Dirjen Perlintan Tanaman Pangan Kementan RI Tinjau Sawah Organik

Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia (RI), Dr, Ir, Takdir Mulyadi MM didampingi Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Yosi Utami SP, dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ir Sahrul MSi, saat meninjau Sawah Organik di Desa Lubuk Seberuk

Laporan: Syakbanudin

Kayuagung, Sumselupdate.com – Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia (RI), Dr Ir Takdir Mulyadi, MM didampingi Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Yosi Utami SP dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ir Sahrul, MSi, Rabu (22/9/2021), meninjau sawah organik IP 300 yang sebelumnya sudah dilakukan deplot (demonstrasi plot), di Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya.

Read More

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ir Sahrul MSi, ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis (23/9/2021) mengatakan, sawah organik ini merupakan program 4PHT (Pemberdayaan Petani, dalam Pemanfaatan Pemberantasan Hama Terpadu) tujuannya adalah agar petani yang ada baik dari sisi penggunaan sarana produksi maupun perlindungan tanahnya itu memanfaatkan bahan-bahan organik atau bahan-bahan alami yang ada di sekitar wilayah petani itu sendiri.

Dengan kata lain, tidak menggunakan bahan kimia sintetik dalam aplikasi pupuk maupun pestisida.

“Misalnya, petani menggunakan pupuk organik untuk menyuburkan lahannya. Kemudian, untuk memberantas hama penyakit pun menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar. Ini bisa dibuat oleh petani misalnya dengan batang pisang, buah maja, sabut kelapa dan lain-lain. Setelah sebelumnya dilakukan fermentasi dan bahan-bahan tadi dapat aplikasikan untuk memberantas hama penyakit. Dan ini bisa berfungsi sebagai pestisida maupun untuk hama penyakit tanaman,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten OKI, Ir Sahrul, MSi.

Ditambahkannya, ke depan program ini akan dilanjutkan dan dikembangkan, dimana jika sebelumnya sawah organik deplot baru 25 hektar maka pada Oktober bulan depan pertanaman akan lebih luas lagi yakni sekitar 200 hektar di Kecamatan Lempuing.

Sahrul menjelaskan dari hasil tinjauan dilapangan bersama Dirjen Tanaman Pangan Kemetan RI, memang begitu banyak perbedaan antara sawah organik dengan sawah non organik. Hal ini dapat di lihat dari pertumbuhan padi, baik dari sisi warna, dimana organik lebih hijau.

Kemudian, batang tanaman padi lebih kekar (besar). Begitupun dengan rumpun yang dihasilkan peranakan lebih banyak yang dihasilkan juga ketinggian tanaman padi dan daunnya yang sangat lebar.

“Nah, melihat kondisi tersebut ini tentu menambah keyakinan kita, dalam menggunakan bahan hayati. Sebab manfaatnya sangat besar bagi petani. Di samping dalam meningkatkan pertanian dari sisi produktifitasnya, persatuan lahan juga memberikan kesehatan bagi kita dan anak cucu kita kelak,”ungkap Sahrul. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.