Palembang, Sumselupdate.com – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Palembang menyiagakan sekitar 800 personel untuk mengantisipasi sekaligus menangani tingginya kejadian kebakaran, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ratusan personel tersebut ditempatkan di delapan pos dengan sistem kerja tiga shift. Pola tersebut diterapkan agar pelayanan dan penanganan kebakaran dapat dilakukan selama 24 jam.
Kepala DPKP Kota Palembang, Kemas Haikal, mengatakan personel terus disiagakan untuk menangani berbagai kejadian kebakaran di wilayah Kota Palembang.
“Kami terus melakukan pemadaman kebakaran. Kami telah menyediakan lebih kurang 800 personel di 8 pos dengan pembagian shift sebanyak 3 shift,” kata Kemas Haikal.
Dalam penanganan karhutla, DPKP Palembang juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palembang maupun BPBD Provinsi Sumatera Selatan.
Haikal mengatakan, sejumlah titik kebakaran terkadang sulit dijangkau melalui jalur darat. Untuk kondisi tersebut, DPKP meminta dukungan pemerintah provinsi, termasuk bantuan pemadaman menggunakan helikopter.
“Ada beberapa kejadian keterbatasan akses sehingga kita minta bantuan dari provinsi dengan menggunakan helikopter,” ujarnya.
Intensitas penanganan kebakaran yang berlangsung dalam waktu cukup panjang juga membuat sejumlah personel mengalami kelelahan. Namun, Haikal memastikan kondisi para petugas kini telah kembali pulih setelah mendapatkan waktu untuk beristirahat.
“Ada beberapa kejadian personel kelelahan karena penanganan yang panjang, tapi kemarin juga kita dapat bantuan dari pemerintah. Kita kasih waktu untuk istirahat,” katanya.
Ia memastikan sejauh ini tidak ada personel DPKP yang harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat tugas penanganan kebakaran.
“Alhamdulillah belum ada. Yang kemarin dibawa ke rumah sakit Alhamdulillah tidak ada gejala berat dan sudah pulang ke rumah,” ujarnya.
Hampir 400 Kebakaran dalam Sebulan
Tingginya intensitas kebakaran terlihat dari data DPKP Palembang. Sepanjang September 2026, tercatat 396 kejadian kebakaran.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 345 kejadian merupakan kebakaran lahan, sedangkan 51 kejadian terjadi di kawasan permukiman.
“Selama bulan September ini lebih kurang 400-an, 400 kurang sedikit, terdiri dari 345 itu lahan, 51 itu pemukiman,” kata Haikal.
Jika dihitung sejak Agustus hingga September 2026, DPKP mencatat 510 kejadian kebakaran lahan dan 88 kejadian kebakaran nonlahan.
Untuk kebakaran di kawasan permukiman, korsleting listrik menjadi salah satu penyebab yang banyak ditemukan. Sementara penyebab kebakaran lahan masih beragam dan perlu ditelusuri berdasarkan kondisi di masing-masing lokasi.
“Untuk lahan sejauh ini berbagai macam kemungkinan. Seperti kemarin ada satu lokasi kalau tidak salah di Siring Boring, kita berkolaborasi dengan pihak kepolisian, ada pembakaran yang diproses secara langsung,” jelasnya.
Tambahan Dukungan Operasional
Seiring meningkatnya aktivitas penanganan karhutla, pemerintah juga memberikan tambahan dukungan anggaran untuk menunjang operasional petugas di lapangan.
Haikal mengatakan tambahan anggaran tersebut antara lain digunakan untuk kebutuhan makan dan minum personel serta bahan bakar kendaraan operasional yang mengalami peningkatan penggunaan selama penanganan kebakaran lahan.
“Untuk anggaran, Alhamdulillah memang hasil koordinasi untuk operasional karhutla kita ada penambahan dari makan minum lapangan, juga bahan bakar karena selama beroperasi ada peningkatan kebakaran lahan,” katanya.
(**)







