Palembang, Sumselupdate.com – Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Ronny Samtana mengakui pengaturan lokasi dua kelompok massa dengan agenda berbeda di sekitar pintu masuk Mapolda Sumsel berlangsung berdekatan. Situasi tersebut berujung bentrokan antara massa aksi mahasiswa dan kelompok organisasi masyarakat (ormas) serta organisasi pengemudi ojek online.
Dalam keterangan resminya, Ronny menjelaskan terdapat tiga kelompok massa yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Dua kelompok lebih dahulu berada di lokasi untuk menggelar aksi sosial pembagian masker, yakni ormas Harimau Sumatera Bersatu (HSB) dan Aliansi Driver Online (ADO).
Sementara itu, kelompok Aliansi Mahasiswa Cipayung Plus Palembang datang untuk menggelar unjuk rasa terkait penegakan hukum terhadap perusahaan yang diduga terlibat dalam bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.
Menurut Ronny, kedua agenda tersebut telah mendapatkan izin dari Polrestabes Palembang dan ditempatkan di dua gerbang berbeda.
“Keduanya mendapatkan izin dari Polrestabes Palembang, satu yang bagi masker di gerbang satu, dan mahasiswa yang unjuk rasa di gerbang kedua,” ujar Ronny.
Meski lokasi aksi telah dipisahkan, Kapolda mengakui bentrokan fisik tetap terjadi. Pihaknya menduga terdapat provokasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga situasi di antara kedua kelompok massa memanas.
“Saat mahasiswa ingin menyampaikan aspirasi, seharusnya keduanya tidak boleh bertemu. Namun, karena diduga terdapat provokasi yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, dua kelompok yang dipisah ini akhirnya terjadi bentrok fisik,” katanya.
Atas kejadian tersebut, Polda Sumsel berjanji melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk terhadap prosedur operasional standar (SOP) dan tahapan pengamanan aksi massa.
Polisi juga mengamankan seorang pria bernama Riski Kurniawan dari kelompok yang menggelar aksi pembagian masker. Ia diduga kedapatan membawa dua senjata tajam, yakni sebilah pisau dan senjata tajam berukuran panjang dengan gagang berbahan pipa.
“Ini akan kita lakukan investigasi menyeluruh, penyelidikan dan penyidikan secara scientific untuk mencari para pelaku agar mempertanggungjawabkan peristiwa yang terjadi. Tidak hanya soal bentroknya, tetapi juga evaluasi terkait SOP dan tahapan-tahapannya,” tegas Ronny.
Kapolda Besuk Enam Korban Pengeroyokan
Sebelum menggelar konferensi pers, Ronny menyempatkan diri membesuk enam korban luka akibat bentrokan yang terjadi saat aksi unjuk rasa Aliansi Mahasiswa Cipayung Plus Palembang di depan Mapolda Sumsel.
Enam korban tersebut terdiri atas mahasiswa, wartawan, dan seorang anggota kepolisian. Sejumlah pejabat utama Polda Sumsel turut mendampingi Kapolda saat menjenguk para korban.
Dalam kunjungan tersebut, Ronny menegaskan bahwa pihaknya akan mengusut tuntas peristiwa yang menyebabkan enam orang mengalami luka-luka.
“Kami pastikan proses pengungkapan ini akan kami tuntaskan dengan scientific investigation,” ujar Ronny saat membesuk Mulyadi, wartawan Pal TV, dan Rahmat, wartawan Tribun Sumsel, yang menjalani perawatan medis di RS Bhayangkara Mohammad Hasan.
Kapolda juga menginstruksikan Karumkit RS Bhayangkara Polda Sumsel dan Kabid Dokkes Polda Sumsel untuk memastikan para korban mendapatkan pelayanan medis terbaik hingga pulih.
“Yang penting, proses pemulihan sampai benar-benar sehat,” katanya.
Di tengah perbincangan dengan Kapolda, Rahmat meminta agar polisi mengusut tuntas kasus pengeroyokan tersebut dan menangkap para pelaku.
Ia juga meminta rekaman kamera pengawas atau CCTV di lingkungan Mapolda Sumsel dibuka untuk membantu mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat.
“Saya hanya minta, Jenderal, CCTV Polda untuk dibuka, biar para pelaku dapat ketahuan,” ujar Rahmat.
Polda Sumsel menyatakan penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap pihak-pihak yang terlibat dalam bentrokan tersebut, sekaligus mengevaluasi pengaturan lokasi dan prosedur pengamanan agar kejadian serupa tidak terulang.
(**)







