Hotspot Karhutla Sumsel Melonjak Jadi 600 Titik, BPBD Perkuat OMC dan Operasi Udara

Writer: - Minggu, 23 Agustus 2026
Petugas melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera Selatan. BPBD Sumsel memperkuat operasi darat, udara, dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menyusul lonjakan hotspot menjadi 600 titik. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Palembang, Sumselupdate.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) semakin meningkat di tengah kondisi cuaca yang kian kering. Jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Sumsel melonjak dari 449 menjadi 600 titik pada Sabtu (22/8/2026).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Muhammad Iqbal Alisyahbana mengatakan, peningkatan jumlah hotspot dipengaruhi kondisi cuaca yang semakin kering.

Read More

Menurut Iqbal, fenomena El Nino saat ini telah memasuki fase sangat kuat sehingga meningkatkan potensi munculnya titik panas di sejumlah wilayah.

“Analisisnya yang pertama karena pengaruh cuaca. Ini kan El Nino kita sudah masuk di fase level sangat kuat, jadi otomatis kekeringan,” kata Iqbal saat dikonfirmasi, Minggu (23/8/2026).

Meski demikian, Iqbal mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan jumlah hotspot dengan titik kebakaran. Hotspot merupakan indikasi panas yang terdeteksi melalui sistem pemantauan, sementara fire spot menunjukkan adanya lokasi kebakaran.

“Hotspot itu akan terjadi ketika daerah itu yang pertama kering, lalu jadi panas. Namun, titik hotspot belum tentu fire spot,” ujarnya.

Menghadapi kondisi yang semakin kering, BPBD Sumsel kembali mendapatkan dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mulai Sabtu. Operasi tersebut direncanakan berlangsung selama lima hari dengan memanfaatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Sumsel.

“Kita hari ini dapat OMC lagi karena kita sampaikan ada potensi awan hujan. Jadi kita hari ini ada ini, sambil menunggu seberapa besar awan hujan itu untuk bisa disemai,” jelas Iqbal.

Pelaksanaan OMC kini tidak hanya berfokus pada siang hari. Penyemaian awan juga dapat dilakukan pada malam hari apabila terdapat potensi awan yang memungkinkan untuk disemai.

Menurut Iqbal, perubahan pola operasi tersebut merupakan hasil koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Lanud.

“Mulai hari ini kalau bisa siang, siang. Kalau bisa malam, malam, yang mana ada potensi awan akan dilakukan OMC,” katanya.

Perluasan waktu pelaksanaan OMC diharapkan dapat memaksimalkan peluang terbentuknya hujan di tengah kondisi kemarau yang semakin kering.

Selain mengupayakan hujan melalui OMC, penanganan karhutla di Sumsel terus dilakukan melalui operasi darat dan udara.

Saat ini, BPBD Sumsel mengoperasikan enam helikopter water bombing dan dua helikopter patroli. Sementara itu, satu helikopter tambahan masih mengalami kendala teknis dalam proses pengiriman dan diperkirakan tiba pada 27 Agustus 2026.

“Penanganan terus kita perkuat, baik itu darat, udara maupun satgas-satgas yang lain,” kata Iqbal.

Penguatan penanganan juga dilakukan melalui satuan tugas penegakan hukum serta sosialisasi kepada masyarakat di wilayah rawan karhutla.

BPBD Sumsel mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta berhati-hati dalam menggunakan api karena kondisi lahan yang semakin kering dapat mempercepat penyebaran kebakaran.

“Dengan hotspot yang terus meningkat, BPBD meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah yang rawan karhutla,” ujar Iqbal.

“Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta berhati-hati ketika menggunakan api di tengah kondisi yang sangat kering,” lanjutnya.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts