Palembang, Sumselupdate.com –Dinas Peternakan Sumatera Selatan (Sumsel) terus berupaya ikut serta menstabilkan harga daging sapi dan daging ayam di pasaran menjelang Hari Raya Idul Fitri 1437 H.
Salah satu langkah yang dilakukan Disnak Sumsel dengan melakukan koordinasi dengan pihak terkait baik dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel, juga dengan pengusaha.
Kepala Dinas Peternakan Sumsel DR Ir Amruzi Minha, MS kepada Sumselupdate.com, Senin (20/6), mengatakan, selain berkoordinasi dengan pihak terkait, pihaknya juga memberikan informasi mengenai cara mengelola pemotongan hewan ternak dengan baik dan sehat serta mendorong agar Rumah Pemotongan Hewan (RPH) bisa menjalankan fungsinya secara maksimal di tengah permintaan daging sangat tinggi.
“Intinya sesuai fungsi kami akan membantu upaya pemerintah menstabilkan harga daging, dan tentu bekerja sama dengan instansi terkait. Karena upaya ini tidak bisa dikerjakan oleh satu pihak saja harus ada koneksi dengan pihak lain termasuk pengusaha. Pastinya, kami tetap memantau agar daging diolah bersih serta dengan cara yang halal, sebelum dipasarkan,” katanya.
Pada kesempatan itu dia mengimbau pengusaha daging tidak berlebihan mengambil untung di saat kebutuhan daging terus meningkat terutama pada bulan ramadhan dan menjelang lebaran.
Selain itu, Amruzi mengimbau juga masyarakat tidak ketergantungan dengan daging sapi dan bisa beralih ke lauk lainnya seperti ikan.
Diakuinya, kebutuhan daging sapi di Provinsi Sumsel masih terlalu tinggi dengan pemenuhannya yang berasal dari dalam provinsi sendiri.
Dikatakannya, kebutuhan daging di Sumsel mencapai 100 ekor atau sekitar 3.000 ekor sapi per bulannya. Sedangkan pemenuhan yang dilakukan dari dalam provinsi hanya 30 persennya.
Kebanyakan pemenuhan tersebut berasal dari RPH Gandus, Palembang. Sementara pemenuhan sisanya, didatangkan dari provinsi lain seperti Lampung.
Meski begitu, Amruzi menegaskan pihaknya akan mengupayakan agar kebutuhan daging sapi dapat terpenuhi dengan baik.
“Sumsel menjadi pilot project program nasional sentra peternakan rakyat (SPR). Untuk tahap awal sudah berjalan di tiga kabupaten yakni Sembawa Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Kabupaten Musi Banyuasin. Ke depannya kami mencoba mengurangi pasokan luar provinsi dengan pasokan dari daerah sendiri, khususnya dari Sembawa,” ujarnya.
Tingginya harga daging sapi yang mencapai Rp120.000-125.000 per kilogram di pasaran, menurut Amruzi, disebabkan beberapa faktor, yakni keluarnya kebijakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen terhadap sapi-sapi impor.
Kemudian, kuota impor yang dikurangi oleh pemerintah pusat, serta harga pakan ternak naik.
“Harga pakan ini juga berpengaruh di Sumsel. Faktor yang paling menentukan naiknya harga daging sapi yakni pasokan dalam negeri atau sapi lokal yang tak sebanding dengan kebutuhan daging sapi di Sumsel,” ujarnya.
Berkaitan belum turunnya harga daging sapi di pasaran, Ketua Komisi II DPRD Sumsel H Joncik Muhammad mengajak semua pihak turun ke pasar-pasar mengecek harga daging di pasar terutama yang ada di Palembang.
“Kita kemarin baru rapat mengundang Kepala Disperindag mempertanyakan kenapa harga daging belum turun, pasti ada apa-apanya. Segera kita turunkan berbagai stakholder dan aparat jika ada penimbunan dan mafia agar itu bisa di tindak tegas,” kata Joncik, Minggu (19/6). (hyd)











