Banyuasin, Sumselupdate.com – Sungguh tragis akhir hidup Maulana (15). Anak baru gede (ABG) yang tinggal di Dusun Saka 3, Desa Santan Sari, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Banyuasin, menemui ajal dimangsa buaya muara di Sungai Kuala, Desa Santan Sari, Senin (7/11/2016), sekitar pukul 18.00.
Gatot, Kepala Desa Santan Sari kepada wartawan, Selasa (8/11/2016), menuturkan, peristiwa itu berawal saat korban berangkat dari rumahnya pada pagi hari membantu orang tuanya membersihkan rumput di sawah karena dalam waktu dekat akan masuk musim tanam.
Usai membersihkan sawah, sore hari sampah bekas rumput dan semak dari sawah tersebut dikumpulkan dan seperti biasa dihanyutkan ke sungai. Karena sudah sore, air sungai muara menjadi surut yang awalnya sepinggang menjadi daratan.
Korban turun ke tepian sungai untuk membuang sampah bekas membersihkan sawah. “Usai melemparkan rerumputan ke sungai, ternyata ada buaya yang langsung menyambar kaki korban ” kata Gatot.
Buaya yang diperkirakan berukuran 3,5 meter itu menyeret korban ke tengah sungai yang lebarnya mencapai 50 meter lebih. “Perairan di sini memang dikenal merupakan habitatnya buaya Muara,” ungkap kades.
Sementara into, Awahab (40), paman korban menuturkan saat kejadian ibu ABG malang itu berada di lokasi kejadian,
Fauziah (45), ibu korban sempat menyelamatkan putra bungsunya saat diterkam buaya. Tanpa rasa takut, Dia bergulat dengan buaya sepanjang 3,5 meter itu untuk menyelamatkan anaknya.
“Fauziah melihat langsung saat kaki kiri Maulana sudah di mulut buaya, dia menjerit-jerit sambil berusaha merebut anaknya,” kata Awahab.
Mendengar suara jeritan itu, Awahab yang sebelumnya berada di sawah berlari menghampiri.
“Saat saya mendekat, kakak saya sudah sangat dekat dengan buaya. Bahkan dia mencoba membuka mulut buaya tersebut,” katanya.
Khawatir, Fauziah ikut menjadi korban, Awahab menyuruhnya mundur dan tetap memegangi tangan anaknya. Sementara Dia menyerang buaya ganas itu dengan bambu. “Tidak ada senjata lain cuma ada bambu yang saya dapat dekat kejadian,” katanya.
Mendapat serangan Awahab, buya tersebut bergerak berguling-guling. Fauziah yang memegangi tangan korban ikut melintir-melintir di ppasir, mendekati pohon Pedada yang berada di tepi sungai.
“Lalu saya bilang pada kakak saya, agar berpegangan ke pohon dan tidak melepaskan tangan Maulana,” tuturnya.
Sementara Awahab terus menghujani buaya tersebut dengan bambu. Usaha tersebut berhasil membuat buaya melepaskan gigatannya dan kakI Maulana keluar dari mulut buaya.
Namun, belum sempat menyelamatkan korban, Buaya kembali menyerang dan kali ini mengigit badan korban.
“Saat mahluk itu mengigit badan Maulana, kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi, buaya itu langsung lari ke tengah sungai. Cukup lama kami bergulat dengan buaya itu, lebih dari 15 Menit,” kenangnya. (zis)











