Ahmad Muddail Umam, siswa kelas X SMA Negeri 12 Palembang, membuktikan bahwa di balik kibaran Merah Putih ada peluh, disiplin, doa orang tua dan perjuangan panjang. Di usia 16 tahun, Umam mendapat kehormatan menjadi pembentang bendera pada HUT ke-81 RI, sebuah tugas yang dimaknainya sebagai wujud cinta Tanah Air dan penghormatan kepada para pahlawan.
TANGAN Ahmad Muddail Umam mungkin hanya memegang dan membentangkan selembar kain Merah Putih. Namun, di balik gerakan sederhana itu, tersimpan perjuangan panjang seorang remaja yang berlatih keras demi menjalankan tugas pada upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Palembang.
Siswa kelas X SMA Negeri 12 Palembang itu berhasil lolos sebagai anggota Paskibraka Kota Palembang Tahun 2026. Di usianya yang hampir menginjak 16 tahun, Umam mendapat kehormatan menjadi salah satu petugas pembentang Bendera Merah Putih pada upacara kemerdekaan.
Bagi Umam, kesempatan tersebut bukan sekadar tugas dalam sebuah upacara. Ada kebanggaan, rasa haru, sekaligus tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan penuh konsentrasi.
Putra bungsu dari dua bersaudara pasangan Nasrullah, SP, MSi dan Miftahul Darsih, SPd itu menyadari bahwa berada di barisan Paskibraka berarti membawa nama sekolah, keluarga, sekaligus mengemban amanah untuk menghormati perjuangan para pahlawan.
Ketika pertama kali mengetahui dirinya dipercaya menjadi petugas pembentang bendera, perasaan bangga dan bahagia langsung menyelimuti dirinya.
Bahkan, keinginan untuk menjadi bagian dari Paskibraka sebenarnya sudah muncul sejak Umam masih bersekolah di MTs Negeri 1 Palembang.
Kini, impian itu menjadi kenyataan.
Namun, jalan menuju lapangan upacara tidaklah mudah.
Setiap hari Umam bersama anggota Paskibraka lainnya harus menjalani latihan yang menguras fisik dan mental. Aktivitas dimulai sejak subuh dengan senam, kemudian dilanjutkan latihan pada pagi dan sore hari, termasuk latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB).
Terik matahari menjadi salah satu tantangan tersendiri.
Tubuh harus tetap tegap, langkah harus seragam, gerakan harus tepat, sementara konsentrasi tidak boleh terpecah sedikit pun.
Belum selesai dengan latihan fisik pada siang dan sore hari, malam harinya para anggota Paskibraka masih harus mengikuti kegiatan di kelas atau ruangan hingga sekitar pukul 22.00 WIB.
Rasa kantuk pun tak jarang datang.
Tetapi Umam memilih bertahan.
Dorongan dari kedua orang tuanya menjadi salah satu kekuatan terbesar. Selain itu, ada cita-cita yang ingin diwujudkannya.
“Harus bisa melaksanakan tugas,” demikian tekad yang terus ia tanamkan selama menjalani latihan.
Dalam proses latihan, Umam juga pernah melakukan kesalahan. Namun, pelatih tidak membuatnya patah semangat. Justru semangat dan arahan diberikan agar kesalahan tersebut dapat diperbaiki.
Latihan demi latihan akhirnya membuat gerakan yang awalnya belum sama dengan rekan-rekannya menjadi semakin kompak.
“Awalnya latihan PBB tidak sama dengan kawan-kawan, tetapi setelah ikut latihan terus, akhirnya sama dan kompak,” kenangnya.
Di situlah Umam memahami bahwa menjadi Paskibraka bukan hanya tentang kemampuan fisik. Disiplin, kerja sama, konsentrasi dan mental yang kuat menjadi bagian penting yang harus dimiliki.
Pelatih pun terus mengingatkan agar Umam menjaga konsentrasi, fokus dan kondisi fisik.
Sebab, ketika berdiri membawa Sang Merah Putih, tidak boleh ada ruang untuk kehilangan fokus.
Menjelang pengibaran, rasa gugup tetap menghampirinya.
Nerves.
Namun, ketika melihat Bendera Merah Putih yang akan dibentangkan, pikirannya justru tertuju kepada para pejuang yang dahulu mempertahankan Republik Indonesia.
Bagi Umam, kemerdekaan bukanlah hadiah dari penjajah.
Kemerdekaan lahir dari perjuangan dan pengorbanan rakyat Indonesia.
Karena itu, menjadi petugas Paskibraka menjadi salah satu bentuk kecintaan dan penghormatannya kepada Tanah Air.
“Terharu dan terima kasih kepada para pejuang. Ini wujud cinta Tanah Air,” ujar Umam.
Di lapangan upacara, ketika dirinya berdiri menunggu lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang, Umam berusaha mengesampingkan rasa gugup.
Fokus.
Itulah satu kata yang terus ia pegang.
Sebab, bagi Umam, kehilangan fokus bukan hanya dapat menyebabkan kesalahan pribadi, tetapi juga bisa menjadi beban bagi seluruh tim.
Apalagi sebagai pembentang bendera, ada sejumlah hal yang paling dikhawatirkannya. Tali bendera harus terpasang dengan benar dan Sang Merah Putih tidak boleh sampai terbalik.
Ketika akhirnya tangannya memegang dan membentangkan Sang Merah Putih, perasaan haru tidak dapat disembunyikan.
Di tengah suasana khidmat upacara, ia juga sempat melihat kedua orang tuanya.
Seketika muncul rasa senang dan gembira.
Dari jauh, orang tua yang selama ini menjadi sumber kekuatannya menyaksikan langsung perjuangan sang anak.
Sebelum bertugas, pesan sederhana juga terus disampaikan kedua orang tuanya.
Menjaga kesehatan, tetap fokus dan semangat.
Pesan itu menjadi bekal bagi Umam untuk menyelesaikan amanahnya.
Dan ketika seluruh rangkaian pengibaran selesai tanpa kesalahan berarti, hal pertama yang muncul dalam pikirannya adalah rasa syukur kepada Allah SWT.
Tugas yang sejak awal terasa berat akhirnya dapat dilalui dengan baik.
Orang tua menjadi orang pertama yang ingin ditemuinya setelah tugas selesai.
“Semoga berhasil dan jangan ada kesalahan,” menjadi pesan yang sebelumnya disampaikan orang tuanya.
Kini, setelah melewati proses panjang tersebut, Umam membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman menjadi Paskibraka.
Ia mendapatkan pelajaran tentang disiplin, kekuatan mental, fokus dan arti kerja sama.
Bagi remaja yang tinggal di Perumahan Tanjung Barangan Asri Blok B2, RT 04 RW 03, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang, pengalaman itu menjadi bekal untuk melangkah menuju cita-cita yang lebih besar.
Di luar aktivitas sekolah, Umam juga dikenal sebagai atlet bola voli yang tergabung dalam Klub Kenzie.
Ke depan, ia bercita-cita menjadi anggota TNI atau Polri.
Semangat menjadi Paskibraka, menurutnya, merupakan salah satu bagian dari perjalanan untuk mengejar cita-cita tersebut.
Ia pun memiliki pesan untuk teman-teman seusianya.
Kemerdekaan tidak cukup hanya diperingati setiap 17 Agustus. Semangat kemerdekaan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dengan mencintai Tanah Air, saling membantu dan bekerja sama.
Belajar dengan tekun juga menjadi cara generasi muda mengisi kemerdekaan.
Bagi Umam, para pahlawan telah memberikan teladan melalui perjuangan mereka.
Jika diberi kesempatan berbicara langsung kepada para pejuang kemerdekaan, hanya satu hal yang ingin disampaikannya.
“Terima kasih atas pengorbanannya.”
Kalimat sederhana itu menjadi ungkapan dari seorang remaja yang untuk sesaat berdiri di bawah langit Palembang, membawa Merah Putih dengan kedua tangannya.
Di balik langkah tegap dan gerakan yang terukur, ada seorang anak bangsa yang sedang belajar memahami arti pengorbanan.
Ada latihan panjang.
Ada panas matahari.
Ada rasa kantuk.
Ada kegugupan.
Ada dukungan orang tua.
Dan ada sebuah keyakinan bahwa tugas sekecil apa pun yang dipercayakan untuk Merah Putih harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Umam mungkin baru berusia 16 tahun.
Namun pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI ini, ia telah mendapatkan kesempatan untuk belajar bahwa menjadi generasi penerus bangsa bukan hanya tentang berdiri di barisan paling depan.
Tetapi tentang menjaga kehormatan Merah Putih, menghargai perjuangan para pahlawan, dan menyiapkan diri untuk melanjutkan cita-cita Indonesia dengan disiplin, kerja keras dan cinta Tanah Air.
(**)











