Palembang, Sumselupdate.com – Tim dosen Pendidikan Guru (PG) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sriwijaya (Unsri) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) selama 15-22 Agustus 2022.
PkM dengan mengusung tema ‘Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan Media Pembelajaran Konsep Sains dan Matematika Menggunakan Barang Bekas Bagi Guru TK di Kabupaten Muratara’ dilaksanakan secara tatap muka di SMP Negeri 1 Muara Rupit.
Acara pembukaan PkM dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Muratara, Zazili, SSos dan Dekan FKIP Unsri yang diwakili oleh Wakil Dekan I Bidang Akademik Dr Ismet, SPd, MSi.
Ketua PkM PG PAUD FKIP Unsri, Dra Syafdaningsih, MPd menjelaskan, kegiatan ini bertujuan selain memeriahkan HUT ke-77 Republik Indonesia, juga menebar ilmu untuk para guru di Kabupaten Muratara guna menambah kompetensi, profesionalitas, dan kreativitas yang tinggi agar menghasilkan penerus bangsa yang unggul.
Dikatakan Syafdaningsih, peserta kegiatan ini merupakan tenaga pendidik yang berasal dari berbagai TK dan PAUD Kecamatan Nibung, Sungai Jauh, Muara Rupit, Sungai Baung, Karang Jaya, Rawas Ulu, dan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara.
Syafdaningsih menjelaskan setelah kegiatan penyampaian materi PkM, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan tugas mandiri pembuatan media pembelajaran yang dilaksanakan secara daring pada 16 hingga 21 Agustus 2022.
Kegiatan PkM ini, menurut Syafdaningsih, melibatkan delapan mahasiswa semester V PG-PAUD FKIP Unsri yakni Lutfiana Rahmawati, Amalia Kusumawati, Melvi Felisha, Nur Kholisa, LutfiAulia, Galuh Ayu Putri Kirana, Hammy Azzahra, dan Tiara Julianti sebagai kegiatan ekivalensi mata kuliah di semester 5 yaitu perencanaan pembelajaran.
Dalam penyampaian materinya, Dra Syafdaningsih, MPd menyampaikan seorang guru dituntut untuk memiliki keterampilan agar materi maupun informasi yang disampaikan dapat diterima dan dimengerti oleh peserta didik.
Namun tidak hanya ketrampilan dalam mengajar, guru juga harus kreatif dan inovatif dalam menciptakan pembelajaran yang menarik khususnya pembelajaran bagi anak usia dini, sesuai dengan prinsip pembelajarannya.
“Di mana anak usia dini yaitu bermain sambil belajar, jadi tidak seperti orang dewasa yang proses belajar terpaku dan kaku. Anak usia dini lebih fokus pada pematangan pada aspek perkembangan anak agar dapat menjadi bekal nantinya di pendidikan selanjutnya,” beber Syafdaningsih.
Dikatakannya, dalam bermain, anak usia dini senang sekali menggunakan benda yang nyata atau disebut dalam dunia pendidikan adalah media.
Media ini sendiri banyak macamnya, contohnya media visual seperti lego, puzzle, dan masih banyak lainnya.
Media sebagai wahana anak bermain tidak harus mahal, melainkan harus memiliki manfaat bagi anak. Media juga bisa dibuat sendiri oleh guru.
Itulah penting bagi guru memiliki keterampilan dan kreativitas dalam menciptakan ide pembelajaran. Guru dapat menfaatkan barang-barang yang ada di sekitar seperti barang bekas.
Pemanfaatan barang bekas dapat diolah menjadi barang yang memiliki kegunaan yang bermanfaat salah satunya dialih fungsikan menjadi media.
Media tersebut dapat disesuaikan dengan tema pembelajaran di sekolah.
Sebagai contoh dapat membuat media pembelajaran yang kaitkan dengan tema alam semesta, guru dapat membuat media berlandaskan materi tumbuhan dan benda langit.
Tema tersebut juga berkaitan dengan sains. Anak usia dini sangat penting juga mempelajari sains, dengan begitu anak akan mengetahui proses sebab akibat dari sebuah peristiwa.
Begitu juga pada bidang matematika, seperti yang sering didengar matematika menjadi momok yang menakutkan mulai dari kalangan anak usia dini sampai dengan dewasa.
Namun, sebenarnya apabila materi dikemas dengan sederhana dan menarik, maka belajar matematika itu asyik dan menyenangkan, contohnya pada geomertri.
Materi tersebut dapat dikaitkan dengan tema kendaraan. Roda mobil dirancang dengan macam-macam geometri, maka anak akan memilih kendaraan dengan bentuk geometri mana yang dapat berjalan dengan lancar.
Sementara itu, dosen PG PAUD FKIP Unsri Mahyumi Rantina, MPd dalam materinya mengenai pentingnya media pembelajaran pada anak usia dini.
Mahyumi Rantina menuturkan jika kita lihat dari definisinya media adalah perantara, sehingga media pembelajaran adalah suatu alat atau benda yang digunakan oleh pemberi informasi.
Dalam hal ini pemberi informasi adalah guru yang akan menyampaikan informasi kepada penerima informasi yaitu anak.
Guna mengoptimalkan pembuatan media pembelajaran, tenaga pendidik harus paham jenis media apa yang dibuat, standar pembuatan media untuk anak usia dini serta prinsip dari pembuatan media tersebut.
Hal tersebut bertujuan agar dapat menghasilkan media pembelajaran yang baik dan optimal untuk menunjang pembelajaran anak dan menstimulasi aspek perkembangan anak.
Dalam PkM itu disediakan waktu praktek pembuatan media. Para guru didampingi oleh tim pengabdian yang lain masing-masing Dra Hasmalena, MPd, Febriyanti Utami, MPd, dan Lia Dwi Ayu Pagarwati, MPd.
Tim pengabdian ini mengarahkan dan memberikan masukan jika ada kesulitan pada saat pembuatan media pembelajaran.
Masing–masing kelompok membuat media yang bernuansa sains dan matematika.
Salah satu kelompok membuat media jari warna dengan tema anggota tubuh, media tersebut menjelaskan bahwa manusia memiliki lima jenis jari yaitu ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, jari manis, dan jari kelingking.
Media tersebut didesain menggunakan warna yang berbeda-beda agar menarik dan mengajarkan anak pada macam-macam warna dari segi sains, kemudian untuk matematikanya anak bisa menghitung satu per satu jari tersebut.
Media lain yang dibuat adalah mobil-mobilan dari botol air mineral, telvon yang dibuat dari kaleng susu, puzzle tanaman dan buah geometri sebagai seriasi.
“Harapan dari kegiatan ini yaitu dapat membantu guru dalam meningkatkan pengetahuaan guru untuk merancang media pembelajaran berbasis matematik dan sains dari bahan bekas bagi anak yang sesuai dengan standar, prinsip dan juga tingkat perkembangan anak usia dini dengan baik,” kata salah satu Tim Pengabdian, Dra Hasmalena, MPd.
Hasmalena berharap juga melalui PkM ini guru akan lebih inovatif dan kreatif terhadap pemanfaatan barang-barang di sekitar dengan mengalih fungsikannya menjadi barang yang memiliki nilai guna dan bermanfaat bagi pembelajaran. (rel)











