Jakarta, Sumselupdate.com – Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya salah satu jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 yang berasal dari Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), akhirnya teridentifikasi.
Jenazah itu bernama Chandra Kirana yang teridentifikasi berjenis kelamin laki-laki berusia 29 tahun.
Selain Chandra Kirana, Tim Disaster Victim Investigation (DVI) Polri mengidentifikasi dua jenazah korban pesawat Lion Air JT 610. Tiap jenazah teridentifikasi melalui kecocokan dari postmortem dan antemortem.
“Ada 3 body part yang dinyatakan teridentifikasi,” ucap Kepala RS Polri Kombes Musyafak dalam konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (2/11/2018).
Berikut ini penjelasannya:
– Jenazah pertama atas nama Chandra Kirana
Jenazah Chandra Kirana teridentifikasi berjenis kelamin laki-laki berusia 29 tahun. Dari data yang disampaikan Musyafak, Chandra berasal dari Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), Sumatera Selatan.
“Dari hasil rekonsiliasi di mana adanya data terbaru CCTV dari Angkasa Pura yang diberikan pada kami memang betul penumpang atas nama yang disampaikan tadi naik pesawat Lion. Terlihat memakai sepatu persis seperti sepatu yang ada di postmortem,” ucap Musyafak.
Dia kemudian menunjukkan foto dari keluarga yang memperlihatkan Chandra mengenakan sepatu ketika di Bali. Musyafak lalu menunjukkan foto dari CCTV yang menampilkan sepatu yang sama yang dipakai Chandra saat di bandara.
– Jenazah kedua atas nama Monni
Jenazah Monni teridentifikasi dari tato. Musyafak mengatakan timnya menelusuri lokasi Monni membuat tato itu, lalu mendapatkan maket yang sama dengan tato di body part yang didapatkan.
“Kita dapatkan data antemortem diberikan keluarga dan kami telusuri. Saya tanyakan waktu itu tato di mana dan ini adalah maket atau gambar yang dilakukan oleh orang (yang membuat tato),” ucap Musyafak.
Namun Musyafak tidak menyebutkan di bagian tubuh mana. Monni teridentifikasi berusia 41 tahun.
– Jenazah ketiga atas nama Hizkia Jorry Saroinsong
Jenazah Jorry teridentifikasi dari sidik jari. Kapus Inafis Bareskrim Polri Brigjen Hudi Suryanto menjelaskan tentang proses identifikasi.
“Kami mendapatkan body part berupa lengan sebelah kanan, posisinya yang bisa teridentifikasi adalah 3 jari ini, jadi lengan kanan dengan jari yang jempol kanan, telunjuk kanan, tengah dan manis putus atau rusak, dan yang kelingking kurang jelas sidik jarinya,” ucap Hudi.
Jari Jorry itu kemudian dicek dan memunculkan identitas dari e-KTP. Jorry diketahui berusia 21 tahun dan beralamat di wilayah Kramat, Senen, DKI Jakarta.
Dari Denpasar ke Jakarta
Diberitakan sebelumnya, empat warga Kabupaten PALI yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 pada Senin (29/10), bernama Candra Kirana (29), Cici Ariska (28), Ase Sarifudin (25), Dadang (27).
Ternyata keempatnya bersama dua rekannya lain dari Denpasar, Provinsi Bali menuju Jakarta dan dilanjutkan menuju Bandara Depati Amir Kota Pangkal Pinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Hal itu juga terlihat dari manifest daftar penumpang yang diterima media ini.
“Benar, mereka awalnya berenam dari Bali, yaitu Candra Kirana (29), Cici Ariska (28), Ase Sarifudin (25), Dadang (27) serta dua orang lainnya yakni Bayu Saputra dan istrinya. Bayu merupakan adik dari Candra Kirana,” ungkap Masri, keluarga dari Candra Kirana, korban dari jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.
Masri juga mengatakan bahwa mereka berenam di Bali ada urusan pekerjaan.
“Nah, setiba di Jakarta ketika transit, Bayu dan istrinya bertolak ke Palembang dengan naik pesawat yang lain. Sementara Candra, Cici, Asep, dan Dadang lanjut ke Pangkal Pinang dengan tetap naik pesawat tersebut. Hingga akhirnya, terjadilah kejadian yang tidak diinginkan itu,” imbuhnya.
Anang Urip (61) ayahanda dari Candra Kirana berharap yang terbaik untuk anak dan menantunya.
“Kami siap menerima apapun ke adaannya, asalkan bisa ditemukan, dan bisa dibawa ke rumah ini,” terangnya dengan nada sedih.
Senada dikatakan ibunda Candra Kirana, Husnaini (55), warga Kelurahan Pasar Bhayangkara Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI,
“Kami masih berharap banyak, anak dan menantu kami bisa pulang selamat dan berkumpul lagi bersama kami, terlebih lagi, menantu kami tengah mengandung tiga bulan,” harap Husnaini sambil memegangi foto Chandra dan Cici, Kamis (1/11). (dtc/adj)











