Laporan Novrico Saputra
Pagaralam, Sumselupdate.com – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII menggandeng PT Kapebe Chakra untuk mengelola kebun dan pabrik teh milik perseroan di Unit Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan.
Bagian Umum PTPN VII, Arianto W dalam keterangan tertulis yang didapat Sumselupdate.com menyampaikan apresiasi terlaksananya kerja sama operasional (KSO) ini. Menurut dia, kerja sama ini memberi catatan khusus kepada unit kebun dan pabrik teh Kota Pagaralam karena tidak pernah mencatatkan keuntungan bagi perusahaan.
“KSO ini adalah opsi terbaik setelah berbagai opsi dijalankan tetapi tak kunjung membaik. Alhamdulillah, meskipun prosesnya lama, dan akhirnya terwujud juga. Saya yakin, kedua belah pihak dengan masing-masing potensinya bisa melejitkan komoditas teh Gunung Dempo ini dalam waktu dekat,” ujarnya.
Arianto optimistis KSO dengan Chakra sangat menguntungkan bagi PTPN VII.
Perjalanan usaha teh di Unit Pagaralam telah berjalan amat panjang, bahkan sejak zaman penjajah. Namun, pengalaman panjang itu belum memberi kontribusi berarti bagi perusahaan.
Jika demikian, sambungnya, dipastikan ada simpul yang tidak pas dalam pengelolaan.
“Oleh karena itu, kesediaan PT Kapebe Chakra sebagai perusahaan teh dengan reputasi baik secara nasional bahkan internasional akan menjadi kerja sama yang sangat penting dengan tujuan turn around bagi teh Gunung Dempo,” kata Arianto.
Ari, sapaan akrabnya, menambahkan, secara kualitas produk yang dihasilkan kebun dan pabrik teh Gunung Dempo sangat baik.
Teh hitam yang diolah dengan teknologi standar ini mendapat respons sangat baik di pasar dunia. Namun, ada beberapa faktor sehingga harga jual sebaran pemasarannya masih menjadi kendala.
“Kami punya produk dan state yang sangat baik, tetapi tidak memiliki sebaran pemasaran yang baik sehingga harga jual rendah. Nah, PT Chakra ini punya yang kami butuhkan. Mereka punya jaringan pemasaran yang luas dengan bargain yang sangat baik. Juga punya strategi dan teknologi yang mapan untuk menghasilkan produk yang diminati pasar mancanegara. Kami padukan potensi ini. Saya yakin kami segera leading,” ucapnya.
Tentang kerja sama atau KSO, kata Ari, pola ini adalah ciri korporasi modern yang harus diterapkan. Kerja sama adalah upaya menyeluruh untuk memperbaiki kinerja perusahaan agar lebih akuntabel.
Dengan kerja sama itulah para pihak akan saling melengkapi, mengawasi, mengoreksi, dan menutup segala macam kekurangan yang bisa berdampak negatif.
“Ciri-ciri perusahaan besar dan visioner adalah melakukan kerja sama. Tanpa itu, kita akan menjadi merasa besar, merasa kuat sendiri, padahal sesungguhnya rapuh. Dengan kerja sama, kita bisa saling mengisi untuk menguatkan,” katanya lagi.
Dia mengaku sejak awal masuk ke state plantation di Lereng Gunung Dempo Pagaralam setahun yang lalu bersama tim besar sampai menginap beberapa hari di lokasi.
Ari mengakui, ada beberapa standar operasional pengelolaan teh Pagaralam, baik on farm maupun off farm yang harus dibenahi agar mendapat respons pasar dengan harga menguntungkan. Namun, ia mengaku tidak membutuhkan perubahan mendasar untuk memenuhi standar itu.
Dalam kerja sama yang ditandatangani, dua belah pihak sepakat untuk memperbaiki operasional dari hulu sampai hilir.
Manajemen PTPN VII akan memberi ruang secukupnya untuk mengintervensi proses pengelolaan kebun dari perawatan, pemupukan, perbaikan infrastruktur, pemetikan, hingga bahan baku sampai di pabrik.
Demikian pula di pabrik, PT Chakra akan menyentuh dan mengawasi untuk memastikan produk yang dihasilkan sesuai standar yang ditetapkan.
“Produk teh ini sangat spesifik. Sebab, ini menyangkut cita rasa yang setiap orang mempunyai kepekaan dan kecenderungan sendiri. Orang Eropa punya kecenderungan selera teh yang berbeda dengan orang Timur Tengah, misalnya. Makanya, kami butuh sentuhan spesifik agar diterima pasar. Dan itu butuh keahlian dari awal sampai akhir,” ujarnya.
Untuk diketahui, nota kerja sama PTPN VII dan PT Kapebe Chakra ditandatangani pada Jumat (30/11/18) di kantor PTPN III Holding, Jakarta. (**)











