Lewat Usaha Produktif, Ponpes Nurul Huda Praktikkan Santripreneur

Selasa, 17 Maret 2020
Para santri Ponpes Nurul Huda sedang bekerja di kandang ayam ternak milik pesantren, Minggu (15/3/2020)

Martapura, sumselupdate.com – Berkunjung ke Pondok pesantren (Ponpes) Nurul Huda di Desa Sukaraja Kecamatan Buaymadang, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan, ternyata cukup berkesan. Di samping dapat menyaksikan para santri yang sedang mengenyam pendidikan formal dan non formal berbasis keagamaan, kita juga dapat menemukan beberapa unit usaha produktif milik ponpes yang pengelolalaannya melibatkan para santri.

Kesan tersebut dirasakan Pemimpin Umum Sumselupdate.com, Solehun, M. Pd saat kunjungan silaturahmi ke Ponpes Nurul Huda, Minggu (15/3/2020).

Read More

Awalnya, pemimpin umum media online ini diterima dengan ramah oleh Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda, H. M. Tasdiq, M.Pd.I beserta jajaran, di kantor yayasan. Di sini pihak yayasan menjelaskan bahwa Ponpes Nurul Huda memiliki lembaga pendidikan formal dan non formal dengan ribuan santrinya.

                 Salah satu suasana pendidikan di Ponpes Nurul Huda

 

Pendidikan formal di ponpes ini berupa pendidikan dasar (Raudhatul Atfal/RA, Madrasah Ibtidaiyah/MI, Madrasah Tsanawiyah/MTs, dan SMP Terpadu), pendidikan menengah (Madrasah Aliyah/MA, SMK, dan SMA Terpadu), dan pendidikan tinggi (STKIP). Sementara pendidikan non formalnya berupa Diniyah Ula, Diniyah Wustho, Diniyah Ulya, Ma’had Aly.

“Jumlah santri saat ini yang mukim atau mondok 924 santri. Jika ditambah jumlah dengan yang tidak mukim mulai dari Diniyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, hingga STKIP mencapai 1.750 santri/siswa. Kita juga mengembangkan SMP dan SMA Terpadu dengan konsep siswa mukim, tetap mempelajari kitab kuning (salafiyah), dan penambahan keterampilan bahasa Arab dan bahasa Inggris”, ujar M. Tasdiq menjelaskan sekilas lembaga pendidikan yang dikelolanya, baik yang berlokasi di Desa Sukaraja maupun di Desa Tanah Merah, Kecamatan Belitang.

Usai menjelaskan seputar pendidikan di pesantren, pihak yayasan Ponpes Nurul Huda pun mengajak  pemimpin umum media online ini mengunjungi sejumlah unit usaha yang dikelola Yayasan melalui Bagian Kesra. Unit usaha ini sengaja dikembangkan dalam rangka membangun kemandirian pesantren, sekaligus mengembangkan jiwa wirausaha santri atau santripreneur.

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, tak jauh dari lokasi kantor yayasan, terlihat tempat usaha menjahit dan tempat bengkel las milik ponpes. Di kedua tempat usaha ini terlihat aktivitas pengelolanya, yang terdiri atas alumni santri dan santri. Masing-masing berposisi sebagai mentor dan pembelajar.

“Yang jadi mentor itu adalah alumni yang ketika menjadi santri dulu kita kursuskan dan mengelola tempat usaha ini. Sekarang mereka sudah terampil dan menjadi instruktur bagi adik-adik santrinya. Mereka terbantu dalam mencukupi kebutuhan sehari-harinya dari kegiatan usaha ini setelah hasil usahanya disisihkan untuk membantu biaya pesantren”, ujar pengurus Bagian Kesra, Suryanto.

                                                Unit usaha bengkel las

 

Perjalanan melihat unit usaha dilanjutkan dengan mengunjungi dua lokasi kandang penggemukan sapi milik pesantren. Menurut pengelola unit usaha ini, Teguh Sumarno, ada dua jenis sapi yang digemukkan yaitu sapi jenis metal dan limosin. Pesantren menyiapkan bibit sapi jantan umur 6-7 bulan dengan harga berkisar 14 juta.

“Para santri dan alumni memelihara sapi ini hingga umur 2,5 hingga 3 tahun yang jika dijual diperkirakan seharga 30-40 juta. Untuk pakan kita siapkan pakan fragmentasi dari dedak dan katul, diselingi rumput. Ada 16 ekor sapi yang dipelihara dalam dua kandang ini”, paparnya.

                                              Usaha penggemukan sapi Ponpes Nurul Huda

 

Beranjak dari lokasi penggemukan sapi, rombongan pun melanjutkan perjalanan menuju unit usaha kandang ayam. Butuh waktu sekitar 15 menit dengan kendaraan bermotor dari kompleks pesantren menuju unit usaha yang terletak di areal persawahan milik pesantren ini.

Sesampai di lokasi, terlihat satu unit kandang ayam berkonstruksi panggung seluas 8×90 meter yang dibangun atas bantuan dari Bank Indonesia senilai Rp 137 juta ini. Selain itu, ada 5 orang “anak kandang” yang notabene santri terlihat sedang sibuk membersihkan kandang dan memberi makan 5.500 ekor ayam di dalamnya.

“Di luar kandang dan anak kandang, usaha ternak ayam ini merupakan bentuk kerjasama PT SMS dengan pesantren Nurul Huda. Semua kebutuhan ternak disiapkan oleh perusahaan mulai dari bibit, pakan, obat-obatan, dan pemasaran”, ujar Suryanto menyinggung bentuk kerjasama usaha ini.

Ditambahkannya, hingga saat ini siklus usaha peternakan ayam tersebut sudah berlangsung 4 putaran dan rata-rata menguntungkan. Putaran pertama menghasilkan Rp 16 juta, putaran kedua Rp 1,5 juta, dan putaran ketiga sebesar Rp 10 juta.

“Untuk putaran keempat belum tahu karena belum panen dan usia ayam ini masih sekitar 20 hari. Kalau untuk sekali siklus mulai dari pemeliharaan, penjualan, dan penyiapan kandang untuk pengisian DOC ayam ternak baru butuh waktu 2,5 bulan”, terangnya.

Sejauh ini, imbuhnya lebih lanjut, tidak ditemukan kendala dalam pengelolaan usaha ternak ayam potong tersebut. Sebab, selain semua kebutuhan ternak terpenuhi, pihak perusahaan juga secara rutin mengirim pengawas atau penyuluhnya setiap satu minggu sekali atau maksimal satu bulan sekali untuk memonitor dan memastikan usaha peternakan ini berjalan dengan baik.

Foto bersama Pengurus Yayasan Ponpes Nurul Huda dan PU Sumselupdate.com

 

Dewan Pengawas Yayasan Sirojul Muntolib, M.Pd.I yang turut serta dalam peninjauan lokasi usaha itu mengapresiasi langkah pengurus Yayasan Ponpes Nurul Huda dalam upaya mewujudkan kemandirian pondok pesantren dan penguatan life skill para santrinya.

“Usaha produktif yang telah dijalankan Pengurus Ponpes Nurul Huda ini sangat positif dalam rangka membuat pesantren ini mandiri, sekaligus untuk melahirkan alumni santri yang berjiwa wirausaha. Kita akan mendukung berbagai bentuk inovasi usaha yang dijalankan pengurus yayasan”, ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda, H. M. Tasdiq menambahkan jenis usaha lain yang saat ini dikelolanya. Menurutnya, pihaknya juga mengelola perkebunan sawit seluas 9 hektar, kebun karet sekitar 4 hektar, perikanan, BAZIS, KBIH, dan Kopontren.

“Hasil usaha ini untuk membantu operasional penyelenggaraan pendidikan pesantren. Sebab jika hanya mengandalkan dana BOS, itu tidak cukup”, jelasnya.

Tasdiq menambahkan, terkait pelibatan para santri dalam pengelolaan usaha pesantren itu sifatnya membantu dan tidak sampai mengganggu aktivitas belajarnya.

“Dengan menerapkan pola giliran kerja (shift), santri bisa tetap belajar sambil bekerja. Yang jelas, mereka akan memiliki wawasan dan pengalaman berwirausaha yang insya Allah bermanfaat bagi kehidupannya kelak setelah lulus dari pesantren”, pungkasnya.

Terik matahari terasa menyengat siang itu. Sembari menanti waktu dzuhur tiba, para pengurus Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda pun berbaik hati menawari Pemimpin Umum Sumselupdate.com untuk memetik dan meminum dogan di halaman salah satu asrama yang lokasinya tak jauh dari kawasan peternakan itu. Namun, karena harus segera beranjak ke Kota Martapura, tawaran itu belum gayung bersambut.

“Terimakasih atas tawarannya Pak Kyai. Insya Allah di lain waktu, saya bisa berkesempatan lagi ke sini dan menikmati segarnya air dogan di pesantren ini”, ujar Solehun pamit. (shn)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts