Kebaya Warisan Budaya Bersama Antar-Bangsa Jadi Instrumen Perdamaian Dunia

Writer: - Kamis, 11 Juli 2024
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat.

Jakarta, Sumselupdate.com – Kebaya merupakan warisan kebudayaan bersama antarbangsa yang berpotensi menjadi instrumen perdamaian dunia.

“Kebaya berkembang melintasi berbagai suku bangsa dan etnis, sehingga berpotensi menjadi karya yang mampu menjadi pemersatu dan mewujudkan perdamaian antarbangsa,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam sambutannya saat membuka diskusi daring bertema Perjalanan Kebaya Indonesia untuk Perdamaian Dunia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 bersama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Rabu (10/7/2024).

Read More

Secara historis, jelas Lestari, kebaya merupakan kebudayaan bersama, yang tidak hanya dimiliki satu negara saja.

Dalam perspektif sejarah,  kebaya berkembang dalam peradaban manusia, mempertemukan ragam suku bangsa dan etnis.

Kebaya juga, tambah Rerie, sapaan akrab Lestari, merepresentasi budaya dan bahasa tertentu, serta dapat diterima sebagai budaya bersama.

Berdasarkan catatan sejarah, kebaya terhubung dengan banyak negara pada periode modern. Seperti antara lain Tiongkok, Arab, India, Portugal, Belanda dan negara sekawasan.

Keterhubungan masa lalu itu terjadi, tambah Rerie, karena perdagangan rempah dan kerja sama perdagangan lain sehingga menciptakan akulturasi budaya yang diteruskan lintas generasi dalam bentuk fesyen dan bahasa.

Atribut keterhubungan itu menguatkan kebaya sebagai alat diplomasi budaya untuk perdamaian dunia.

Ketua Kowani Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan, peringatan Hari Kebaya Nasional yang pertama akan diselenggarakan  24 Juli 2024 di Istora Senayan, Jakarta.

Hari Kebaya Nasional harus dimanfaatkan sebagai momentum meningkatkan persatuan dan perjuangan perempuan Indonesia agar semakin berdaya dan naik kelas. “Jadikan kebaya sebagai alat pemersatu bangsa dan negara-negara sekawasan,” tegas Giwo.

Presiden Global Peace Women, Hanako Ikeno mengungkapkan, sampai akhir tahun lalu dia tidak tahu apa itu kebaya. Hingga akhirnya, dia menyukai kebaya.

Kebaya, menurut dia, merupakan metafora dalam pembicaraan di global peace foundation yang selalu berupaya membangun persatuan.

Karena, tegas Hanako, hampir di sejumlah negara sudah menggunakan kebaya, seperti di Indonesia, Singapura, Brunei, Malaysia dan Thailand, yang saat ini sedang bersama mengajukan kebaya sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO. (**)

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts