiatur Rohma (31) dan anaknya Nafiatul (11) yang kini duduk di kelas V SD.

Namun enam tahun merantau, cobaan kembali menerpa. Biduk rumah tangganya goyah. Istri tercintanya tiba-tiba menggugat cerai.

Gugatan cerai itu ditanggapi Sugilir dengan ikhlas lantaran dia memiliki keyakinan jika maut, jodoh, dan rezeki merupakan takdir dari Sang Pencipta.

Sembari terus berdoa, Sugilir akhirnya menerima hasilnya. Di detik-detik menjelang vonis dari pengadilan agama, tanpa diduga, tiba-tiba istrinya ingin kembali membangun mahligai rumah tangganya.

Dan, kini sang istri yang selama ini mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) diangkat menjadi CPNS dan harapan Sugilir untuk kembali berkumpul dengan keluarga pun semakin kuat.

“Saya masih memiliki optimisme untuk membuka usaha konveksi di Perkalongan. Jika tabungan sudah cukup saya akan kembali ke kampung halaman untuk membuka usaha lagi,” katanya. (adm3)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts