Palembang, Sumselupdate.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menekan bisnis perhotelan di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).
Memburuknya kualitas udara sejak September 2026 berdampak pada tren pemesanan kamar, mobilitas masyarakat, hingga potensi penyelenggaraan kegiatan bisnis dan pariwisata.
Dampak tersebut dirasakan Batiqa Hotel Palembang. Tren pemesanan kamar pada hari yang sama atau same-day pickup yang biasanya mencapai 40–45 persen, kini turun menjadi sekitar 20–25 persen pada akhir September hingga Oktober 2026.
Manager Front Office Batiqa Hotel Palembang, Nando Febri Hariyanto, mengatakan kabut asap memengaruhi tren pemesanan awal atau pre-reservation yang menjadi salah satu indikator permintaan kamar hotel.
“Biasanya kita bisa mengoptimalkan 40–45 persen di hari yang sama. Namun, dikarenakan kabut asap, khususnya pada akhir September hingga Oktober ini, kita hanya bisa mendapatkan 20–25 persen dari sisi tren tersebut. Sangat berdampak di bisnis perhotelan, khususnya di Batiqa Hotel Palembang,” ujar Nando, Jumat (16/10/2026).

Penurunan tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi industri perhotelan ketika kondisi lingkungan mengganggu aktivitas dan rencana perjalanan masyarakat.
Selain memengaruhi mobilitas, kabut asap juga berpotensi mengganggu perjalanan udara. Ketidakpastian jadwal penerbangan dapat membuat tamu dari luar daerah menyesuaikan rencana kedatangan, termasuk untuk keperluan bisnis maupun wisata.
Situasi ini turut menjadi perhatian sektor perhotelan karena Palembang merupakan salah satu pusat kegiatan bisnis di Sumsel. Berkurangnya perjalanan tamu berpotensi memengaruhi permintaan kamar serta pelaksanaan kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
Batiqa Hotel Tawarkan Promo untuk Tarik Tamu
Menghadapi kondisi tersebut, Batiqa Hotel Palembang berupaya menarik minat tamu melalui program promosi Sunday dan Monday Deals.
Melalui program ini, tamu tidak hanya mendapatkan fasilitas kamar, tetapi juga sejumlah keuntungan tambahan untuk mendukung pengalaman menginap atau staycation. Salah satunya adalah minuman kopi khas Batiqa sebagai signature drink.
Nando berharap kondisi kabut asap akibat karhutla segera teratasi sehingga aktivitas masyarakat kembali normal dan sektor perhotelan dapat memulihkan kinerjanya.
“Karhutla ini semoga segera bisa teratasi, sehingga perekonomian kembali membaik, salah satunya di perhotelan. Kita bisa back to normal dan sama-sama menghirup udara yang lebih segar ke depannya,” katanya.
Tujuh General Manager Hotel Laporkan Penurunan Hunian
Sementara itu, Pengurus BPD Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumsel, Leofaragusta, mengatakan sedikitnya tujuh general manager hotel telah menyampaikan laporan mengenai penurunan tingkat hunian.
Menurutnya, dampak kabut asap cukup terasa di Kota Palembang. Selain menjadi tujuan kunjungan, Palembang juga berperan sebagai pusat aktivitas bisnis yang mendatangkan tamu dari berbagai daerah.
“Sebagian yang kita dapat kabar, khususnya di Kota Palembang, terjadi penurunan yang cukup signifikan. Sebab, Kota Palembang ini bukan hanya sebagai tempat tujuan pariwisata, tetapi juga menjadi pusat bisnis,” ujarnya.
Penurunan tingkat hunian yang dilaporkan sejumlah pengelola hotel menjadi perhatian bagi industri perhotelan di Sumsel. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara dan kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi memengaruhi kegiatan ekonomi.
Pemulihan kualitas udara diharapkan dapat membantu mengembalikan mobilitas masyarakat, menjaga kelancaran perjalanan, serta mendorong aktivitas bisnis dan pariwisata di Kota Palembang.
(**)







