Kabut Asap Palembang Masih Tebal, Kualitas Udara Berbahaya dengan Indeks 485 Pagi Ini

Writer: - Senin, 12 Oktober 2026
Kabut asap semakin tebal menyelimuti Kota Palembang, Senin (12/10/2026) pagi. Data IQAir pukul 05.30 WIB menunjukkan indeks kualitas udara mencapai 485 atau kategori berbahaya, dengan Sukarami mencatat angka tertinggi sebesar 511. Masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan polusi udara. (Foto; Sumselupdate.com/Fitria NIngsih)

Palembang, Sumselupdate.com – Kabut asap di Kota Palembang, Sumatera Selatan, semakin pekat pada Senin (12/10/2026) pagi. Kualitas udara terpantau berada pada level berbahaya dengan angka indeks mencapai 485 pada pukul 05.30 WIB.

Berdasarkan data aplikasi IQAir, sejumlah wilayah di Palembang mencatat angka indeks kualitas udara yang tinggi. Sukarami mencatat angka 511, disusul Musi 2 sebesar 476 dan Demang Lebar Daun mencapai 449.

Read More

Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara yang perlu diwaspadai, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan. Paparan polusi udara dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya pada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan dan jantung.

Kabut asap terpantau semakin pekat sejak sekitar pukul 03.00 WIB. Pada waktu tersebut, angka indeks kualitas udara tercatat sekitar 342.

Di sejumlah titik pemantauan, Sukarami mencatat angka 348, Demang Lebar Daun 316, sedangkan Musi 2 berada di angka 242 yang masuk kategori sangat tidak sehat.

Meningkatnya angka indeks kualitas udara dalam beberapa jam tersebut menjadi perhatian di tengah masih berlangsungnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera Selatan.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan, jumlah titik panas (hotspot) tercatat mencapai 1.548 titik.

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 1.177 titik. Selanjutnya, Musi Banyuasin tercatat 135 titik, Muara Enim 78 titik, Banyuasin 62 titik, dan Ogan Ilir 27 titik.

Tingginya jumlah titik panas tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam pemantauan potensi karhutla. Namun, titik panas tidak selalu berarti kebakaran aktif karena perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan lapangan.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menutup pintu dan jendela untuk membatasi masuknya asap, serta menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus jika harus beraktivitas di luar rumah.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts