Cerpen: Perempuan Penanam Pohon Kehidupan

Ilustrasi

Matahari baru saja terbangun dari mimpi panjangnya. Geliat sinarnya masih terasa malu-malu menerangi bumi yang mulai bising. Suara kokok ayam bersahutan menyambut datangnya cahaya mentari. Seorang perempuan setengah baya meninggalkan rumahnya. Kakinya terus melangkah.

Melewati jalanan utama Kota yang mulai ramai. Menyambangi gang-gang kecil . Wajahnya amat sumringah. Ada rasa bahagia yang mengalir dalam sekujur tubuhnya menyaksikan sejumlah pepohonan yang mulai mekar. Semekar cahaya mentari pagi yang memberikan nutrisi bagi perkembangan tanaman dan pepohonan yang mulai tumbuh dengan indah.

Bacaan Lainnya

Perempuan setengah baya itu terus melangkah. Wajahnya sangat bahagia. Beberapa orang pun menyapanya dengan suara yang amat akrab. Mareka saling bersapa. Seakan tak ada jarak diantara mareka, walaupun sebutan Ibu terus meluncur dari bibir orang-orang yang menyapanya. Terkadang terdengar suara ketawa yang amat lepas bahkan teramat lepas dari perbincangan mareka.

Perempuan yang dipanggil dengan sebutan Ibu oleh warga Kota itu terus melangkah dan melangkah. Tak ada rasa letih di wajahnya. Tak ada sama sekali. Hanya senyuman yang terus mengembang di wajah bersihnya. Sementara pepohonan yang mulai tumbuh seolah ikut mendampingi langkah kakinya sepanjang jalan.

Lambaian daun dari pepehonan yang mulai lebat seolah melindunginya dari sengatan cahaya mentari yang mulai genit menggoda.

Alhamdulillah,” desisnya seraya memandang pepehonan yang menghijau sepanjang jalanan utama Kota yang mulai menggeliat seiring derap langkah penghuni Kota mencari kehidupan.

Perempuan setengah bayaitu sama sekali tak menyangka. Sama sekali tak menyangka. Tak ada sama sekali dalam benaknya yang cerdas akan tinggal di Kota yang jauh dari pusat perekonomian. Lulusan sekolah tinggi di Ibukota ini tak pernah menyangka hidupnya akan terdampar di Kota kelahiran suaminya. Hidup memang tak dapat diprediksi secara akal sehat oleh manusia. Hidup memang harus dinikmati sebagaimana air yang mengalir.

Berbekal pengetahuannya saat masih di bangku kuliah, perempuan itu terus berjuang untuk ekologi lingkungan tempat tinggalnya. Usahanya untuk meghijaukan Kota terus digelorakannya demi masa depan generasi yang akan datang yang memerlukan oksigen untuk kelanjutan kehidupan. Perempuan setengah baya itu terus bekerja dan bekerja. Tak ada narasi sloganitas bak para pengejar kursi kekuasaan. Tak ada sama sekali.

Perempuan setengah baya itu bekerja dengan aksi nyata. Terjun ke lapangan bersama masyarakat. Membaur bersama warga Kota dalam satu harmoni ritme kerja. Bahu membahu dalam satu nada untuk kelangsungan kehidupan generasi mendatang. Menanam dan menanam pohon kehidupan untuk generasi masa datang.

“Semoga pohon-pohon yang kita tanam, akan menjadi oksigen baru bagi generasi masa depan kita,” ujarnya kepada para warga Kota. ” Selain bermanfaat untuk kita sebagai manusia, pohon juga bermanfaat bagi satwa liar maupun tanaman lain sebagai tempat tinggal, bersarang, mencari makan dan bereproduksi. Dengan melindungi pohon, berarti kita juga melakukan konservasi sumber daya alam,” lanjutnya.

Sore itu, saat duduk di beranda rumahnya yang luas dan asri, sebuah surat datang. Selembar surat berkop sebuah Departeman Negara. Perempuan itu kaget saat membaca isi surat itu. Sinar matanya menggambarkan kekagetan yang sangat luarbiasa. Hampir mau copot jantung tuanya dari katupnya.

“Pak. Saya diundang ke istana,” ceritanya kepada sang suami.

“Alhamdulillah, Bu. Luarbiasa Bu. Luarbiasa,” jawab sang suami dengan nada bangga.

“Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi Pak. Ini kerja keras seluruh warga Kota. Saya tak mau kalau ini dibilang prestasi saya. Ini produk kerjasama seluruh warga Kota,” jawabnya.

Sang suami yang masih memakai baju dinas, hanya menelan ludah. Sudah sangat paham dengan karakter sang istri yang tak pernah mau menyombongkan diri.

Kedatangan sebuah pohon kehidupan yang diberi nama Pohon Adipura bukan hanya membanggakan warga kota sebagai suatu prestasi besar Kota. Namun lebih dari itu. Warga Kota mulai menyadari betapa pentingnya sebuah pohon bagi kehidupan manusia. Sebuah pohon yang bisa memberikan nafas hidup bagi seluruh warga Kota.

Sebuah pohon yang akan menjadi simbol bagi kehidupan generasi mendatang. Sebuah pohon yang mengajarkan mareka untuk mencintai alam. Sebuah pohon yang mengharmonikan jiwa mareka sebagai warga Kota yang mulai menggeliat seiring perkembangan zaman.

Pohon dapat membersihkan udara dari partikel yang mencemari udara. Pohon di perkotaan juga mampu menyelamatkan rata-rata satu kehidupan per tahun di tiap kota karena mereka membersihkan udara dari partikel kotor.

Pohon juga kerap disebut sebagai ‘paru-paru bumi’ karena oksigen yang dihasilkan pohon bermanfaat bagi makhluk hidup lain. Sebuah pohoh mampu menyerap sebanyak 48 ton karbon dioksida per tahun. Ketika berusia 40 tahun, sebatang pohon juga dapat menyerap satu ton karbon dioksida.

Udara yang sejuk kini mulai ternikmati oleh warga Kota. Sepanjang jalan utama sejumlah pohon kehidupan yang berdaun lebat melambaikan-melambai ke arah para warga Kota. Lambaian dedaunannya seolah menjadi payung bagi warga kota dari serangan cahaya mentari yang terik. Lambaian dedaunannya seolah menjadi teman sejati mareka saat para warga menyusuri jalanan kota yang mulai bising dengan deru kendaraan yang mulai menghiasi sebuah Kota.

Sementara di sebuah sudut jalan utama Kota, perempuan itu tersenyum bahagia menatap rerimbunan pohon. Tatapan matanya seolah disambut lambaian dedaunan pohon yang melambai-lambai bak nyiur di pantai. Perempuan bahagia itu melangkah menuju rumahnya dengan ditemani lambaian dedauanan yang tumbuh sepanjang jalan Kota.

Setiap sore, warga mulai menikmati sepoinya udara kota yang segar. Desiran anginnya menyibakan rambut mareka, para penghuni Kota yang damai. Sedamai pepohonan yang menghiasi jalanan sepanjang Kota.


Karya : Rusmin Toboali

Pengirim : Rusmin Toboali

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.