Jakarta, Sumselupdate.com – Anggota Komisi XIII DPR RI Yanuar Arif Wibowo menyoroti program CKG (Cadangan Karantina Gizi) yang perlu dievaluasi secara menyeluruh. Program jangka panjang harus disesuaikan dengan kondisi teknis dan realita di lapangan, seperti adanya kasus keracunan makanan, menu yang tidak cocok, hingga kurangnya empati dalam penyampaian kritik terhadap situasi.
“Para politisi seharusnya jangan asal bicara tanpa pikir panjang. Misalnya, anak-anak tertentu tidak bisa makan ayam, bukan berarti menunya salah. Perlu kearifan dalam memberikan nutrisi alternatif,” ujar Ysnuar saat menjadi narasumber Dialektika Demokrasi di Gedung DPR Jakarta, Kamis (7/8/2025).
Ysnuar pun menceritakan pengalamannya ketika berkunjung ke Lapas Purwokerto. Dia mengaku terkejut melihat sistem makanan yang tertib dan sehat. Ini bisa dijadikan bukti bahwa orang-orang yang menjalani masa hukuman saja bisa mendapatkan makanan layak dan bergizi, apalagi masyarakat biasa.
“Ini jadi pelajaran juga untuk kita semua, akses terhadap makanan bersih dan sehat harus jadi prioritas, bukan hanya untuk tahanan tapi juga masyarakat luas,” katanya.
Selain makanan, Yanuar juga menyoroti urgensi pengelolaan sumber daya air. Dia memberi contoh kasus di daerah Langgu, Klaten yang dulunya memiliki sumber air besar, namun kini debitnya menurun setelah masuknya perusahaan besar.
“Air itu bukan hanya untuk minum, tapi juga mandi dan kebersihan. Di beberapa desa bahkan masih harus beli air pakai jerigen di Jakarta Utara. Ini ironis di tahun 2025,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga bicara soal kasus anak yang tampak berkecukupan secara ekonomi, namun tetap mengalami masalah gizi karena pola makan tidak tepat.
“Orang tua harus memeriksa kualitas makanan anaknya, jangan cuma karena orang tuanya mampu, terus anaknya diasumsikan sehat,” tuturnya.
Dia berharap peran aktif BPOM dan sekolah mengedukasi anak-anak soal makanan sehat.
Ia sangat prihatin karena masih banyak jajanan anak-anak yang tidak higienis dan mengandung zat berbahaya.
“Uang jajan anak 10 ribu itu bisa dibelikan makanan yang nggak bergizi. Siapa yang mengawasi? Harus ada tindakan konkret, bukan cuma imbauan,” tegasnya.
Politisi Fraksi PKS itu berharap program yang berkaitan dengan gizi, air bersih, dan ketahanan keluarga benar-benar diperhatikan untuk mewujudkan Indonesia Emas di masa depan.
(**)











