Palembang, Sumselupdate.com – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), pada Minggu (18/10/2026) malam. Bau asap menyengat dan kualitas udara yang memburuk membuat warga mengeluhkan mata perih hingga sesak napas.
Berdasarkan data pemantauan IQAir pada pukul 20.00 WIB, sejumlah titik pemantauan kualitas udara di Palembang menunjukkan kondisi berbahaya hingga sangat tidak sehat.
Tiga titik pemantauan tercatat berada pada level berbahaya, yakni kawasan Universitas Sriwijaya Bukit dengan indeks 491, GP Palembang mencapai 320, serta Demang Lebar Daun sebesar 605.
Sementara itu, dua titik lainnya masuk kategori sangat tidak sehat, yakni Sukarami dengan indeks 261 dan Musi 2 Palembang sebesar 204.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi masyarakat, terutama warga yang beraktivitas di luar rumah pada malam hingga dini hari. Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya olahraga di ruang terbuka, serta menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel halus.
Warga Keluhkan Mata Perih dan Sesak Napas
Kabut asap yang kembali menebal turut mengganggu aktivitas warga. Di kawasan Stadion Jakabaring Palembang, sejumlah warga yang berolahraga mengeluhkan mata perih dan sesak napas.
Arinita, warga Palembang yang ditemui di kawasan tersebut pada Minggu (18/10/2026), mengatakan kondisi udara sempat terlihat lebih cerah dalam satu hingga dua hari terakhir. Namun, kabut asap kembali menebal sehingga aktivitas olahraga terasa tidak nyaman.
“Kemarin sehari dua hari cuaca kelihatan cerah, tapi hari ini tebal lagi asapnya,” ujar Arinita.
Ia mengaku kesulitan berolahraga karena jarak pandang berkurang dan asap membuat pernapasan terasa terganggu.
Menurutnya, penyebaran dry ice yang sebelumnya dilakukan untuk membantu mengatasi kabut asap sempat memberikan harapan kondisi udara akan membaik. Namun, kabut asap kembali muncul.
“Kasihan anak-anak sekolah yang daring. Tolong segera diatasi, kasihan juga sudah banyak yang sakit ISPA,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Medi, warga lainnya. Ia berharap upaya penanganan kabut asap, termasuk teknologi dry ice, dapat dievaluasi dan ditingkatkan jika diperlukan.
“Memang kabut asap ini sangat mengganggu aktivitas olahraga, seperti mata pedih dan pernapasan,” ujarnya.
Asap Menyengat hingga ke Permukiman Gandus
Kabut asap juga terpantau di sejumlah ruas jalan dan kawasan permukiman. Di Perumahan Albarian, Kecamatan Gandus, warga mengaku mencium bau asap menyengat saat keluar rumah untuk beraktivitas.
Yana, salah seorang warga, mengatakan asap terasa semakin tebal ketika dirinya hendak keluar rumah untuk berjualan.
“Ya tebal, saat saya keluar rumah dan mau berjualan asap sangat tebal. Mata perih dan sesak napas,” kata Yana.
Warga lainnya, Yudi, menyebut kabut asap sempat menipis sehari sebelumnya, tetapi kembali menebal pada Minggu pagi. Ia memperkirakan jarak pandang di wilayah tempat tinggalnya hanya sekitar 100 meter.
Berdasarkan data pemantauan kualitas udara yang dikutip dalam laporan tersebut, kawasan Gandus pada Minggu dini hari hingga pagi mencatat indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) sebesar 163, dengan kategori tidak sehat dan kondisi polusi berupa asap (smoke).
Pada saat itu, suhu tercatat 27 derajat Celsius, kelembapan 83 persen, dan kecepatan angin sekitar 2 kilometer per jam. Angin yang lemah dapat mengurangi penyebaran polutan sehingga asap berpotensi bertahan lebih lama di suatu kawasan.
Masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk. Jika mengalami sesak napas atau keluhan pernapasan yang memburuk, warga disarankan segera mencari pertolongan medis.
(**)







