Medan, Sumselupdate.com – Anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan, menegaskan, persoalan utama pendidikan tinggi di Indonesia bukan sekadar tumpang tindih program studi antara Perguruan Tinggi Kedinasan (PTKL), Perguruan Tinggi Negeri (PTN), maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS), melainkan pada ketidakadilan dalam alokasi anggaran pendidikan.
“Kalau soal prodi sama, seperti pariwisata, itu tidak masalah. Masalahnya ada di anggaran. Pemerintah memberi biaya operasional jauh lebih tinggi untuk PTKL dibanding PTN, padahal sama-sama membuka prodi umum. Itu yang tidak adil,” tegas Sofyan saat ditemui di Medan, Sumatera Utara, Kamis (11/9/2025).
Menurut Sofyan, PTKL seharusnya hanya difokuskan pada program studi kedinasan yang memang tidak bisa digantikan swasta, seperti militer atau pemerintahan. “Kalau sudah masuk ranah umum, harusnya regulasinya disetarakan,” katanya.
Sofyan juga menyoroti alokasi 20 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pendidikan yang belum tepat sasaran.
Apabila dana yang mencapai Rp778 triliun benar-benar digunakan untuk layanan pendidikan, seluruh jenjang pendidikan bisa digratiskan.
“UU mengamanatkan 20% APBN untuk pendidikan, tapi faktanya banyak yang tidak digunakan langsung untuk layanan pendidikan. Kalau Rp778 triliun dipakai, dari TK sampai sarjana bisa gratis semua,” tegasnya.
Dikatakan, hitungan sederhana terkait pembiayaan mahasiswa di Indonesia. Dengan jumlah sekitar 9–10 juta mahasiswa, kebutuhan beasiswa setara KIP Kuliah yang mencapai Rp16 juta per tahun hanya sekitar Rp160 triliun.
“Artinya, semua mahasiswa bisa kuliah gratis. Kita punya dana lebih dari cukup, tapi orientasinya dipakai untuk program lain seperti makan bergizi. Ini soal pilihan politik, mau prioritaskan gizi atau pendidikan tinggi,” jelas Sofyan.
Dia menilai, tanpa pembenahan kebijakan anggaran, ketimpangan dalam dunia pendidikan tinggi akan terus terjadi.
“Kalau benar-benar fokus, sertifikasi dosen terbayar, UKT ringan, kampus punya sarana. Jadi masalahnya bukan kurang dana, tapi kurang kemauan,” tegasnya.
(**)











