Hendardi: Bom di Makassar, Protokol Penanganan Ekstremisme-Kekerasan Tidak Boleh Kendor

Ketua Setara Institute Hendardi.

Jakarta, Sumselupdate.com – Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan  telah terjadi peristiwa bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Jalan Kartini, Kota Makassar, sekitar pukul 10.30 WIB.

Dalam peristiwa tersebut 10 orang menjadi korban, satu di antaranya meninggal yang diduga pelaku, dan 9  mengalami luka  terdiri dari 5 petugas keamanan dan 4 jemaat gereja.

Bacaan Lainnya

Terkait dengan kasus bom bunuh diri tersebut, Setara Institute menyampaikan  pernyataan, mengutuk keras tindakan bom bunuh diri yang dilakukan pihak  tidak bertanggung jawab, menyampaikan simpati kepada  korban  dan seluruh umat Kristiani di Indonesia, dengan harapan semoga peristiwa tersebut tidak mengurangi kekhidmatan umat Kristiani yang sedang merayakan Pekan Suci tahun 2021 yang diawali dengan Minggu Palm hari ini.

Dalam pandangan Setara Institute, kata Hendardi, peristiwa bom bunuh di Makassar merupakan sinyal keras bagi seluruh pihak, terutama pemerintah untuk tidak  kendor melaksanakan ‘protokol’ penanganan ekstremisme-kekerasan,di ranah pencegahan maupun penindakan.

Ekstremisme-kekerasan yang didorong oleh stimulus ideologis tidak akan surut hanya karena pandemi dan tidak juga karena semakin baiknya perangkat instrumental (peraturan) dan institusional (kelembagaan) penanganan ekstremisme-kekerasan oleh negara.

“Di tengah konsentrasi tinggi pemerintah dalam penanganan dampak pandemi, perhatian pada penanganan ekstremisme-kekerasan tidak boleh berkurang,” kata Hendardi di Jakarta, Minggu (28/3/2021).

Dikatakan, Setara Institute mendesak pemerintah  melakukan tindakan komprehensif dan terukur untuk memitigasi dan melakukan penegakan hukum yang presisi sesuai kerangka negara hukum untuk menjamin keselamatan seluruh warga.

Dikatakan, dalam rangka mitigasi dan pencegahan, belum lama ini Presiden telah menandatangani Peraturan Presiden No 7 tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN-PE).

Akselerasi penerapan Perpres tersebut secara komprehensif dan terukur lanjut dia, mendesak  dilakukan dalam rangka mencegah berulangnya peristiwa  di Makassar hari ini.

Setara Institute katanya juga mendesak pemerintah daerah dan elemen masyarakat sipil berkontribusi signifikan bagi pencegahan ekstremisme-kekerasan dengan memupus lingkungan pemicu bagi terjadinya ekstremisme serta membangun lingkungan yang toleran dan inklusif.

Sehingga seluruh anak bangsa dapat hidup berdampingan secara damai  di tengah perbedaan dalam kebinekaan.

Penerimaan atas kebinekaan sambung Hendardi, merupakan prediktor utama bagi keberhasilan penanganan ekstremisme kekerasan dan bagi penguatan kebinekaan. (duk)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.