Sekayu, Sumselupdate.com – CARE Indonesia bersama PT Cargill Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mendorong replikasi serta pengembangan skala usaha berbasis ekonomi sirkular yang dijalankan oleh Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) di wilayah tersebut.
Kolaborasi yang telah berjalan menghasilkan sembilan KUEP di sembilan desa di Kabupaten Muba yang mengembangkan usaha pengelolaan limbah menjadi produk bernilai ekonomi.
Beragam inovasi dilakukan, mulai dari pemanfaatan limbah kelapa sawit menjadi kerajinan anyaman lidi sawit, budidaya jamur merang menggunakan tandan buah kosong (tankos) sawit, budidaya maggot dari lalat Black Soldier Fly (BSF) untuk pengelolaan sampah organik rumah tangga, hingga pengelolaan kebun gizi kelompok sebagai sumber pangan masyarakat.
Untuk mendorong pengembangan skala usaha, perwakilan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin yang terdiri dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Staf Khusus Bupati Muba, serta Manager CSR PT Hindoli melakukan studi ajar ke Maggot Center di Jatijajar, Depok, pada 13 Januari 2026.
Kegiatan ini bertujuan mempelajari integrasi pengelolaan sampah organik dengan budidaya maggot BSF, ternak lele, dan kebun pekarangan warga yang rencananya akan direplikasi di Musi Banyuasin.

CEO CARE Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang, mengatakan pemberdayaan ekonomi perempuan yang dilakukan bersama PT Cargill Indonesia dengan dukungan pemerintah daerah telah berhasil mengembangkan berbagai usaha ekonomi sirkular berbasis pemanfaatan limbah sawit.
“Kami melihat usaha yang dijalankan sembilan KUEP di Muba masih sangat potensial untuk dikembangkan skalanya. Karena itu, kami mengajak mitra kami PT Hindoli dan Pemerintah Kabupaten Muba mengunjungi Maggot Center di Depok, yang merupakan hasil kolaborasi CARE Indonesia dalam pengelolaan sampah rumah tangga berbasis ekonomi sirkular,” ujarnya.
Menurut Abdul, dukungan pemerintah daerah sangat penting, khususnya dalam mendorong kebijakan pengelolaan sampah organik. Studi tiru ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengambil kebijakan dan staf teknis pemerintah daerah agar mampu menerapkan manajemen pengelolaan maggot yang efektif, higienis, dan ramah lingkungan.
“Kami berharap budidaya maggot tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap pengurangan sampah, peningkatan kualitas lingkungan, serta keberlanjutan pengelolaan sampah daerah. Konsep ekonomi sirkular ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” katanya.
Selain pengelolaan sampah, CARE Indonesia juga mendorong peningkatan kualitas produk anyaman lidi sawit. Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan pusat kerajinan serat alam di Kabupaten Kulonprogo untuk melatih 10 pengrajin dari lima KUEP di Musi Banyuasin.
“Pelatihan ini meliputi pengembangan desain dan model anyaman, inovasi produk, penerapan kombinasi bahan baku lidi sawit dengan serat alam lain, serta pengembangan bisnis dan pemasaran,” jelas Abdul.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Musi Banyuasin, Oktarizal, menilai pengelolaan sampah organik rumah tangga melalui budidaya maggot dapat menjadi solusi atas persoalan sampah di daerah sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, khususnya perempuan.
“Kami sangat mendukung program pengelolaan sampah menggunakan maggot yang dikelola oleh masyarakat, terlebih dengan keterlibatan kelompok perempuan. Ke depan, kami juga akan melibatkan berbagai pihak, termasuk perusahaan, untuk berkolaborasi dalam pengelolaan sampah organik dengan metode ini,” ujarnya.
Salah satu anggota KUEP Perempuan Mandiri Sejahtera (PERMATA) Desa Cipta Praja, Sri Anggraini, mengaku antusias mengikuti pelatihan yang difasilitasi CARE Indonesia. Ia berharap kemampuan yang diperoleh dapat meningkatkan kualitas dan daya saing produk anyaman lidi sawit.
“Kami berharap produk anyaman bisa lebih bervariasi, memiliki standar yang lebih baik, dan sesuai dengan permintaan pasar, sehingga usaha ini dapat berkembang lebih luas,” katanya.
(**)











