Sri Lanka dari Empat Mata: Ketika Empat Mahasiswa Menemukan Dunia di Luar Zona Nyaman (Bagian 1)

Writer: - Sabtu, 15 Agustus 2026
Dari kiri ke kanan, Marvel Valensiano, Malfa Liya Luqyana, Chansa Alivia, dan Vierlya Nabilah Ghina, empat mahasiswa Indonesia yang mengikuti program Global Volunteer di Sri Lanka. (Foto; Sumselupdate.com/Dokumen)

Empat mahasiswa Indonesia menemukan pengalaman yang jauh lebih luas dari sekadar perjalanan ke luar negeri saat mengikuti Global Volunteer AIESEC di Sri Lanka. Marvel Valensiano, Malfa Liya Luqyana, Chansa Alivia, dan Vierlya Nabilah Ghina berhadapan dengan perbedaan budaya, lingkungan dan kehidupan masyarakat melalui proyek konservasi penyu, pendampingan lansia, pengasuhan anak hingga aktivitas bersama warga lokal. Dari pengalaman itu, mereka belajar tentang keberanian, kemandirian, toleransi dan pentingnya keluar dari zona nyaman.

SRI LANGKA bukan sekadar titik di peta bagi empat mahasiswa Indonesia yang mengikuti Global Volunteer AIESEC. Di negeri yang berada di selatan India itu, Marvel Valensiano, Malfa Liya Luqyana, Chansa Alivia, dan Vierlya Nabilah Ghina datang membawa rasa penasaran, kekhawatiran, dan bayangan tentang sebuah negeri asing.

Read More

Namun, perjalanan itu perlahan mengubah cara mereka melihat dunia. Mereka tidak datang sebagai turis yang sekadar berpindah dari satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya.

Mereka datang sebagai volunteer, berhadapan langsung dengan masyarakat, anak-anak, lansia, penyu yang terluka, para nelayan, hingga kehidupan lokal yang sebelumnya hanya mereka kenal dari cerita dan layar ponsel.

Empat mahasiswa itu menjalani proyek yang berbeda. Tetapi, semuanya mengalami hal yang sama: keluar dari zona nyaman dan belajar beradaptasi dengan dunia yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Salah Jalan Sejak Pertama Tiba

Bagi Vierlya Nabilah Ghina, mahasiswi Program Studi Ekonomi Syariah STIS Al Wafa Cileungsi, Bogor, perjalanan ke Sri Lanka bahkan sudah menyuguhkan kejutan sejak langkah pertamanya keluar dari pesawat.

Vierlya Nabilah Ghina (pakai jilbab), mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah STIS Al Wafa Cileungsi Bogor, saat menjalani kegiatan Global Volunteer di sebuah daycare di Sri Lanka. (Foto; Sumselupdate.com/Dokumen)

Bandara menjadi tempat pertama yang membuatnya harus beradaptasi. Papan informasi yang menurut Vierlya minim membuatnya sempat salah masuk ke area domestik. Ia bahkan hampir mengikuti jalur yang digunakan penumpang menuju penerbangan ke Maladewa.

Di tengah suasana bandara yang asing, bahasa yang berbeda dan arah yang belum sepenuhnya dipahami, Vierlya akhirnya menyadari bahwa perjalanan ini tidak akan selalu berjalan sesuai bayangannya.

Kebingungan itu menjadi pengalaman pertama yang kemudian membuatnya lebih berhati-hati. Ia mulai belajar memperhatikan petunjuk, bertanya ketika tidak memahami sesuatu dan tidak panik ketika berada dalam situasi yang belum pernah dihadapinya.

Pengalaman serupa kembali muncul ketika ia mulai menjalani kegiatan volunteer.

Vierlya ditempatkan di sebuah daycare. Di hari-hari pertama, ia mengaku sempat bingung. Ia belum benar-benar mengetahui apa yang harus dilakukan bersama anak-anak yang memiliki kebiasaan, bahasa dan lingkungan berbeda dari yang selama ini dikenalnya.

Namun, suasana di daycare perlahan mengubah rasa canggung itu.

Anak-anak yang awalnya terasa asing mulai mengajaknya berinteraksi. Dari sana, Vierlya menemukan cara untuk masuk ke dunia mereka. Tidak selalu melalui percakapan panjang, tetapi lewat permainan, senyum, perhatian dan kesediaan untuk ikut terlibat dalam aktivitas mereka.

Bagi Vierlya, berada di daycare membuatnya belajar bahwa komunikasi tidak selalu bergantung pada bahasa.

Ada ekspresi wajah, gerak tubuh, permainan dan perhatian kecil yang bisa menjadi jembatan ketika kata-kata tidak cukup.

Hari demi hari, ia mulai lebih nyaman. Apa yang semula terasa membingungkan perlahan berubah menjadi rutinitas yang justru dinantikannya.

Pengalaman itu juga membuat Vierlya melihat makna volunteer dari sudut pandang berbeda. Menjadi relawan bukan hanya soal menjalankan program yang telah ditentukan, melainkan bagaimana seseorang mampu hadir, membaca keadaan dan memberikan sesuatu yang sederhana tetapi berarti bagi orang lain.

Dari pengalaman salah arah di bandara hingga berinteraksi dengan anak-anak di daycare, Sri Lanka mengajarkan Vierlya satu hal penting: berada di tempat asing memang membuat seseorang kehilangan banyak hal yang familiar, tetapi pada saat yang sama membuka ruang untuk menemukan keberanian baru.

Dari Anak-Anak hingga Kehidupan di Jaffna

Pengalaman keluar dari zona nyaman juga dirasakan Marvel Valensiano.

Mahasiswa semester lima Informatika UPN ‘Veteran’ Yogyakarta asal Yogyakarta itu justru menemukan sesuatu yang menarik ketika pertama kali melihat Sri Lanka.

Alih-alih merasa sepenuhnya asing, Marvel melihat sejumlah kemiripan dengan Indonesia. Jalanan, suasana kota dan kehidupan masyarakatnya membuat negeri tersebut terasa cukup dekat.

Colombo menjadi pintu masuk pengalamannya. Lotus Tower dan Colombo Fort menjadi dua landmark yang meninggalkan kesan awal sebelum perjalanan membawanya lebih jauh.

Namun, Global Volunteer bukan sekadar tentang mengenali sebuah kota dari tempat-tempat ikoniknya.

Marvel kemudian bergerak menuju Jaffna.

Di wilayah tersebut, suasana yang ditemuinya terasa berbeda. Ia mulai melihat Sri Lanka bukan dari sudut pandang seorang wisatawan, melainkan dari kehidupan masyarakatnya.

Ia mengunjungi sejumlah tempat wisata lokal yang relatif jarang didatangi wisatawan asing. Ia membuat poetry di sebuah local factory, menyaksikan Ther Festival, hingga ikut memancing bersama para nelayan.

Di tengah aktivitas itu, batas antara volunteer dan masyarakat lokal terasa semakin tipis.

Marvel tidak hanya melihat kehidupan mereka dari kejauhan. Ia ikut masuk ke dalam aktivitas sehari-hari, mencoba melakukan hal-hal yang mungkin sebelumnya tidak pernah ia bayangkan akan dilakukan di negeri orang.

Salah satunya ketika ia ikut memasak makanan laut bersama masyarakat lokal.

Dari aktivitas sederhana di sekitar meja makan itu, Marvel merasakan sesuatu yang berbeda. Percakapan, makanan dan kebersamaan membuatnya semakin memahami bahwa mengenal sebuah negara tidak selalu harus dimulai dari tempat wisata terkenal.

Kadang, sebuah negeri justru terasa paling dekat ketika seseorang duduk bersama masyarakatnya dan mengikuti kehidupan mereka apa adanya.

Perjalanan yang Awalnya Dipenuhi Kekhawatiran

Jika Marvel menemukan Sri Lanka sebagai negeri yang terasa cukup familiar, pengalaman Malfa Liya Luqyana dimulai dengan perasaan yang jauh lebih menegangkan.

Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) itu untuk pertama kalinya bepergian ke luar negeri seorang diri.

Tidak ada keluarga yang mendampingi. Tidak ada teman lama yang bisa langsung menjadi tempat bertanya. Untuk pertama kalinya, Malfa harus menghadapi bandara, lingkungan baru, masyarakat dengan kebiasaan berbeda dan kehidupan yang sama sekali tidak dikenalnya seorang diri.

Rasa khawatir tentu muncul.

Tetapi, justru dari rasa khawatir itulah proses belajar Malfa dimulai.

Perlahan ia mengenali lingkungan. Ia belajar memahami kebiasaan masyarakat, berkomunikasi dengan orang-orang dari latar belakang berbeda dan menyesuaikan diri dengan perbedaan waktu.

Rasa asing yang pada awalnya membuat cemas sedikit demi sedikit berubah menjadi rasa ingin tahu.

Malfa kemudian ditempatkan dalam proyek Aquatica yang berfokus pada Sustainable Development Goal (SDG) 14, Life Below Water.

Jika sebelumnya ia mungkin hanya mengenal isu kelestarian laut dari buku, materi perkuliahan atau pemberitaan, di Sri Lanka ia melihatnya secara langsung.

Hari-harinya membawa Malfa ke Koggala Hatchery dan Habaraduwa Hatchery, tempat yang berkaitan dengan konservasi dan pembenihan penyu.

Di sana, ia berhadapan dengan penyu-penyu yang tidak semuanya berada dalam kondisi sehat.

Sebagian menjalani pengobatan setelah terluka akibat jaring nelayan. Ada pula penyu yang mengalami kelainan pada anggota tubuhnya.

Pemandangan itu membuat isu tentang laut terasa jauh lebih nyata.

Malfa bukan hanya melihat penyu sebagai satwa yang harus dilindungi. Ia melihat bagaimana aktivitas manusia dapat meninggalkan dampak langsung terhadap makhluk hidup di laut.

Ia ikut merawat dan berinteraksi dengan penyu-penyu tersebut.

Dari sana, pengalaman volunteer perlahan berubah menjadi pelajaran tentang kepedulian. Bahwa menjaga laut bukan hanya persoalan ekosistem yang jauh dari kehidupan manusia, tetapi juga tentang bagaimana tindakan kecil manusia dapat menentukan keselamatan makhluk lain.

Perjalanan yang semula dimulai dengan kecemasan akhirnya membawa Malfa pada pengalaman yang justru membuatnya semakin berani.

Ia datang seorang diri.

Namun, di Sri Lanka, ia menemukan bahwa dirinya tidak benar-benar sendiri.

Pagi yang Dimulai Bersama Para Lansia

Sementara itu, Chansa Alivia menemukan pengalaman yang berbeda lagi.

Mahasiswi Fakultas Psikologi UGM tersebut menjalani proyek Heartbeat yang berkaitan dengan SDG 3, Good Health and Well-being.

Tempatnya berada di Grand Leisure Care and Wellness Resort di Negombo.

Di sana, pagi hari Chansa tidak dimulai dengan agenda wisata atau berjalan-jalan menikmati suasana kota.

Hari dimulai dengan rutinitas sederhana bersama para lansia.

Ia membantu mengantarkan sarapan, mendampingi pemeriksaan tekanan darah, membantu pemberian obat dan mendukung pekerjaan para caregiver.

Setelah itu, ia mengantarkan teh, berbincang dengan para lansia hingga membantu mengantarkan makan siang.

Sekilas, semua kegiatan tersebut terdengar sederhana.

Namun, justru dalam kesederhanaan itulah Chansa menemukan pengalaman yang tidak ia dapatkan di ruang kuliah.

Ia belajar bahwa merawat seseorang tidak selalu membutuhkan tindakan besar.

Terkadang, perhatian hadir dalam bentuk secangkir teh yang diberikan tepat waktu. Dalam percakapan singkat. Dalam bantuan kecil. Atau bahkan hanya dengan duduk dan menemani seseorang agar tidak merasa sendirian.

Hari-hari bersama para lansia membuat Chansa melihat bahwa kepedulian memiliki banyak bentuk.

Ia tidak hanya belajar tentang kesehatan dan kesejahteraan sebagaimana tema proyeknya. Ia belajar tentang manusia.

Tentang usia yang terus berjalan. Tentang kebutuhan untuk didengar. Tentang betapa sederhananya sebuah perhatian, tetapi bisa memiliki arti yang besar bagi orang lain.

Di luar kegiatan volunteer, Chansa juga menemukan sisi Sri Lanka yang terasa familiar.

Jalanan di negara itu mengingatkannya pada Indonesia. Masyarakatnya ia nilai ramah dan banyak yang mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Hanya Udara yang Terasa Cukup Berbeda

Menurut Chansa, udara Sri Lanka terasa lebih lembap dibandingkan Indonesia.

Perbedaan kecil itu mungkin tampak sepele. Namun, bagi seseorang yang sedang tinggal di negeri asing, hal-hal kecil seperti udara, makanan, bahasa, kebiasaan hingga cara orang berinteraksi menjadi bagian dari proses adaptasi.

Empat Jalan, Satu Pengalaman

Empat mahasiswa itu menjalani perjalanan dengan cerita masing-masing.

Vierlya memulai petualangannya dengan salah arah di bandara dan kemudian belajar menemukan tempatnya di tengah anak-anak daycare.

Marvel menemukan Sri Lanka melalui kehidupan masyarakat Jaffna, para nelayan, festival budaya hingga makanan laut yang ia masak bersama warga lokal.

Malfa datang dengan kecemasan karena untuk pertama kalinya bepergian ke luar negeri seorang diri, tetapi kemudian menemukan makna kepedulian terhadap kehidupan laut melalui konservasi penyu.

Sementara Chansa menghabiskan pagi bersama para lansia dan menemukan bahwa perhatian sederhana dapat menjadi bentuk kepedulian yang begitu berarti.

Mereka datang dengan latar belakang berbeda. Proyek yang berbeda. Bahkan pengalaman pertama yang berbeda.

Tetapi, semuanya bertemu pada satu titik yang sama: Sri Lanka memaksa mereka keluar dari ruang nyaman.

Di negeri itu, mereka belajar bahwa menjadi volunteer bukan sekadar menjalankan sebuah program. Ada proses untuk mendengar, memahami, mencoba, gagal, beradaptasi dan kembali mencoba.

Mereka juga belajar bahwa dunia tidak selalu seperti yang dibayangkan dari layar ponsel.

Ada kehidupan yang harus dilihat dari dekat. Ada masyarakat yang harus ditemui. Ada cerita yang baru bisa dipahami setelah seseorang benar-benar berada di tengah-tengahnya.

Dan pada akhirnya, mungkin itulah pengalaman terbesar yang mereka bawa pulang dari Sri Lanka.

Bukan sekadar foto di depan landmark, bukan hanya kenangan perjalanan, melainkan cara pandang yang berubah.

Sri Lanka telah menjadi ruang belajar bagi empat mahasiswa itu untuk memahami dunia dari jarak yang lebih dekat.

Sebab, terkadang perjalanan paling berarti bukanlah perjalanan menuju tempat yang jauh.

Melainkan perjalanan untuk mengenal diri sendiri setelah berani melangkah keluar dari rumah.

(**)

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts