Dari Kottu hingga Bus yang Ngebut: Culture Shock Empat Volunteer Indonesia di Sri Lanka (Bagian 2)

Writer: - Sabtu, 15 Agustus 2026
Marvel Valensiano saat mengikuti project On The Maps dalam rangkaian program Global Volunteer di Sri Lanka. (Foto; Sumselupdate.com/Dokumen)

Tinggal beberapa pekan di Sri Lanka membuat Marvel, Malfa, Chansa, dan Vierlya berhadapan dengan berbagai perbedaan yang tak mereka temui di Indonesia. Dari bus yang melaju kencang, klakson yang bersahutan, udara lembap, kebiasaan warga, hingga bahasa dan kuliner yang asing, semuanya menjadi bagian dari culture shock. Namun, di balik kejutan itu, mereka menemukan keramahan warga, pengalaman baru, dan pelajaran bahwa perbedaan justru membuat perjalanan Global Volunteer semakin berkesan.

TINGGAL beberapa pekan di Sri Lanka membuat Marvel Valensiano, Malfa, Chansa, dan Vierlya Nabilah Ghina berhadapan dengan pengalaman yang jauh dari keseharian mereka di Indonesia.

Read More

Bus yang melaju kencang, klakson yang bersahutan, udara lembap, toko yang tutup lebih awal, makanan dengan cita rasa berbeda, hingga bahasa tubuh yang memiliki arti tak terduga menjadi bagian dari culture shock.

Namun, di balik semua itu, mereka menemukan keramahan warga, cara hidup yang berbeda, dan pengalaman yang perlahan mengubah rasa asing menjadi cerita yang berkesan.

Ketika Klakson Menjadi Bahasa di Jalanan

Suara klakson menjadi salah satu hal yang paling cepat dikenali Marvel ketika pertama kali menjalani hari-harinya di Sri Lanka.

Di jalanan, klakson seperti tidak pernah benar-benar berhenti. Sesekali terdengar panjang, lalu disusul kendaraan lain. Bagi Marvel, bunyi itu bukan semata-mata tanda kemarahan atau ketidaksabaran.

Klakson seolah menjadi bagian dari cara pengendara saling berkomunikasi. Memberi tanda, memperingatkan kendaraan lain, atau sekadar memastikan keberadaan mereka di tengah lalu lintas.

Hal sederhana itu membuat suasana jalanan Sri Lanka terasa berbeda.

Perbedaan juga terasa ketika hari mulai sore. Jika di sejumlah tempat di Indonesia aktivitas pertokoan masih berlangsung hingga malam, di Sri Lanka kehidupan masyarakat cenderung lebih cepat melambat.

Sekitar pukul 19.00, banyak toko dan restoran mulai tutup. Jalanan pun perlahan menjadi lebih sepi.

Masyarakat lebih memilih kembali ke rumah dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Bagi Marvel, ritme kehidupan seperti itu menjadi salah satu pengalaman yang menarik. Ia melihat bahwa malam hari tidak selalu harus diisi dengan aktivitas di luar rumah.

Ada kehidupan lain yang berlangsung di balik pintu rumah-rumah warga.

Bus yang Membuat Jantung Berdebar

Jika Marvel dibuat terkejut oleh suara klakson, Malfa justru harus beradaptasi dengan sesuatu yang lebih terasa secara fisik: udara dan transportasi.

Sri Lanka sama-sama berada di kawasan tropis. Namun, kelembapan udara yang dirasakan Malfa terasa sangat tinggi.

Keringat seolah lebih cepat muncul. Rasa gerah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, terlebih tempat tinggalnya hanya menggunakan kipas angin.

Belum selesai beradaptasi dengan cuaca, Malfa harus berhadapan dengan perjalanan menggunakan bus.

Bus merupakan salah satu moda transportasi yang banyak digunakan masyarakat Sri Lanka. Setiap hari, Malfa menggunakannya untuk menuju hatchery.

Pada awalnya, perjalanan dengan bus terdengar seperti rutinitas biasa.

Sampai bus mulai melaju.

Kecepatan tinggi, manuver saat menyalip kendaraan lain dan cara sopir mengambil ruang di jalan membuat perjalanan terasa menegangkan bagi Malfa.

Ada momen ketika ia hanya bisa duduk sambil memperhatikan jalan, berharap perjalanan segera sampai.

Namun, bagi penumpang lokal, cara berkendara tersebut tampaknya sudah menjadi bagian dari keseharian.

Lambat laun, Malfa pun mulai memahami bahwa apa yang terasa mendebarkan baginya bisa jadi merupakan sesuatu yang biasa bagi masyarakat setempat.

Chansa mengalami kejutan serupa ketika menggunakan transportasi lokal.

Tuk-tuk menjadi kendaraan yang akrab dengan keseharian masyarakat Sri Lanka. Bentuknya kecil dan praktis, tetapi perjalanan di dalamnya tidak selalu terasa santai.

Kecepatan tinggi, pengereman mendadak dan tikungan tajam membuat Chansa beberapa kali merasa tegang.

Perjalanan yang hanya membutuhkan waktu singkat bisa berubah menjadi pengalaman yang membuat jantung berdegup lebih cepat.

Tetapi justru dari perjalanan-perjalanan itulah mereka mulai melihat Sri Lanka bukan sebagai wisatawan, melainkan sebagai orang yang benar-benar menjalani kehidupan sehari-hari bersama masyarakat lokal.

Ketika ‘Iya’ Berarti Gelengan Kepala

Culture shock rupanya tidak hanya soal kendaraan dan cuaca.

Bahasa juga menjadi tantangan tersendiri.

Marvel cukup terbantu karena mampu menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Namun, tidak semua warga lokal dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Ketika kata-kata berhenti di tengah percakapan, teknologi menjadi penyelamat.

Google Translate menjadi alat bantu untuk menjembatani maksud yang tidak tersampaikan.

Malfa menghadapi situasi yang sedikit berbeda. Di Unawatuna, banyak warga memahami bahasa Inggris karena kawasan tersebut cukup ramai dikunjungi wisatawan.

Namun, memahami bahasa Inggris bukan berarti percakapan selalu berjalan mulus.

Aksen dan cara pengucapan yang berbeda terkadang membuat Malfa harus memperhatikan setiap kata dengan lebih saksama.

Tantangan serupa muncul ketika ia berkomunikasi dengan teman-teman internasional dari Yunani, Turki dan Mesir. Mereka sama-sama menggunakan bahasa Inggris, tetapi aksen masing-masing membuat percakapan sesekali harus diulang.

Ketika percakapan buntu, Google Translate kembali menjadi jalan keluar.

Chansa memilih cara yang lebih sederhana. Ia menggunakan kosakata bahasa Inggris yang mudah dipahami, terutama ketika berbicara dengan teman-teman internasional.

Sementara Vierlya punya pengalaman yang lebih unik.

Ia pernah lupa kosakata bahasa Inggris untuk ‘toll’. Daripada berhenti menjelaskan, ia mencoba menggunakan kata-kata lain dan menggambarkan maksudnya.

Warga lokal kemudian membantu. Mereka menyebut kata ‘highway’ untuk mengarah pada istilah yang dimaksud.

Bagi Vierlya, pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran.

Salah dalam memilih kata ternyata tidak selalu membuat seseorang dipermalukan. Kadang, orang lain justru membantu menemukan kata yang tepat.

Dari situ ia belajar bahwa komunikasi tidak selalu membutuhkan kemampuan bahasa yang sempurna.

Kemauan untuk mencoba sering kali jauh lebih penting.

Gerakan Kepala yang Membingungkan

Ada pengalaman lain yang membuat Malfa sempat bertanya-tanya.

Ketika berbicara dengan warga lokal, ia melihat seseorang menggelengkan kepala.

Malfa Liya Luqyana saat mengikuti project Aquatica yang berfokus pada Sustainable Development Goal (SDG) 14, Life Below Water, dalam rangkaian program Global Volunteer di Sri Lanka. (Foto; Sumselupdate.com/Dokumen)

Dalam kebiasaan yang ia kenal, gelengan kepala berarti penolakan.

Tetapi di Sri Lanka, gerakan kepala tertentu justru dapat menjadi tanda persetujuan atau berarti “iya”.

Sebuah gerakan yang tampak sederhana ternyata memiliki makna yang berbeda.

Hal itu membuat Malfa semakin menyadari bahwa memahami budaya bukan hanya soal mengetahui bahasa. Gerak tubuh, kebiasaan dan cara seseorang merespons percakapan juga memiliki arti.

Chansa menemukan sisi lain dari kehidupan masyarakat Sri Lanka melalui kebiasaan makan.

Makan menggunakan tangan menjadi hal yang biasa. Namun yang lebih menarik baginya adalah suasana yang menyertai kegiatan tersebut.

Makan tidak sekadar tentang makanan. Ada kebersamaan di dalamnya.

Waktu bersama keluarga menjadi sesuatu yang dihargai. Bahkan kegiatan sederhana seperti bermain board game bersama dapat menjadi cara untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat.

Vierlya pun menemukan kebiasaan yang menarik perhatiannya, mulai dari tepuk tangan dengan menjentikkan jari hingga gerakan kepala ke kanan dan kiri sebagai bentuk persetujuan.

Semakin lama berada di Sri Lanka, semakin banyak pula hal-hal kecil yang membuat mereka berhenti membandingkan dan mulai memahami.

Dari kiri ke kanan, Mozon dan Amera dari Jordania, Vierlya Nabilah Ghina dari Indonesia, Ivanna dari Nigeria, serta Amelia dari Polandia, merupakan peserta AIESEC Global Volunteer yang tergabung dalam satu project di AIKO Daycare, Sri Lanka. (Foto; Sumselupdate.com/Dokumen)

Sepiring Kottu dan Cerita dari Meja Makan

Kemudian ada makanan.

Bagi seorang volunteer yang tinggal jauh dari rumah, makanan bisa menjadi persoalan tersendiri. Lidah harus beradaptasi dengan rasa baru, sementara makanan yang familiar tidak selalu mudah ditemukan.

Marvel justru menemukan salah satu makanan favoritnya di Sri Lanka, yakni. Kottu.

Hidangan berbahan roti parata, sayuran, telur atau daging itu dicincang dan dimasak di atas wajan panas. Suara alat masak yang beradu dengan wajan menjadi ciri khas proses pembuatannya.

Teksturnya yang kenyal dan rasa gurih membuat Marvel menyukai makanan tersebut.

Malfa juga memilih Kottu, tetapi dengan versi yang berbeda.

Cheese and Chicken Kottu yang ia coba di Ella menjadi salah satu makanan yang paling ia sukai.

Menariknya, rasa Kottu yang ia temui tidak selalu sama. Setiap restoran memiliki racikan yang berbeda. Dari beberapa versi yang dicobanya, Kottu di Ella menjadi yang paling berkesan.

Chansa menemukan favoritnya pada makanan lain, yaitu Dosa.

Pancake tipis dan lembut itu biasanya disajikan bersama curry, termasuk dhal. Rasanya sederhana, tetapi justru menjadi salah satu pengalaman kuliner yang ia bawa pulang dari Sri Lanka.

Sementara Vierlya tidak menemukan banyak makanan yang benar-benar sesuai dengan seleranya.

Namun, ada satu hidangan yang berhasil meninggalkan kesan.

Deviled calamari di sebuah restoran di Galle.

Rasa pedas yang kuat berpadu dengan rasa manis membuat hidangan tersebut terasa berbeda.

Mungkin tidak semua makanan berhasil membuat mereka jatuh hati.

Tetapi setiap makanan tetap menjadi bagian dari cerita perjalanan.

Dari Rasa Asing Menjadi Cerita

Pada awal kedatangan, sebagian hal mungkin terasa mengganggu.

Udara terlalu lembap.

Bus terlalu kencang.

Tuk-tuk melaju terlalu agresif.

Klakson terlalu sering terdengar.

Makanan terlalu berbeda.

Bahasa tidak selalu mudah dipahami.

Bahkan sebuah gelengan kepala bisa membuat salah pengertian.

Namun, setelah beberapa pekan, hal-hal itu perlahan berubah.

Yang semula membuat kaget menjadi kebiasaan. Yang semula terasa asing menjadi sesuatu yang justru dirindukan. Dan yang awalnya hanya dianggap sebagai perbedaan budaya berubah menjadi cerita yang akan mereka bawa pulang.

Marvel membawa cerita tentang klakson dan Kottu.

Malfa mengingat kelembapan udara, perjalanan bus dan Cheese and Chicken Kottu.

Chansa menyimpan pengalaman tentang tuk-tuk, dosa dan hangatnya kebersamaan keluarga.

Sementara Vierlya membawa cerita tentang bawang merah, deviled calamari, bahasa tubuh dan percakapan yang kadang harus dijelaskan dengan gerakan tangan.

Empat orang, empat pengalaman, tetapi satu pelajaran yang sama.

Bahwa tinggal di negara lain bukan hanya tentang melihat tempat baru.

Ia adalah tentang belajar menjadi orang asing, kemudian perlahan memahami cara orang lain menjalani hidup.

Di Sri Lanka, mereka tidak hanya belajar tentang budaya masyarakat setempat.

Mereka juga belajar tentang diri sendiri: bagaimana menghadapi rasa tidak nyaman, bagaimana mencari jalan keluar ketika bahasa tidak cukup, dan bagaimana menerima sesuatu yang berbeda tanpa buru-buru menilainya.

Pada akhirnya, culture shock bukan sekadar kejutan yang harus dilewati.

Ia menjadi bagian dari perjalanan.

Sebab ketika perbedaan benar-benar dialami, bukan hanya dibaca dari buku atau dilihat melalui layar, setiap bunyi klakson, perjalanan bus, sepiring makanan dan percakapan yang terbata-bata dapat berubah menjadi kenangan.

Dan mungkin, justru kenangan-kenangan kecil itulah yang kelak paling sering mereka ceritakan ketika Sri Lanka tinggal menjadi sebuah perjalanan yang telah berlalu.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts