Listrik Padam, Warga Pulau Tomia Krisis Air Bersih

Sabtu, 5 November 2022
Puluhan Warga Kecamatan Tomia Timur di Pulau Tomia, Wakatobi Sultra sedang mencuci di air payau di pesisir pantai akibat kesulitan air yang bersumber dari krisis listrik sejak 10 hari terakhir. [Foto: KMPT Tomia]

Sulawesi Tenggara, sumselupdate.com – Pemadaman listrik yang terjadi di Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) selama 10 hari terakhir membuat warga setempat mengalami krisis air bersih. Tak hanya itu, aktivitas perekonomian warga pun terhenti akibat krisis listrik  yang kini menjadi andalan warga menggantungkan hidupnya.

Gangguan listrik tersebut bermula terjadi pada 26 Oktober 2022 silam, saat salah satu mesin terbesar di unit  PLN Kantor Pelayanan Tomia berkapasistas 1,3 MW rusak. Meski sudah diperbaiki, namun generatornya terbakar.

Read More

“Mesin kami yaitu Catterpillar berkapasitas 800 KW yang operasi selama mesin Mitsubishi gangguan juga mengalami gangguan, dan saat ini masih menunggu material. Sehingga kami mengalami black out atau padam total sampai saat ini,” kata Manager Unit Pelayanan Pelanggan Wangiwangi, Angriawan seperti dikutip Telisik.com.

Padahal energi listrik digunakan memasok air bersih dari PAM Te’e Luo. Air bersih tersebut seharusnya bisa dipasok ke masyarakat Kecamatan Tomia Timur yang sangat bergantung pada air dari PAM tersebut.

Lantaran mesin air yang dipakai untuk memasok air menggunakan tenaga listrik dari PLN. Akibatnya, PAM harus menggunakan mesin generatornya sendiri, namun sering juga mengalami gangguan.

Akibat gangguan tersebut, nyaris seluruh lapisan masyarakat di beberapa desa dan kelurahan yang ada di Kecamatan Tomia Timur mengeluh karena kehabisan stok air di rumahnya masing-masing.

“Jika listrik mati, itu tidak seberapa. Tapi, kalau air yang mati, lama-lama kita juga ikut mati,” celetuk seorang warga Desa Timu, Halima, dimuat juga di suara.com (jaringan nasional sumselupdate.com).

Halima mengatakan, bersama warga lain di kampungnya saat ini kesulitan mendapatkan air untuk minum, mandi dan mencuci. Lantaran itu, warga beramai-ramai turun ke laut. Mereka mencuci, mandi dan bahkan mengambil air minum pada air payau di pesisir tebing pantai.

“Jangan ditanya lagi bagaimana kesulitan para pelaku UMKM yang bisnisnya bergantung pada air. Misalnya pengusaha depot air minum. Para pengusaha ini terpaksa harus tutup untuk sementara waktu,” lanjut Halima.

Selain itu, ibu-jibu alias penjual ikan, kesulitan mendapatkan ikan segar. Lantaran ikan segar bergantung pada es batu. Es batu bergantung pada listrik. Pun buruh pekerja bangunan berhenti untuk sementara waktu, karena kesulitan air untuk mencampur bahan semen, batu dan pasir.

Tak hanya itu, beberapa pengusaha mebel, alias tukang kayu, yang tak punya mesin genarator pribadi, harus istirahat total, karena skap elektrik tak bisa berfungsi tanpa aliran listrik. (sur)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts