Komunitas MULIH Aksi Tanam Pinang di Pinggiran Sungai Kelekar

Selasa, 17 Juli 2018
Komunitas MULIH melakukan penanaman pohon pinang di tepian Sungai Kelekar, Prabumulih, Minggu (15/7/2018) sore

Prabumulih, Sumselupdate.com – Kondisi ekologi Sungai Kelekar kembali mengundang kepedulian warga Prabumulih untuk melakukan aksi hijau. Jika sebelumnya Komunitas Pecinta Kelekar melakukan penanaman pohon karamunting, Minggu (15/7/ 2018) lalu, giliran komunitas Musik untuk Lingkungan Hijau (MULIH) menghijaukan tepian Kelekar dengan penanaman pinang.

Komunitas MULIH tersebut digerakkan oleh sekelompok anak muda di antaranya Oni Selamat, Nata Medianto, dan Doni Sefriansyah.

Read More

Menurut Oni, ada banyak aksi yang dapat dilakukan untuk memulihkan ekosistem Kelekar. Yang paling penting adalah memulihkan cara pandang masyarakat terhadap sungai lebih dulu.

“Misalnya, dengan mengubah pandangan bahwa sungai bukan tempat pembuangan sampah, atau memandang bahwa tepian sungai adalah ruang terbuka hijau yang memiliki banyak fungsi dan perlu dijaga alamnya, dan lain sebagainya,” ujar Oni atau yang kerap disapa Ondet ini.

Bagi Oni dan kawan-kawan di Komunitas MULIH, penanaman pinang ini merupakan salah satu tindakan awal yang dapat dilakukan untuk memulihkan pandangan warga Prabumulih terhadap sungai yang membelah kota kecil di Sumatera Selatan ini. Pilihan lokasi penanaman juga didasari kesejarahan. Tepian sungai Kelekar yang ditanami berada di lokasi yang dulu menjadi pangkalan atau pemandian warga Prabumulih ketika sungai Kelekar masih sangat bersih.

“Ada di kawasan Dusun Prabumulih, tepatnya di belakang bekas komplek SMP Yayasan Pendidikan Kerja”, terangnya.

Pinang (areca catechu) dipilih sebagai tanaman penghijauan, sambung Oni, karena berbagai pertimbangan. Selain manfaat buah dan batangnya, estetika, akarnya yang kuat sehingga tak mudah tumbang, bibit pinang juga mudah dicari, gampang tumbuh, serta mudah dirawat. Pohon ini dinilainya cocok untuk penghijauan.

Sementara pegiat MULIH lainnya, Nata menambahkan, tanaman pinang ini akan menguatkan pinggiran sungai Kelekar agar tak mudah terbis atau longsor.

“Penanaman pinang atau tanaman lokal lainnya di tepian sungai Kelekar perlu dilakukan terus-menerus. Anggap saja sedekah oksigen. Nanti kita semua yang menerima manfaatnya. Semakin hijau, semakin banyak racun (polutan) di udara yang bisa dibersihkan,” ujar Nata.

Bagi praktisi agroekologi dari Institut Agroekologi Indonesia (INAgri), Syamsul Asinar Radjam, aksi-aksi nyata yang dilakukan di tingkat lokal semacam ini merupakan gerakan agroekologi perkotaan yang perlu terus digalakkan.

Ke depan, lanjutnya, aksi nyata di tingkat lokal bukan tidak mungkin akan membesar dan melibatkan lebih banyak komunitas atau komponen masyarakat Kota Prabumulih lainnya.

“Sebuah prakarsa bisa saja kecil, tapi Tuhan punya cara untuk memperbesar dampaknya,” pungkasnya. (ril/shn)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts