Cerpen: Lelaki di Ujung Malam

Ilustrasi Lelaki di Ujung Malam.

MATAHARI mulai mendaki permukaan langit. Kesibukan mulai terlihat. Deru kendaraan roda dua dan empat saling beradu kencang.

Sekencang jejak langkah para penerus bangsa yang mulai menyusuri jalanan menuju rumah pengetahuan mereka.

Bacaan Lainnya

Matkawi menatap sarapan pagi yang ada di hadapannya. Hanya nasi putih dan ikan asin. Hanya itu. Tak ada telur. Apalagi daging ayam.

“Hidup kita sudah susah. Jadi jangan sekali-kali kamu membuang mekanan di piringmu,” teriak istrinya saat melihat Matkawi menatap lesu piring yang berisikan nasi dan ikan asin yang ada di meja makan mereka.

“Kalau mau makan enak, kerja yang keras. Jangan cuma ngeluyur kesana kemari,” sambung istrinya.

Suara omelannya terus bersenandung seakan-akan hendak memecahkan gendang telinga suaminya.

Dan perempuan itu ngeloyor ke dapur dengan mulut penuh bongkahan kata yang terus berbunyi sembari meninggalkan Matkawi suaminya termangu sendirian menatap meja makan.

Dengan kaki melesu, Matkawi meninggalkan rumahnya. Cahaya matahari mulai terlihat garang. Panasnya mulai terasa di atas kepala Matkawi.

Sepanas hati Matkawi yang selalu mendengar omelan istrinya yang seakan menjadi ornamen rumah mereka.

Pergi dari rumah adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Dan Matkawi mendamparkan dirinya di warung kopi Mbok Iyem.

“Kok baru muncul, Mat? Kemana saja?,” sapa salah seorang pengunjung warung.

Matkawi tak menjawab. Hanya sebuah desahan yang terasa berat yang lelaki itu keluarkan.

Lalu dia menyeruput kopi yang baru diantarkan Mbok Iyem. Ditariknya sebatang rokok dari bungkusnya. Dinyalakannya dengan korek api batangan dan mengisapnya dalam-dalam.

Sedalam keruwetan yang tergambar dalam wajah Matkawi yang menghampiri otak kecilnya.

Di seberang warung kopi Mbok Iyem, hamparan sawah yang meluas menjadi tontonan mata yang menarik bagi Matkawi.

Gerombolan burung-burung liar terbang bebas di udara yang bebas. Meliuk- liuk. Menari-nari.  Lalu menyambar padi yang mulai menguning. Dan pergi.

“Burung-burung itu hanya mencuri untuk sekedarnya. Sekedarnya,” desis Matkawi.

“Iya. Mereka tak tamak seperti kita, manusia berakal. Yang selalu kurang dan kurang. Tak pernah merasakan berkecukupan. Selalu mengeluh dan mengeluh. Padahal kenikmatan sudah diraihnya,” jawab seorang pengunjung warung kopi.

“Itulah sifat manusia. Tak pernah bersyukur. Seperti istri kita. Selalu mengeluh kurang dan kurang. Selalu mengadu ini dan itu. Padahal semua gajiku sudah ku serahkan kepadanya,” celetuk pengunjung warung kopi yang lainnya. Semua mata memandang ke arah lelaki itu. Tak terkecuali Matkawi.

Cahaya rembulan mulai timbul tenggelam dalam pelukan awan yang kadang menipis dan kadang menebal. Matkawi menyalakan sebatang rokok yang masih tersisa di bungkusnya. Asapnya mengepul ke udara yang bebas. Saling berkejaran dengan deru asap knalpot yang mulai hilir mudik.

“Hidup kita sedang susah. Jangan sering-sering merokok,” ujar istrinya yang mengagetkan jantung Matkawi.

Matkawi menatap istrinya. Ada sejumlah guratan kekesalan yang tergambar dalam lukisan wajahnya. Matkawi beranjak dengan langkah yang tergesa-gesa. Langkah kaki menghantarkannya ke sebuah rumah di ujung kampung.

Kedatangan Matkawi membuat sang pemilik rumah bahagia bercampur kaget. Matanya metatap ke arah lelaki muda itu. Dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sudah lama matkawi tak pernah datang ke rumahnya.

“Tumben, Mat. Angin apa yang mengantarkanmu ke sini,” sapa sang pemilik rumah dengan nada suara bahagia sembari memeluk Matkawi, sahabat lamanya.

Matkawi tersenyum seraya menyandarkan punggungnya di kursi. Sang tuan rumah memperhatikan desah nafas Matkawi, sahabatnya.

Sangat berat. Seorang perempuan menyambangi mereka seraya membawa sepasang gelas yang berisikan kopi.

“Diminum dulu, Bro kopinya,” ajak sang pemilik rumah dengan nada suara ramah. Matkawi menyeruput kopi.Ada kelegaan dalam tenggerokannya.

“Tak usah kamu masukan hati semua omongan yang terdengar ditelingamu. Kadang kita perlu menulikan telinga kita. bahkan menyaring suara yang masuk ke gendang telinga kita,” saran temannya.

“Aku ini lelaki, Bro. Dimana harga diriku sebagai lelaki kalau tiap hari aku hanya mendapat omelan dan ocehan dari istriku,” ujarnya setengah mengadu.

“Sabar, Bro. Itu memang sifat wanita. Bermulut dua kata orang-orang,” ucap temannya.

“Jadi? Kamu punya solusi, Bro,” tanya Matkawi.

“Cobalah engkau mengadu kepada Allah, Sang Maha Pencipta. Bukankah Allah telah memerintah kita untuk berdoa kepadanya. Jangan kita menjauhi-NYA pada saat kita bahagia. Apalagi saat kita sedang dilanda kesusahan. Kita harus dekat dengan-NYA. Memohon ampun kepada-NYA. Memohon diberi jalan keluar yang terbaik untuk kehidupan kita,” ujar temannya.

Sekelebat, Matkawi langsung beranjak dari rumah temannya. Langkah kakinya tergesa-gesa. Kakinya mendamparkannya pada sebuah masjid. Matkawi mendekati tempat berwudhu. Dan air mengucur. Matkawi berwudhu.

Dikejauhan malam, Matkawi bersujud. Isak tangisnya memecah suasana malam dengan doanya.

Lelaki itu menangis dalam doanya. Dan hanya kepada Sang Pencipta, Matkawi mengadu. Ya, hanya kepada Sang Maha Pencipta, dia mengadu. (**)

Rusmin Toboali.

Karya: Rusmin Toboali

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.