Palembang, Sumselupdate.com – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, masih bertahan pada level berbahaya akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan pantauan aplikasi IQAir pada pukul 04.00 WIB, Rabu (14/10/2026), lima wilayah pemantauan mencatat indeks kualitas udara pada kategori berbahaya.
Indeks tertinggi tercatat di GP PLM dengan angka 1.322, disusul Universitas Sriwijaya sebesar 1.035. Sementara itu, indeks kualitas udara di Musi Dua mencapai 797, Demang Lebar Daun 756, dan Sukarami 629.
Angka tersebut menunjukkan kondisi udara yang perlu diwaspadai masyarakat, terutama kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan dan penyakit jantung.
Kabut asap karhutla mengandung berbagai polutan berbahaya, termasuk partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Paparan polutan tersebut dapat berdampak buruk terhadap kesehatan, khususnya sistem pernapasan.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Then Suyanti, mengatakan paparan kabut asap berpotensi memicu gangguan kesehatan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga memperburuk penyakit paru yang telah diderita seseorang.
“Risiko kesehatan akibat karhutla ini kita tahu asap ini bisa memicu PM 2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan organik beracun yang bisa memperberat ISPA, PPOK, asma, dan gangguan pernapasan,” ujar Then dalam keterangannya beberapa waktu lalu.
Selain gangguan pernapasan, paparan asap juga berisiko menyebabkan iritasi mata dan kulit. Dampaknya perlu mendapat perhatian khusus pada kelompok rentan, termasuk anak-anak dan lansia.
Paparan polusi udara akibat kebakaran hutan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular. Mengutip informasi American Heart Association (AHA), partikel halus dalam asap kebakaran dapat memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association mencatat bahwa paparan asap pekat kebakaran hutan dikaitkan dengan peningkatan risiko henti jantung di luar rumah sakit hingga 70 persen. Dampak tersebut dilaporkan pada laki-laki maupun perempuan, terutama kelompok usia 35–64 tahun.
Dengan kondisi kualitas udara yang masih buruk, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya saat kabut asap pekat. Penggunaan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus, menutup pintu dan jendela saat asap masuk ke lingkungan permukiman, serta menggunakan penyaring udara dalam ruangan jika tersedia dapat membantu mengurangi paparan.
Masyarakat yang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala gangguan kesehatan yang memburuk sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
(**)







