Laporan: Novrico Saputra
Pagaralam, Sumselupdate.com – Sejumlah perajin tahu dan tempe di beberapa daerah di Indonesia melakukan mogok produksi.
Aksi mogok produksi ini ini dilakukan perajin tahu dan tempat untuk memprotes melambungnya harga kacang kedelai yang merupakan bahan baku utama dari kedua pangan tersebut.
Namun mogok produksi itu tidak dilakukan oleh para perajin tahu dan tempe di Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).
Hal tersebut dilakukan para perajin tahu dan tempe di Pagaralam karena untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Salah seorang perajin tahu di Desa Gunung Gendang, Kota Pagaralam, Suratman (58) mengaku, masih tetap memproduksi tahu meski ada ajakan untuk mogok dari sejumlah perajin tahu dan tempe di sejumlah daerah.
“Kami bukan tidak ikut mogok Pak, sebab jika kami mogok maka kami tidak bisa makan. Karena hasil jual tahu inilah andalan kami untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya.
Namun diakuinya, jika kenaikan harga kacang kedelai ini membuat para perajin tahu dan tempe di Pagaralam menjadi resah. Pasalnya mereka tidak bisa mendapatkan untung seperti dulu.
“Saat ini keuntungan jual tahu hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Maka dari itu, kami tetap produksi meskipun harga kedelai naik demi untuk makan kami Pak,” katanya.
Senada dikatakan Susi (52) pedagang tahu yang mengakui jika melambungnya harga kacang kedelai menyulitkan perajin tahu dan tempe. Terlebih lagi kenaikan harga kacang kedelai diiringi dengan naikknya harga minyak goreng.
“Saat ini kami semakin sulit dengan naiknya harga minyak goreng. Karena untuk mengoreng tahu kami harus menggunakan minyak goreng. Jadi agar tidak rugi kami saat ini menggunakan minyak curah Pak,” jelasnya.
Dirinya menyebutkan saat ini harga kedelai sekitar Rp11.500 per kilogram dari Rp10.000 per kilogramnya.
Sedangkan per karung saat ini mencapai Rp550 ribu persak dari Rp300 ribu persak dengan berat 50 lilogram. (**)











