Anggota Komisi  IX DPR Tegaskan Penanganan Stunting Harus Secara Masif

Senin, 2 Oktober 2023
Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina.

Jakarta, sumselupdate.com – Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina mengatakan, penananganan stunting harus dilakukan secara masif dan gerilya. Sehingga, harapan pemerintah  menurunkan stunting hingga 14 persen pada 2024 bisa tercapai.

Hal itu disampaikan Arzeti usai Rapat Kerja Komisi IX DPR RI dengan Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Read More

Dikatakan, setidaknya ada 19 Kementerian dan Lembaga  terlibat dalam penanganan stunting. Sehingga  diperlukan integrasi data secara terpadu dan menyeluruh agar tepat sasaran.

“Dari beberapa Kementerian Lembaga  sudah ada tupoksi masing – masing sudah diberikan anggaran. Harapan kita  dengan adanya penekanan yang diminta pemerintah, kita ingin bergerak secara masif dan gerilya. Artinya, ketika kita bicara data, data yang diberikan  memang data  akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan ada beberapa anggota yang meminta data stunting itu by name by address gitu yah,” kata Arzeti.

Menurut Arzeti, salah satu langkah Kementerian Kesehatan dalam penanganan stunting melalui intervensi dari hulu dengan pemberian tablet penambah darah secara gratis kepada remaja puteri, sebagai calon ibu yang akan melahirkan generasi baru. Gerakan minum tablet penambah darah tersebut untuk mencegah anemia sebagai salah satu faktor risiko penyebab stunting.

“Tetapi disini pemerintah tidak ada pembahasan sama sekali. Apakah obat penambah darah tersebut betul-betul efektif? Ternyata disini tidak dijelaskan juga,” kata Arzeti.

Dia  menambahkan, penanganan stunting perlu dilakukan multi sektor, termasuk pelibatan masyarakat. Karena itu diperlukan kolaborasi antara pemerintah dengan elemen masyarakat.

Misalkan di daerah pemilihan Jawa Timur yang memberdayakan kelompok ibu-ibu sebagai kader pemerintah untuk mensosialisasikan stunting secara door to door.

Politisi dari Fraksi PKB ini juga menambahkan, salah satu faktor penyebab stunting diantaranya belum ada kesadaran ibu-ibu untuk melakukan inisiasi dini. Yaitu memberikan ASI eksklusif minimal enam bulan tanpa ditambahkan makanan lain.

Oleh sebab itu diperlukan sosialisasi secara masif, mengingat banyak Kementerian dan Lembaga menangani permasalahan stunting.

“Mindset kita bahwa garda terdepan untuk penurunan stunting adalah BKKBN. Sementara, anggaran BKKBN  itu tidak sebanyak dengan Kementerian dan lembaga lain. Karena itu, ayo kita cari solusinya, bagaimana mencapai zero stunting,” tuturnya.

“Jadi, jangan hanya bicara penurunan angka stunting yang cepat meningkat. Padahal, realisasinya tidak sama sekali seperti itu. Ayo kita sama-sama cari solusi keterbukaan, cari permasalahan turun nyata ke masyarakat door to door. Jangan hanya sebatas berharap dengan hasil survei, karena hasil survei kan bisa berbeda,” tambahnya. (duk)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts