Palembang, Sumselupdate.com- Seiring dengan semakin tingginya kebutuhan masyarakat akan kebutuhan protein hewani, profesi peternak pun kian dilirik oleh warga. Hal ini pula yang mendorong Darpin (52), warga Rt 8 Rw 3 Kelurahan Karya Baru Kecamatan Alang Alang Lebar, tepatnya di belakang Perumahan Paradise Talang Buruk, Palembang, menjadi peternak kambing sejak kurang lebih dua puluh tahun yang lalu.
“Saya memilih usaha beternak kambing karena modalnya tidak terlalu besar dan perwatannya gampang. Selain itu, pemasarannya mudah, banyak pembeli datang langsung ke sini,” ujar Darpin kepada sumselupdate.com, di sela-sela aktivitas memeriksa kondisi kambingnya di kandang yang berada sekitar 15 meter dari rumahnya, Sabtu (3/9) sore.
Darpin pun panjang lebar bercerita sejarah perkembangan usaha ternaknya. Menurutnya, keputusannya beternak kambing diambil sejak kurang lebih dua puluh tahun lalu. Itu diambil setelah hasil pekerjaanya yang saat itu bertanam sayuran dan sebagi kuli bangunan dirasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Saat mulai beternak dulu, saya pelihara lima ekor kambing, satu jantan dan empat betina, dengan kandang seadanya,” kenangnya.
Seiring waktu, lanjutnya, usahanya pun terus maju. Kandang miliknya kian besar dan jumlah kambingnya mencapai puluhan ekor. Hasil usahanya ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kehidupan kepala keluarga yang memiliki lima anak ini, termasuk untuk membiayai kuliah salah satu anaknya.
Pantauan di lapangan, kandang kambing milik Darpin terdiri atas dua blok. Masing-masing blok terdiri atas 6 log, yang di setiap lognya diisi rata-rata 4-6 ekor kambing.
“Saat ini di kandang ada sekitar 70 ekor kambing. Ada beberapa ekor yang sudah layak jual. Kita jual jika ada pembeli yang datang dan harganya cocok”, terang Darpin.
Cerita soal pakan, Darpin menyebut secara umum masih bergantung pada pakan alami yakni dengan mencarikan rumput yang banyak tersedia di sekitar lokasi. Selain itu, untuk makanan tambahan, diselingi dengan pemberian pakan konsentrat dari ampas tahu yang dicampur garam dan cairan vitamin.
“Pemberian pakannya seperti memberi makan manusia, minimal tiga kali sehari. Cirinya, jika kambing ribut mengembek, itu tandanya minta makan,” jelasnya.

Soal perawatan, juga disebut Darpin sebagai faktor penting keberhasilan beternak. Selain kebersihan kandang, peternak juga harus rajin mencermati gejala yang dialami kambing.
“Misalnya, ada kambing yang tidak mau makan, pucat, atau malas berdiri, itu pasti ada masalah. Kita harus cepat mengatasinya dan memberikan obat untuk yang sakit. Untuk kasus penyakit kambing yang kita tidak paham, biasanya saya minta tolong dokter atau mantri hewan untuk memeriksa dan mengobatinya”.
“Intinya, kambing itu pada dasarnya juga mahluk bernyawa, maka kunci sukses beternak sebenarnya bagaimana kita bisa memperlakukannya seperti manusia. Sebagai contoh, pernah ada induk kambing yang tidak mau menyusui anaknya (cempe), maka saya beri cempe itu dengan susu pengganti yang dimasukkan ke botol dot, layaknya memberi susu ke bayi”, kenangnya.
Meski jumlah kambingnya mencapai puluhan ekor, tetapi dari dulu Darpin tidak merekrut karyawan, cukup ditangani sendiri dengan dibantu oleh istri dan anak-anaknya.
Diakui Darpin, selama ini pembeli kambingnya berasal dari mana-mana. Ada yang untuk keperluan aqikah, qurban, sate, ataupun konsumsi lain seperti untuk bayar nazar dan ada yang untuk keperluan konsumsi pribadi.

“Menyambut Idul Adha, sekarang di kandang ada 9 ekor kambing siap untuk qurban. Harganya antara Rp 3 juta sampai 4 juta per ekor,” tambah Darpin saat disinggung kesiapannya menyambut momentum Idul Adha 1437 H.
Lesunya ekonomi masyarakat saat ini, ternyata juga dirasakan para peternak kambing seperti Darpin. Meski Idul Adha tinggal menghitung hari, namun pasaran hewan qurban, baik sapi ataupun kambing, masih sepi. Padahal, pada tahun-tahun lalu, satu bulan atau setengah bulan menjelang hari raya qurban, permintaan sudah ramai.
“Kemarin sudah ada beberapa orang yang datang dan nawar kambing untuk qurban. Tapi jumlahnya tidak sebanyak tahun-tahun lalu. Mereka juga umumnya menawar dengan harga murah”, pungkasnya. (shn)











