Palembang, Sumselupdate.com – Menjaga kesetabilan harga dan stok selama Ramadhan dan Idul Fitri, Bulog Divre Sumsel Babel terus melakukan upaya, di antaranya dengan menggelar Pasar Murah yang menyediakan bahan pokok dengan kualitas baik dan harga terjangkau oleh masyarakat.
Kepala Bulog Divre Sumsel Babel M Yusuf Salahuddin mengatakan, kegiatan Pasar Murah sudah mulai dilakukan oleh Bulog untuk menjaga ritme harga upaya ini tentunya karena bulog merupakan bagian dari pemerintah di wilayah Provinsi Sumatera Selatan
“Kami tentunya harus ikut hadir mengisi kalau ada kegiatan pasar murah, kami akan hadir pada saat ada pasar murah menyediakan komoditi beras, minyak, terigu gula dan daging,” katanya.
Menurut Yusuf, Bulog akan memberikan kepada masyarakat Palembang akan pilihan komoditi pangan maupun pangan pokok lainnya dengan kualitas yang baik, sehat dan halal dengan harga yang lebih terjangkau.
Dijelaskannya, seperti daging dari informasi dari kawan-kawan, minat masyarakat juga cukup tinggi. Mudah-mudahan dengan hadirnya daging beku Bulog bisa memberikan pilihan pada masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan protein nya dengan kualitas yang baik, sehat dan halal.
“Ini daging kerbau beku import dari India. Dijual Rp 80 ribu perkilogram. Nah di pasaran tuh masih di kisaran sekitar harga Rp 120 ribu sampai dengan Rp 130 ribu perkilogram,” bebernya.
Sementara untuk stok daging kerbau, Yusuf mengungkapkan, ada kuota berapa pun yang dibutuhkan siap. Stok yang dimiliki sekarang ini 60 ton. Kalau nanti dalam kurun waktu minggu depan dibutuhkan lagi pihkanya akan datangkan lagi. Karena stok yang dikuasai Bulog secara nasional itu terkonsentrasi ada di Jakarta sekarang di sekitar 32. 000 ton.
“Kita yakin dengan angka 32.000 ton daging kerbau beku, Insya Allah masyarakat nggak perlu khawatir,” imbuhnya.
“Nah kita selalu berharap agar para pembeli bisa menjadi pembeli yang cerdas dengan membeli kebutuhan yang secukupnya saja. Tidak perlu panik buying, yang biasanya beli beras itu hanya 10 kilo sebulan karena ini kondisinya bulan puasa ada yang menghembuskan isu bahwa kondisi rawan pangan, maka mereka beli sampai 50 kilo. Nah kondisi-kondisi seperti ini akhirnya dapat menimbulkan penyerapan atau kebutuhan dari masyarakat meningkat,” tutupnya. (adi)











